Hajat Bumi Linggamukti, Tradisi Syukur yang Merekatkan Warga
- account_circle Raffa Christ Manalu
- calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
- print Cetak

Suasana perayaan Hajat Bumi Milangkala ke-45 Desa Linggamukti, merawat tradisi syukur yang melekatkan warga Purwakarta. (Dok/Foto/Raffa)
Hajat Bumi Milangkala ke-45 Desa Linggamukti menjadi lebih dari sekadar pesta rakyat. Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak cepat, tradisi tahunan masyarakat Desa Linggamukti, Kecamatan Darangdan, Kabupaten Purwakarta, itu kembali menegaskan akar budaya Sunda yang tetap hidup melalui rasa syukur, gotong royong, dan kebersamaan warga.
PURWAKARTA, HITV— Sejak pagi, Rabu (20/5), ruas jalan desa dipenuhi masyarakat yang antusias menyaksikan arak-arakan dongdang berisi hasil bumi. Aneka sayuran, buah-buahan, hingga padi hasil panen warga ditata menghias usungan yang diarak keliling kampung.
Di sepanjang perjalanan, warga berbaur dalam suasana penuh kekeluargaan, diiringi doa bersama dan pertunjukan seni tradisional yang menambah khidmat sekaligus semarak perayaan.
Tradisi Hajat Bumi yang diwariskan turun-temurun itu kembali diperingati bertepatan dengan Milangkala ke-45 Desa Linggamukti.
Bagi masyarakat setempat, hajat lembur bukan hanya seremoni adat, melainkan ungkapan syukur atas keberkahan hidup dan hasil bumi yang menjadi sumber penghidupan warga.
Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein menilai tradisi seperti Hajat Bumi memiliki makna penting dalam menjaga ingatan kolektif masyarakat terhadap sejarah dan perjuangan para leluhur desa.
Menurut dia, setiap prosesi dalam Hajat Bumi menyimpan nilai tentang kerja keras masyarakat agraris yang sejak dahulu menggantungkan hidup dari tanah dan alam sekitar.
“Bayangan cangkul yang membelah tanah, keringat yang membasahi dahi, dan semangat juang yang membara tergambar jelas dalam setiap cerita yang terlontar,” ujar Om Zein.
Ia menegaskan, tradisi semacam ini perlu terus dirawat dan diperkuat di berbagai desa di Purwakarta. Selain menjadi ruang syukur bersama, Hajat Bumi juga dinilai mampu menjaga kohesi sosial masyarakat di tengah perubahan zaman.
Kepala Desa Linggamukti Toto Iskandar mengatakan, kegiatan tersebut rutin digelar setiap tahun sebagai bentuk rasa syukur masyarakat atas limpahan hasil panen sekaligus upaya mempertahankan warisan budaya lokal.
“Dongdang hasil bumi yang diarak keliling desa menjadi simbol kebersamaan masyarakat. Semua warga terlibat dan merasakan kegembiraan yang sama,” kata Toto.
Menjelang malam, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan hiburan rakyat di Lapangan Linggajati. Ribuan warga memadati lokasi acara untuk menikmati pertunjukan seni dan hiburan tradisional yang menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Hajat Bumi.
Di balik kemeriahan itu, Om Zein mengingatkan pentingnya generasi muda memahami perjuangan para pendahulu yang membangun desa dengan keterbatasan alat, tetapi kaya akan semangat gotong royong dan persaudaraan.
Baginya, Hajat Bumi bukan hanya tentang menjaga tradisi, melainkan juga merawat identitas budaya masyarakat Sunda agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Melalui perayaan itu pula, masyarakat Linggamukti menunjukkan bahwa tradisi dapat menjadi perekat sosial yang menyatukan warga dalam satu rasa syukur, satu kebersamaan, dan satu penghormatan kepada warisan leluhur yang patut terus dijaga. (\•/)
Editor: AYS Prayogie
Sumber: HITV Jabar
- Penulis: Raffa Christ Manalu





Dalam menjalankan tugas jurnalistik di lapangan, wartawan HITV dilengkapi Surat Tugas dan ID Card yang masih berlaku dan namanya tercantum dalam Box Redaksi saat di scanning barcode.