16 Agustus 2019 | Dilihat: 6909 Kali
Mahasiswa Universitas Terbuka Demo
noeh21
 

HiTvBerita.comJAKARTA | Universitas Terbuka (UT) adalah Perguruan Tinggi Negeri ke-45 di Indonesia yang diresmikan pada tanggal 4 September 1984, berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 41 Tahun 1984. Dimana tujuan awal didirikannya UT adalah untuk memberikan kesempatan yang luas bagi warga negara Indonesia, di mana pun tempat tinggalnya, untuk memperoleh pendidikan tinggi, memberikan layanan pendidikan tinggi bagi mereka, yang karena bekerja atau karena alasan lain, tidak dapat melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi tatap muka, mengembangkan program pendidikan akademik dan profesional sesuai dengan kebutuhan nyata pembangunan yang belum banyak dikembangkan oleh perguruan tinggi lain.

Namun pada tahun 2019, UT bukan hanya diminati oleh para guru dan karyawan, melainkan juga anak muda kaum milenial yang bukan pekerja. Tentunya hal ini membuat UT punya calon mahasiswa yang berkualitas untuk meluangkan waktu, tenaga dan pikirannya untuk dunia Pendidikan Tinggi untuk mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang tertuang pada Undang-Undang No. 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi yaitu pada pasal 1 poin 9.

Semenjak dilantiknya Rektor baru UT beserta Jajaran pada Tahun 2017 kemarin, banyak masalah-masalah yang terjadi baik oleh kampus ataupun mahasiswa/i itu sendiri. Mulai dari kenaikan harga SUO yang mencapai hampir 90%, Sistem dan mekanisme Tuton cenderung seperti media sosial yang tidak mendidik dan mengembangkan potensi mahasiswa serta jauh dari tujuan pendidikan tinggi yang tertera pada pasal 5 Undang-Undang No. 12 Tahun 2012.

Transparansi Nilai, pengistimewaan mahasiswa yang mengikuti TTM dengan yang tidak, Penambahan Uang Registrasi Mahasiswa baru sebesar Rp.100.000.,- yang sebelumnya di gratiskan dan pengiriman modul yang tidak tepat waktu sehingga menghambat proses pembelajaran mahasiswa. Hal ini tidak memberikan dampak positif bagi mahasiswa yang ada hanya merugikan baik dari segi akademik maupun ekonomi serta masa depan mahasiswa/i UT di masa mendatang.

Kenaikan harga SUO yang hampir 90% dari harga Rp.80.000,- menjadi Rp.150.000,- bukanlah solusi dalam meningkatkan layanan, tapi kenyataannya tidak semua mahasiswa dapat mengikuti SUO tersebut. Hal ini sangatlah jelas bahwa Jajaran Menagement kampus UT dan Rektor beserta Jajaran Warek lebih dibawa kearah corporate dan kapitaliasi yaitu sebagai ladang sumber pencetak uang yang merugikan mahasiswa dan baik sebagai Perguruan Tinggi yang mencetak Mahasiswa Siap Pakai untuk Kemajuan Bangsa dan Negara Kedepan Lebih Baik.

Selain itu, Sistem dan Mekanisme Proses cara belajar mengajar seperti Tutorial Online layaknya media sosial dan tidak adanya penjelasan Modul BAB per BAB. Maka hal tersebut sama sekali bukan sistem yang baik dalam menigkatkan kualitas mahasiswa dan hal itu sangat jauh dari standar pendidikan nasional. Karena ujung-ujungnya dosen/tutor menilai mahasiswa dari statistika keaktifan mahasiswa mengakses dan mengupload konten yang tidak berkualitas yang jauh dari standar pendidikan Mahasiswa pada umumnya.

Lain dari itu, Buku saku yang diterima oleh mahasiswa/i baru ketika memabayar registrasi sebesar Rp.100.000,- yang dulunya di gratiskan sangatlah merugikan mahasiswa, karena hal apa yang dijelaskan di buku saku sudah dijelaskan di dalam katalog. Kondisi ini diduga adanya Mark Up dan adanya mafia penjualan dan pencetakan buku dalam mencari keuntungan di dalamnya.

Maka sudah tentu bahwa Universitas Terbuka sebagai perguruan tinggi solusi untuk generasi bangsa tidak sesuai dengan Visi UT yaitu untuk Menjadi perguruan tinggi terbuka dan jarak jauh (PTTJJ) berkualitas dunia. Tidak mungkin UT bisa menjadi Perguruan Tinggi terbuka jika kenaikan-kenaikan biaya kuliah terus dilakukan sedangkan banyak dari mahasiswa UT adalah mahasiswa dengan tingkat perekonomian menengah kebawah, tidak mungkin UT menjadi Perguruan Tinggi jarak jauh yang berkualitas dunia jika fasilitas dan harapan sebagai PT pencetak generasi siap pakai yang diterima jauh dari standar pendidikan nasional dan tujuan dari pendidikan tinggi.

Kebebasan Berkumpul dan Berserikat yang telah ditetapkan oleh UUD 1945 Pasal 28I dimanfaatkan dengan baik oleh mahasiswa/i UT untuk bisa saling berbagi  dan membatu satu sama lain untuk meningkatkan akademiknya. Namun kelompok- kelompok belajar yang dibentuk oleh mahasiswa/i itu sendiri tidak mendapat dukungan sehingga menurunkan semangat mahasiswa/i. Jika kelompok kecil saja tidak didukung apalagi sekelas organisasi baik internal maupun ekternal. Kondisi ini diduga jajaran Rektorat UT yang Baru ini Mengabaikan keputusan Kemen Ristek Dikti Nomor 55 Tahun 2018 yakni tentang UKM PIB.

Tentu kita sebagai Mahasiswa perlu memandang bahwa hal tersebut diatas sebagai problematika yang sudah kronis yang perlu di amputasi. Karena tidak sesuai dengan fasilitas dan Harapan Pendidikan kemajuan Nasional yang di duga lebih Mengkapitalisasi program-program yang tak seharusnya dilakukan. Dan masih banyak lagi problem yang menjadi tanggung jawab kita semua sebagai mahasiswa.

Tuntutan:

Meminta Rektor dan Jajaran Wakil Rektor Universitas Terbuka untuk mundur dari jabatannya yang terindikasi Mengkapitalisasi dan melakukan konspirasi menjadikan Universitas Terbuka sebagai ladang Mencari Keuntungan Pribadi.

Meminta Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Umum UT untuk mundur dari jabatannya karena terindikasi mencari Keuntungan dari Program-Program Kegiatan UT (Pengadaan Buku Panduan Untuk Mahasiswa Baru dan Penambahan Pengadaan Fasilitas UT di daerah)
Menolak Kenaikan SUO (Sistem Ujian Online) yang hampir 90 % dari harga sebelumnya yaitu dari Rp.80.000,- menjadi Rp.150.000,- yang terindikasi pihak jajaran UT hanya mencari keuntungan.

Meminta kepada Jajaran Rektor dan Warek UT untuk bertanggung Jawab Terhadap Prioritas Tingkat Kualitas Ke-LULUSAN yang didapat Mahasiswa/I UT yang tidak sesuai dengan pasal 5 UU No. 12 Tahun 2012.

Meminta pertanggung jawaban Rektor Universitas Terbuka terhadap pengajaran Tutorial Online yang jauh dari standar Pendidikan Tinggi.
Meminta pertanggungjawaban Rektor Universitas Terbuka dengan adanya pengistimewaan terhadap mahasiswa yang mengikuti TTM dengan di janjikan total nilai yang didapat 50 % (Hal tersebut terindikasi sama dengan jual beli nilai).

Meminta pertanggungjawaban Rektor UT terkait dosen/tutor yang perbandingannya dengan mahasiswa melebihi kapasitas yang telah diatur oleh UU No. 12 Tahun 2012.

Meminta pertangggungjawaban Rektor Universitas Terbuka terkait transparansi nilai atas problem nilai E terhadap kontribusi TUTON sebesar 30 %, TTM 50 % kepada Nilai UAS.

Meminta pertanggungjawaban Rektor UT terkait tidak adanya pelaksanaan Permenristekdikti No. 55 Tahun 2018 tentang UKM PIB.

Mendesak Kemenristekdikti untuk meninjau dan mencabut kembali SK Rektorat UT karena Rektor dan Jajaran Rektor UT diduga melakukan asas pemanfaatan jabatan.

Mendesak kepada Kemenristekdikti untuk meninjau ulang fasilitas dan kegiatan belajar mengajar secara langsung baik TUTON, TTM dan UAS UT.

Mendesak kepada BAN-PT untuk lebih proaktif meninjau dan menilai sistem belajar mengajar serta fasilitas yang diberikan oleh pihak Management UT kepada Mahasiswa/I UT.

Mendesak Kementerian Ristekdikti Memanggil dan Memecat Rektor dan Jajaran Warek UT yang terindikasi Menjadikan kampusT Univ. Terbuka sebagai ladang usaha dalam mecari keuntungan dan terindikasi melanggar pasal 5 Undang-Undang No. 12 Tahun 2012.

SYAUQI/CARDY

Alamat Redaksi/ Tata Usaha

GRAHA HIJRAH INSANI
Jalan Poncol, Gang Koperasi RT.003/ RW. 007
Kelurahan Ciracas, Kecamatan Ciracas,
Jakarta Timur 13740
Telp. 021-22328077