Pertemuan Tak Terduga di Makam Tuan Guru Sapat, Cik Ram dan Bupati Inhil Rajut Silaturahmi dalam Ziarah
- account_circle M. Saipul
- calendar_month 6 jam yang lalu
- print Cetak

Pertemuan Tak Terduga di Makam Tuan Guru Sapat, Cik Ram dan Bupati Inhil Rajut Silaturahmi dalam Ziarah. (dok/foto/Saipul)
Di bawah langit Sapat yang teduh, suasana hening menyelimuti kompleks makam Syekh Abdurrahman Sidiq—seorang ulama besar yang jejak dakwahnya masih terasa hingga kini.
INDRAGIRI HILIR, HITV —– Di tempat itulah, langkah seorang tokoh masyarakat dari Kabupaten Karimun, Ramlan atau akrab disapa Cik Ram, berhenti sejenak. Ia datang dengan satu niat sederhana: berziarah, menapaki jejak spiritual yang pernah ditorehkan sang ulama.
Namun, perjalanan yang semula bersifat personal itu berubah menjadi pertemuan yang tak terduga.
Di antara peziarah yang datang dan pergi, Cik Ram berpapasan dengan sosok yang tak asing baginya—Herman, Bupati Kabupaten Indragiri Hilir.
Diketahui keduanya bukan sekadar saling kenal, melainkan sahabat lama yang dipertemukan kembali oleh takdir, di tempat yang sarat makna religius.
“Saya memang berangkat dari Karimun untuk wisata religi. Tidak menyangka bisa bertemu sahabat lama di sini,” ujar Cik Ram, Jumat (10/4/2026), dengan nada yang masih menyimpan kehangatan pertemuan itu.
Makam di Sapat bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir. Di sanalah bersemayam seorang tokoh yang pernah mengemban amanah sebagai Mufti Kerajaan Indragiri pada 1919–1939, setelah diangkat oleh Sultan Mahmud Shah. Julukan “Tuan Guru Sapat” melekat erat, bukan hanya karena kedalaman ilmu agama yang ia ajarkan, tetapi juga karena perannya dalam mengembangkan perkebunan kelapa—membaurkan dakwah dengan kehidupan masyarakat setempat.
Tak heran, kawasan ini kini menjadi tujuan wisata religi yang terus hidup, didatangi peziarah dari berbagai daerah, termasuk para pemimpin daerah seperti Herman.
Di tengah kesunyian makam, pertemuan dua sahabat itu berlangsung sederhana. Tidak ada agenda resmi, tidak pula protokoler. Hanya obrolan ringan, saling bertukar kabar, dan doa yang dipanjatkan bersama.
“Kami hanya mengobrol santai, saling mendoakan,” kata Cik Ram.
Meski singkat, pertemuan itu meninggalkan kesan mendalam. Bagi Cik Ram, ada harapan yang terselip—bahwa silaturahmi tersebut bukan sekadar nostalgia, melainkan awal dari kemungkinan yang lebih luas.
Ia menyebut, Herman menunjukkan ketertarikan untuk berkunjung ke Karimun. Jika itu terwujud, bukan hanya hubungan personal yang terjalin, tetapi juga peluang bagi daerah untuk saling mengenal dan berkembang.
Di antara doa-doa yang terucap di makam sang ulama, terselip harapan akan keberkahan—bukan hanya untuk pribadi, tetapi juga bagi masyarakat yang mereka wakili. Sebuah pertemuan tak terencana, yang justru menghadirkan makna lebih dalam di perjalanan spiritual itu. (\•/)
Penulis: M. Saipul
Disunting ulang oleh AYS Prayogie
- Penulis: M. Saipul






Dalam menjalankan tugas jurnalistik di lapangan, wartawan HITV dilengkapi Surat Tugas dan ID Card yang masih berlaku dan namanya tercantum dalam Box Redaksi saat di scanning barcode.