Rabu, 30 Sep 2026
light_mode

Jejak Panjang Pendidik Nusantara

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sabtu, 22 Nov 2025
  • print Cetak

Oleh: Zulfahmi Arsun

Dari PGHB ke PGRI: Warisan Perjuangan Guru yang Tak Pernah Padam

Di ruang kelas mana pun di Indonesia hari ini, selalu ada sosok yang berdiri paling awal dan pulang paling akhir—guru. Sering kali mereka hadir dalam senyap, tanpa sorotan, mengerjakan tugas yang tidak pernah tuntas. Namun jarang kita mengingat bahwa profesi ini tumbuh dari sejarah panjang yang penuh ketidakadilan, perlawanan, dan kesadaran kolektif. Perjalanan itu dimulai jauh sebelum Republik berdiri, ketika lembaga pendidikan kita masih berada di bawah bayang-bayang kolonial.

Awal Abad 1900-an: Ketika Guru Pribumi Dibeda-bedakan

Pemberlakuan Politik Etis pada 1901 membuka akses pendidikan bagi kaum bumiputra. Dari kebijakan itulah lahir profesi guru modern—tetapi tidak berdiri pada tanah yang setara. Guru pribumi kala itu menerima upah lebih rendah, akses promosi terbatas, bahkan sering dipandang sebatas tenaga pembantu pendidikan, bukan pendidik penuh seperti guru Eropa.

Kondisi timpang ini menumbuhkan kegelisahan kolektif. Para guru pribumi menyadari bahwa ilmu yang mereka ajarkan tidak akan cukup jika martabat profesinya sendiri terus direndahkan.

Pada titik inilah sebuah langkah bersejarah dimulai.

1 Januari 1912: PGHB dan Kesadaran Membela Martabat

Di Magelang, 1 Januari 1912, sejumlah guru bumiputra mendirikan Persatuan Goeroe Hindia Belanda (PGHB). Organisasi ini dipimpin Karto Hadi Soebroto dan Dwidjosewojo. Dengan sederhana namun tegas, mereka menegaskan misi: memperjuangkan nasib guru, meningkatkan mutu pendidikan, dan membangun solidaritas sesama pendidik.

PGHB tidak berhenti pada wacana. Mereka merancang perlindungan sosial bagi guru dengan membentuk Onderlinge Levensverzekering Maatschappij PGHB, cikal bakal Asuransi Bumi Putera.

Untuk masa itu, langkah ini bukan hanya progresif—melainkan revolusioner. Guru pribumi untuk pertama kalinya memiliki jaminan masa depan.

Pertumbuhan PGHB pesat. Pada rapat besar di Yogyakarta, 24–26 Agustus 1912, pemerintah kolonial memberikan legalitas, memperluas ruang gerak organisasi, dan memungkinkan PGHB menerbitkan buku ajar serta media internal. Menjelang akhir tahun itu, 1.427 guru dari 25 cabang telah bergabung.

Di ruang-ruang kelas, guru menjadi pembawa kesadaran baru. Nasihat dan pelajaran mereka perlahan menumbuhkan bibit nasionalisme pada generasi muda bumi putra.

Surakarta, 1945: Guru Menyatukan Barisan untuk Republik

Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, para guru memahami bahwa republik yang baru lahir membutuhkan pondasi utama: pendidikan. Banyak organisasi guru telah berdiri sebelumnya, namun terpisah oleh garis kolonial dan kategori sosial.

Pada 24–25 November 1945 di Surakarta, berbagai organisasi guru berkumpul dan melebur menjadi satu tubuh bernama Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Untuk pertama kalinya, guru berdiri sebagai profesi yang utuh—tanpa memandang ras, agama, status sosial, maupun asal organisasi.

Jika PGHB adalah gerakan kesadaran, maka PGRI adalah gerakan persatuan. Keduanya membentuk tulang punggung sejarah pendidikan Indonesia.

Keppres 78/1994 dan Makna 25 November

Barulah pada Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994, pemerintah menetapkan 25 November sebagai Hari Guru Nasional—tanggal yang diselaraskan dengan lahirnya PGRI.

Penetapan ini bukan sekadar penanda kalender, melainkan pengakuan negara atas perjalanan panjang guru sebagai pilar pembentukan bangsa.

Namun peringatan ini selalu menyisakan pertanyaan yang harus kita jawab dengan jujur: apakah penghormatan kita pada guru hanya berhenti pada upacara dan slogan?

Tantangan Kini: Menghadirkan Kembali Semangat 1912

Seratus lebih tahun sejak PGHB berdiri, tantangan guru berubah tetapi esensinya sama: kesenjangan, beban administrasi berlebihan, infrastruktur yang belum merata, dan kesejahteraan yang kerap tertinggal.

Prinsip kesetaraan dan martabat yang dahulu diperjuangkan PGHB—dan diperkuat PGRI— masih relevan hingga hari ini.

Guru menghadapi tuntutan baru: digitalisasi, perubahan karakter murid, integritas profesi, hingga tantangan moral di tengah arus media sosial. Tetapi harapan masyarakat terhadap guru tetap sama: mereka diminta tidak hanya mengajar, tetapi juga membentuk karakter, merawat kebhinekaan, menjaga masa depan.

Maka pertanyaannya bukan lagi “apa yang sudah diberikan guru?”, tetapi “apa yang sudah kita berikan kepada guru agar mereka mampu menjalankan tanggung jawab itu?”

Penutup: Api Pengabdian yang Tidak Pernah Padam

Sejarah 1912 dan 1945 menunjukkan satu hal penting: profesi guru tumbuh bukan dari kenyamanan, melainkan dari perjuangan. Ia dibangun dengan keberanian menolak diskriminasi, keberanian bersatu, dan keberanian menjaga martabat profesi.

Hari ini, ketika sebuah nama dipanggil di depan kelas—”Ibu Guru”, “Bapak Guru”—kita tengah menyapa pewaris sejarah panjang itu.

Kita bisa merayakan Hari Guru Nasional dengan bunga, ucapan, atau seremoni. Tetapi penghargaan yang sesungguhnya adalah memastikan semangat PGHB tetap hidup: memperjuangkan martabat guru, menguatkan organisasi profesi, dan menempatkan pendidikan sebagai jantung pembangunan nasional.

Di tangan para gurulah, masa depan Indonesia dirajut pelan-pelan—dengan kesabaran, keteguhan, dan pengabdian yang tak pernah padam. (/*/*/)

Penulis adalah Kepala Perwakilan Redaksi Portal Berita HITVberita.com Provinsi Riau – Tinggal di Kabupaten Indragiri Hilir

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Chan Hang Rawang Rao 2025 Latest Magnet

    Chan Hang Rawang Rao 2025 Latest Magnet

    • 1Komentar

    ➡ DOWNLOAD TORRENT Chan Hang Rawang Rao: directeur de Jirassaya Wongsutin. Avec Kirana Pipityaorn, Fatima DeChawalecul, Pakorn Chatborrirak, Wachirakon Raksasuwan. Le lien de police a été testé dans une chaleureuse connaissance de l’amour, de l’amitié et de la complexité de la vie. Chan Hang Rawang Rao 2025 gratuit et télécharger Chan Hang Rawang Rao 2025 […]

  • Pelatihan Management Masjid di Sukabumi

    Pelatihan Management Masjid di Sukabumi

    • 0Komentar

    Bertempat di MasjidAl-Mulk Kota Sukabumi, hari ini Sabtu 14 September 2024, menggelar Pelatihan Management Masjid, yang diikuti oleh 150 peserta. HiTvBerita.COM | SUKABUMI –  Kegiatan Pelatihan Manegement Masjid tersebut terselenggara atas kerjaama antara ikatan Da’i Indonesia (IKADI) Kota Sukabumi dan Masjid Al-Mulk, dengan mengusung tema “Kembalikan Masjid sebagai Pusat Peradaban Islam”. DALAM Pemaparannya Ustad Haidar […]

  • Simpan Sabu Di Pondok Kebun, Seorang Pemuda Berinisial DS Diringkus Sat Resnarkoba Bangka Tengah

    Simpan Sabu Di Pondok Kebun, Seorang Pemuda Berinisial DS Diringkus Sat Resnarkoba Bangka Tengah

    • 0Komentar

    HITVBERITA.COM BANGKA TENGAH | Sat Resnarkoba Polres Bangka Tengah mengamankan sebanyak 31 paketan sabu dari seorang pemuda berinisial DS. Pemuda berusia 20 tahun warga Desa Keretak Kecamatan Sungai Selan Kabupaten Bangka Tengah diringkus pada Rabu (17/7/24) sore. “Pelaku ditangkap pada saat berada disebuah Pondok Kebun bersama barang bukti sabu dan lainnya,”Kabid Humas Polda Bangka Belitung […]

  • Tim Visitasi Kompolnas Awards 2026: Polsek Meral Polres Karimun Dinilai Inovatif

    Tim Visitasi Kompolnas Awards 2026: Polsek Meral Polres Karimun Dinilai Inovatif

    • 0Komentar

    Berbagai inovasi pelayanan publik yang dikembangkan Polsek Meral, Polres Karimun, mendapat perhatian Tim Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Republik Indonesia. Tim tersebut melakukan visitasi dalam rangka penilaian Kompolnas Awards 2026, Jumat (22/8/2026). KARIMUN, HITV — Visitasi dilakukan untuk melihat secara langsung kualitas pelayanan kepada masyarakat, kesiapan sarana dan prasarana, sekaligus memastikan bahwa inovasi yang dijalankan kepolisian […]

  • Polsek Meral Tangani Dugaan Penganiayaan Ringan di Parit Benut

    Polsek Meral Tangani Dugaan Penganiayaan Ringan di Parit Benut

    • 0Komentar

    Polsek Meral memastikan tidak ada keterlibatan oknum anggota Polri dalam kasus dugaan penganiayaan ringan yang terjadi di Parit Benut, Kecamatan Meral, Kabupaten Karimun. KARIMUN | HITV – Polsek Meral, Polres Karimun, menangani kasus dugaan penganiayaan ringan yang terjadi di Parit Benut, Kecamatan Meral, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau. Peristiwa tersebut terjadi pada Minggu (11/1/2026) sekitar pukul […]

  • Keselamatan Tak Boleh Berpihak, Evaluasi Gerbong Wanita Mengemuka Pasca-Tabrakan di Bekasi

    Keselamatan Tak Boleh Berpihak, Evaluasi Gerbong Wanita Mengemuka Pasca-Tabrakan di Bekasi

    • 0Komentar

    Pemerintah menegaskan bahwa keselamatan transportasi publik harus ditempatkan di atas segala pertimbangan, termasuk pengaturan berbasis gender. BEKASI, HITV— Pernyataan itu mengemuka setelah insiden tabrakan antara kereta api jarak jauh dan KRL di Stasiun Bekasi Timur yang memicu sorotan terhadap posisi gerbong khusus wanita. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menilai […]

expand_less