16 Mei 2020 | Dilihat: 5750 Kali
Jadi Topik Perbincangan Hangat, Begini Kronologi Penjemputan Paksa Terhadap DPS Pasien Positif Covid-19 di Parapat
noeh21
Saat DPS pasien Positif Covid-19 dijemput paksa Petugas Gugus Tugas dikawal Polisi (dok.foto.Fendy Bakkara)
 

HITVBERITA.com, Parapat| DPS (36), seorang Ibu Rumah Tangga (IRT), pasien positif covid-19 ini jadi topik pembicaraan hangat setelah dirinya dijemput paksa oleh Petugas Gugus Tugas Penaganan Covid- Simalungun dengan pengawalan Polisi dari Huta Bornok Parapat, Lingkungan II, (belakang terminal) kelurahan Parapat, Kabupaten Simalungun, Jumat (15/5/2020), kemarin.

Mirisnya sejumlah Akun FB yang membuat siaran langsung saat kejadian tanpa narasi atau Caption  yang seharusnya  disampaikan supaya para  'pemirsanya' tak sembarang oceh atas upaya dengan jerih  payah Tim Gugus ( GTPP ) Pemkab Simalungun bersama Polres Simalungun, TNI, Dishub, Satpol PP, Penatua Marga Sidabutar, Rohaniawan Gereha HKI Parapat, Tim Medis RSU Parapat, Puskesmas Parapat dan Uspika Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, beberapa kali telah dilakukan tindakan pendekatan ( Persuasif ) hingga berujung dengan cata  menjemput paksa DP br Sidabutar (DPS) Ibu Rumah tangga berusia 36 dari kediaman orangtuanya di Huta Bornok Parapat, Lingkungan II, (belakang terminal) kelurahan Parapat Kabupaten Simalungun, Jumat (15/5/2020), kemarin.

Baca juga: Detik-detik Proses Penjemputan Paksa Pasien Positif Covid-19 di Parapat Libatkan Polisi

Sebahagian besar warga yang merasa was-was atas adanya kejadian ini bahkan ada yang mencela hingga salaj seorang warga Parapat BT menuliskan kronologis mengapa DPS sampai harus dijemput paksa pada  Jumat lalu, menurut BT kronologis dari hari Senin 27 April 2020 diperkampungan tersebut melalui Tim Gugus Pemkab Simalungun melakukan rapid test , hasilnya ternyata beberapa warga diantaranya  JS reaktif, oleh petugas Gugus menyarankan JS dan keluarga agar di isolasi ditempat yang telah ditentukan team tersebut.

Namun JS dan keluarga sangat sulit menerimanya dan tidak mau di isolasi, akan tetapi atas saran dari team dan Uspika serta para Medis akhirnya dapat diterima  JS dan keluarga dan sejak hari itu baik JS, HS (istri JS) DPS dan anak DPS/Cucu JS  diisolasi bersama di tempat yang sudah disediakan, dulu eks bangunan Mess Pemda Simalungun.

Sebenarnya, mengapa mereka sempat dipulangkan dari tempat Isolasi sebelum hasil Swab keluar dari instansi yang lebih berwewenang ?.

Informasinya,  isolasi sudah berjalan hingga hari ke 12 mereka yang diremcanakan hingga 14 hari  diberi perawatan sesuai standart dengan baik, plus proses pemeriksaan berjalan secara intensif, akan tetapi  istri JS (Hbr Sinaga) kerab meronta dan kepada medis disana mengatakan , jika mereka tidak segera dipulangkan kerumahnya, maka  dia akan bunuh diri, dan banyak lagi sebenarnya apa yang disampaikannya dan diceritakan oleh Tim medis kepada pimpinannya di RSU IGD Parapat.

Lalu oleh Pimpinan IGD Parapat akhirnya memperkenankan mereka pulang pada hati Senin ( 11/ 5/2020 ) dengan sejumlah syarat, selain tidak boleh bepergian kemana-mana alias Instalasi mandiri , mereka  juga menanda tangani surat pernyataan dikala hasil Ravid Test nantinya keluar pada tanggal 14 Mei, dan ada yang dinyatakan "Positif Covid - 19 agar bersedia  dijemput dan diisolasi kembali, surat itu ditanda tangani diatas kertas bermaterai 6000,  namun saat hari Kamis (14/5/2020) turunnya surat bahwasanya  DPS dinyatakan Positif terpapar Virus tersebut  dia melawan petugas dan tidak mau dijemput, artinya surat yang ditanda tanganinya seolah diabaikan dan itulah yang tidak diketahui masyarakat luas.

Hari itu, Kamis 14 Mei 2020 hasil swab telah keluar dengan hasil DS positif covid - 19, hal tersebut diberitahukan kepada  dua orang menantu JS, yang kebetulan bekerja di RSUD/IGD Parapat (bukan medis), agar pernyataan yang telah disepakati itu dilaksanakan, sebab salah seorang diantara mereka dinayatakan Positif Covid-19, akan tetapi hingga malam hari di tanggal 14 Mei sampai pukul 20.00-22.00 Wib, team yang turun kerumah JS dengan tujuan untuk menjemput DPS dan keluarganya secara persuasif, supaya DS dibawa ke Rumah Sakit Penanganan Covid  Simalungun di Batu 20 Panombean Pane, dan keluarganya yang lain kembali di isolasi, akan tetapi  gagal dan bahkan memaki petugas.

Namun anak JS tidak berterima, bahkan mengancam petugas dengan senjata tajam,  mereka berdalih  minta hasil swab yang asli dan DPS minta agar dipertemukan langsung dengan Bupati Simalungun, hal tersebut tidak dapat terlaksana dan team kembali karena anak korban juga sudah mulai mengancam-ancam dan akhirnya pada Jumat (15/5/2020)  penjemputan oleh Tim Gugus dibantu Polwan dari Polres Simalungun dengan terpaksa melalukan hal ini, sebenarnya bila  DPS cepat tanggap dan menuruti rujukan medis tidak seheboh itu

Saat penjemputan pada Kamis sejak pukul 09.00-13.00 Wib berjalan alot, lalu setelah berhasil mengevakuasi DPS dan memasukkannya ke Ambulance, orang tua nya marah - marah serta melontarkan makian yang tak lajim, serta kata kata tak senonoh berulang-ulang kali. Harapan kami bagian Tim Gugus maupun  Pemerintah adalah untuk menjaga kesehatan kita bersama, kiranya dia (DPS) lekas sembuh karena paparan Covid - 19 ini bukanlah  aib akan tetapi adalah demi kenyamanan bersama. Ketus Warga bermarga Sinaga.

Penulis  :  Effendy Bakkara 
Editor    :  Taman Haloho
 

Alamat Redaksi/ Tata Usaha

GRAHA HIJRAH INSANI
Jalan Poncol, Gang Koperasi RT.003/ RW. 007
Kelurahan Ciracas, Kecamatan Ciracas,
Jakarta Timur 13740
Telp. 021-22328077