Bukan Pemborosan, Ini Alasan di Balik Kebijakan Fiskal Ekspansif Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto
- account_circle Irma Windarti
- calendar_month Selasa, 10 Mar 2026
- print Cetak

Direktur Nalar Bangsa Institute, Bin Bin Firman Tresnadi. (dok/foto/Irma)
Yang lebih penting, kata dia, adalah memastikan belanja negara diarahkan untuk menghasilkan dampak struktural, seperti memperkuat produksi domestik, meningkatkan kualitas manusia Indonesia, dan mengurangi ketergantungan ekonomi pada faktor eksternal.
Di sisi lain, tekanan terhadap APBN juga tidak sepenuhnya berasal dari kebijakan domestik. Gejolak harga energi global, konflik geopolitik, serta dinamika ekonomi dunia turut memengaruhi stabilitas fiskal berbagai negara, termasuk Indonesia.
Karena itu, di tengah ketidakpastian global, yang dibutuhkan justru adalah konsolidasi nasional untuk mendukung agenda pembangunan yang tengah dijalankan pemerintah.
“Kritik tetap penting, tetapi seharusnya bersifat konstruktif dan memberikan perspektif solusi, bukan menimbulkan kesan seolah-olah negara sedang menuju krisis,” kata Bin Bin.
Menurut dia, perdebatan kebijakan memang diperlukan sebagai bagian dari proses demokrasi. Namun perdebatan itu seharusnya memperkuat arah pembangunan, bukan justru menciptakan kegaduhan yang dapat melemahkan kepercayaan publik terhadap agenda transformasi ekonomi nasional.
“Pembangunan adalah proses panjang yang membutuhkan kesabaran, konsistensi, serta dukungan bersama,” ujarnya.
Ia menambahkan, kontribusi pemikiran yang jernih dan berbasis solusi jauh lebih dibutuhkan daripada kritik yang hanya membangun narasi krisis tanpa konteks pembangunan yang utuh. (\•/)
Sumber: HITV Jakarta
- Penulis: Irma Windarti
- Editor: AYS Prayogie




Dalam menjalankan tugas jurnalistik di lapangan, wartawan HITV dilengkapi Surat Tugas dan ID Card yang masih berlaku dan namanya tercantum dalam Box Redaksi saat di scanning barcode.