Minggu, 1 Mar 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Jejak Panjang Pendidik Nusantara

Jejak Panjang Pendidik Nusantara

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sabtu, 22 Nov 2025
  • visibility 140
  • print Cetak

Oleh: Zulfahmi Arsun

Dari PGHB ke PGRI: Warisan Perjuangan Guru yang Tak Pernah Padam

Di ruang kelas mana pun di Indonesia hari ini, selalu ada sosok yang berdiri paling awal dan pulang paling akhir—guru. Sering kali mereka hadir dalam senyap, tanpa sorotan, mengerjakan tugas yang tidak pernah tuntas. Namun jarang kita mengingat bahwa profesi ini tumbuh dari sejarah panjang yang penuh ketidakadilan, perlawanan, dan kesadaran kolektif. Perjalanan itu dimulai jauh sebelum Republik berdiri, ketika lembaga pendidikan kita masih berada di bawah bayang-bayang kolonial.

Awal Abad 1900-an: Ketika Guru Pribumi Dibeda-bedakan

Pemberlakuan Politik Etis pada 1901 membuka akses pendidikan bagi kaum bumiputra. Dari kebijakan itulah lahir profesi guru modern—tetapi tidak berdiri pada tanah yang setara. Guru pribumi kala itu menerima upah lebih rendah, akses promosi terbatas, bahkan sering dipandang sebatas tenaga pembantu pendidikan, bukan pendidik penuh seperti guru Eropa.

Kondisi timpang ini menumbuhkan kegelisahan kolektif. Para guru pribumi menyadari bahwa ilmu yang mereka ajarkan tidak akan cukup jika martabat profesinya sendiri terus direndahkan.

Pada titik inilah sebuah langkah bersejarah dimulai.

1 Januari 1912: PGHB dan Kesadaran Membela Martabat

Di Magelang, 1 Januari 1912, sejumlah guru bumiputra mendirikan Persatuan Goeroe Hindia Belanda (PGHB). Organisasi ini dipimpin Karto Hadi Soebroto dan Dwidjosewojo. Dengan sederhana namun tegas, mereka menegaskan misi: memperjuangkan nasib guru, meningkatkan mutu pendidikan, dan membangun solidaritas sesama pendidik.

PGHB tidak berhenti pada wacana. Mereka merancang perlindungan sosial bagi guru dengan membentuk Onderlinge Levensverzekering Maatschappij PGHB, cikal bakal Asuransi Bumi Putera.

Untuk masa itu, langkah ini bukan hanya progresif—melainkan revolusioner. Guru pribumi untuk pertama kalinya memiliki jaminan masa depan.

Pertumbuhan PGHB pesat. Pada rapat besar di Yogyakarta, 24–26 Agustus 1912, pemerintah kolonial memberikan legalitas, memperluas ruang gerak organisasi, dan memungkinkan PGHB menerbitkan buku ajar serta media internal. Menjelang akhir tahun itu, 1.427 guru dari 25 cabang telah bergabung.

Di ruang-ruang kelas, guru menjadi pembawa kesadaran baru. Nasihat dan pelajaran mereka perlahan menumbuhkan bibit nasionalisme pada generasi muda bumi putra.

Surakarta, 1945: Guru Menyatukan Barisan untuk Republik

Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, para guru memahami bahwa republik yang baru lahir membutuhkan pondasi utama: pendidikan. Banyak organisasi guru telah berdiri sebelumnya, namun terpisah oleh garis kolonial dan kategori sosial.

Pada 24–25 November 1945 di Surakarta, berbagai organisasi guru berkumpul dan melebur menjadi satu tubuh bernama Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Untuk pertama kalinya, guru berdiri sebagai profesi yang utuh—tanpa memandang ras, agama, status sosial, maupun asal organisasi.

Jika PGHB adalah gerakan kesadaran, maka PGRI adalah gerakan persatuan. Keduanya membentuk tulang punggung sejarah pendidikan Indonesia.

Keppres 78/1994 dan Makna 25 November

Barulah pada Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994, pemerintah menetapkan 25 November sebagai Hari Guru Nasional—tanggal yang diselaraskan dengan lahirnya PGRI.

Penetapan ini bukan sekadar penanda kalender, melainkan pengakuan negara atas perjalanan panjang guru sebagai pilar pembentukan bangsa.

Namun peringatan ini selalu menyisakan pertanyaan yang harus kita jawab dengan jujur: apakah penghormatan kita pada guru hanya berhenti pada upacara dan slogan?

Tantangan Kini: Menghadirkan Kembali Semangat 1912

Seratus lebih tahun sejak PGHB berdiri, tantangan guru berubah tetapi esensinya sama: kesenjangan, beban administrasi berlebihan, infrastruktur yang belum merata, dan kesejahteraan yang kerap tertinggal.

Prinsip kesetaraan dan martabat yang dahulu diperjuangkan PGHB—dan diperkuat PGRI— masih relevan hingga hari ini.

Guru menghadapi tuntutan baru: digitalisasi, perubahan karakter murid, integritas profesi, hingga tantangan moral di tengah arus media sosial. Tetapi harapan masyarakat terhadap guru tetap sama: mereka diminta tidak hanya mengajar, tetapi juga membentuk karakter, merawat kebhinekaan, menjaga masa depan.

Maka pertanyaannya bukan lagi “apa yang sudah diberikan guru?”, tetapi “apa yang sudah kita berikan kepada guru agar mereka mampu menjalankan tanggung jawab itu?”

Penutup: Api Pengabdian yang Tidak Pernah Padam

Sejarah 1912 dan 1945 menunjukkan satu hal penting: profesi guru tumbuh bukan dari kenyamanan, melainkan dari perjuangan. Ia dibangun dengan keberanian menolak diskriminasi, keberanian bersatu, dan keberanian menjaga martabat profesi.

Hari ini, ketika sebuah nama dipanggil di depan kelas—”Ibu Guru”, “Bapak Guru”—kita tengah menyapa pewaris sejarah panjang itu.

Kita bisa merayakan Hari Guru Nasional dengan bunga, ucapan, atau seremoni. Tetapi penghargaan yang sesungguhnya adalah memastikan semangat PGHB tetap hidup: memperjuangkan martabat guru, menguatkan organisasi profesi, dan menempatkan pendidikan sebagai jantung pembangunan nasional.

Di tangan para gurulah, masa depan Indonesia dirajut pelan-pelan—dengan kesabaran, keteguhan, dan pengabdian yang tak pernah padam. (/*/*/)

Penulis adalah Kepala Perwakilan Redaksi Portal Berita HITVberita.com Provinsi Riau – Tinggal di Kabupaten Indragiri Hilir

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Semangat Lari dan Pengabdian: Kapolres Lingga Apresiasi Personel di Ajang Merdeka Run 7K

    Semangat Lari dan Pengabdian: Kapolres Lingga Apresiasi Personel di Ajang Merdeka Run 7K

    • calendar_month Senin, 11 Agt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 29
    • 0Komentar

    Penulis: Ruslan LGA Udara pagi di halaman Mapolres Lingga, Senin (11/8/2025), terasa berbeda. Deretan personel berseragam rapi berdiri tegak, sementara di depan barisan, Kapolres Lingga, AKBP Pahala Martua Nababan, SH, SIK, MH, memegang piagam penghargaan. Senyum bangga tersungging ketika nama-nama personel berprestasi dalam ajang Merdeka Run 7 kilometer dipanggil maju satu per satu. HITVBERITA.COM | […]

  • Gelar Rapat Konsolidasi, Partai Golkar Targetkan 60 Persen Kemenangan di Pilkada 2024

    Gelar Rapat Konsolidasi, Partai Golkar Targetkan 60 Persen Kemenangan di Pilkada 2024

    • calendar_month Sabtu, 28 Sep 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 29
    • 0Komentar

    Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia pimpin rapat konsolidasi partai dalam menyongsong Pilkada Serentak 2024. (dok/foto/rcm) HiTvBerita.COM | BANDUNG BARAT – Partai Golkar targetkan 60 persen kemenangan di Pilkada 2024 di 27 kabupaten/kota se-Jawa Barat. Maka dari itu, Partai Golkar menyiapkan inovasi adaptif untuk meraih suara selain dari pemilih konvensional tapi bisa mendapat suara pula […]

  • Polres Lingga Dukung Ketahanan Pangan Lewat Gerakan Pangan Murah

    Polres Lingga Dukung Ketahanan Pangan Lewat Gerakan Pangan Murah

    • calendar_month Jumat, 8 Agt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 28
    • 0Komentar

    Penulis: Ruslan LGA Kepolisian Resor (Polres) Lingga ambil bagian dalam Gerakan Pangan Murah Serentak yang digelar di Jalan Makam Pahlawan, Kabupaten Lingga, Jumat (8/8/2025). Kegiatan ini merupakan bentuk dukungan Polri terhadap ketahanan pangan nasional dan upaya menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok menjelang peringatan HUT Ke-80 Kemerdekaan RI. HITVBERITA.COM | Lingga — Kegiatan berlangsung selama tiga […]

  • Polres Lingga Salurkan Bantuan untuk Warga Korban Angin Kencang di Desa Penaah

    Polres Lingga Salurkan Bantuan untuk Warga Korban Angin Kencang di Desa Penaah

    • calendar_month Kamis, 30 Okt 2025
    • account_circle Ruslan
    • visibility 27
    • 0Komentar

    Polres Lingga berkomitmen untuk terus mempererat hubungan harmonis antara Polri dan masyarakat melalui berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan. HITVBERITA.COM – LINGGA | Sebagai wujud kepedulian terhadap warga yang tertimpa musibah, Polres Lingga menyalurkan bantuan sosial kepada Kiki Hariyanto, warga Desa Penaah, Kecamatan Senayang, Kabupaten Lingga, yang rumahnya rusak akibat tertimpa pohon kelapa saat angin kencang […]

  • Komisi IV DPRD Batam Serap Keluhan Warga soal Layanan Kesehatan lewat RDPU

    Komisi IV DPRD Batam Serap Keluhan Warga soal Layanan Kesehatan lewat RDPU

    • calendar_month Selasa, 3 Feb 2026
    • account_circle AYS Prayogie
    • visibility 137
    • 0Komentar

    Komisi IV DPRD Kota Batam menggelar Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) untuk membahas pelayanan kesehatan di Kota Batam, Selasa (3/2/2026). BATAM | HITV— Forum ini digelar sebagai respons atas beragam keluhan masyarakat, terutama pasien peserta BPJS Kesehatan, terkait layanan rumah sakit pemerintah maupun swasta. RDPU dipimpin Ketua Komisi IV DPRD Batam Dandis Rajagukguk, ST, dan […]

  • Bupati Barru: Mattojang, Ayunan Tradisi yang Menjaga Kebersamaan

    Bupati Barru: Mattojang, Ayunan Tradisi yang Menjaga Kebersamaan

    • calendar_month Kamis, 11 Sep 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 38
    • 0Komentar

    Penulis: Syamsu Marlin Semarak budaya dan kearifan lokal kembali menggema di Kabupaten Barru. Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari, SH., M.Si, hadir langsung dalam pesta adat Mattojang dan Mappadendang yang digelar di Lapangan Monumen Nasional Desa Paccekke, Kecamatan Soppeng Riaja, Rabu malam 10/09/2025 HITVBERITA.COM | Barru – Dalam sambutannya, Bupati Barru mengungkapkan rasa bangga atas […]

expand_less