YJGI dan YBCI Hadirkan Kepedulian Nyata bagi Pasien Cuci Darah di RSPAD Gatot Soebroto
- account_circle S. Erfan Nurali
- calendar_month 2 jam yang lalu
- print Cetak

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif RI, Irene Umar, saat menjenguk salah satu pasien untuk berikan dukungan semangat bahwa mereka tidak sendirian. (Dok/Foto/Erfan)
Kepedulian terhadap pasien gagal ginjal kembali ditunjukkan lewat aksi sederhana namun bermakna di RSPAD Gatot Soebroto, Rabu (13/5/2026).
JAKARTA, HITV— Aksi nyata tersebut dilakukan oleh Yayasan Jaga Ginjal Indonesia (YJGI) bersama Yayasan Berbagi Cahaya Imlek (YBCI) membagikan telur rebus kepada pasien hemodialisis atau cuci darah sebagai bentuk dukungan kesehatan sekaligus penguatan moral bagi para pejuang gagal ginjal kronis.
Kegiatan sosial itu berlangsung hangat. Sejumlah pasien yang tengah menjalani terapi dialisis tampak menerima bantuan sambil berbincang dengan relawan dan tenaga kesehatan. Di balik pembagian telur rebus tersebut, tersimpan perhatian terhadap persoalan serius yang dihadapi pasien gagal ginjal, yakni rendahnya kadar albumin yang dapat memengaruhi efektivitas terapi cuci darah.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif RI, Irene Umar, didampingi Kepala Komite Medik RSPAD Gatot Soebroto, Brigjen TNI dr. Jonny, Sp.PD-KGH, MKes, MM, DCN, saat berbincang dengan salah satu pasien. Kehadiran mereka menjadi dukungan moral bagi pasien yang harus menjalani terapi rutin seumur hidup. (Dok/Foto/Erfan)
Menurut Irene, suasana pelayanan di RSPAD meninggalkan kesan mendalam karena hubungan antara tenaga medis dan pasien terjalin sangat dekat.
“Ketika pasien bertemu dokter, wajah mereka langsung berbinar. Ini menunjukkan pelayanan dilakukan dengan hati,” ujar Irene.
Ia menilai suasana kekeluargaan di rumah sakit memberi energi positif bagi pasien untuk tetap kuat menjalani pengobatan. Keramahan tenaga kesehatan, kata dia, menjadi bagian penting dalam proses pemulihan pasien.
Tak hanya memberi perhatian pada aspek kesehatan, pemerintah juga mulai menyiapkan langkah pemberdayaan ekonomi bagi pasien gagal ginjal. Irene mengungkapkan pihaknya tengah merancang program ekonomi kreatif agar pasien tetap produktif dan memiliki penghasilan meski harus rutin menjalani terapi.
“Tujuannya agar mereka tetap mandiri dan tidak terpuruk secara ekonomi,” katanya.
Sementara itu, Pendiri Yayasan Berbagi Cahaya Imlek sekaligus Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Veronica Tan, menegaskan komitmennya untuk memperluas dukungan terhadap pasien gagal ginjal, terutama kelompok ibu dan anak yang membutuhkan perhatian khusus.
Pembina Yayasan Jaga Ginjal Indonesia, Anityo, mengatakan pembagian telur rebus telah menjadi kegiatan rutin yayasan sejak awal berdiri.
Program tersebut dilakukan setiap pekan sebagai upaya membantu meningkatkan asupan protein pasien sekaligus membangun ruang saling menguatkan di antara sesama penderita gagal ginjal.
“Bukan hanya soal makanan tambahan, tetapi juga bagaimana pasien bisa saling menyemangati dan tidak merasa sendirian,” ujarnya.
Langkah itu menjadi penting di tengah meningkatnya jumlah pasien gagal ginjal, termasuk pada anak-anak.
Di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, sekitar 60 anak tercatat rutin menjalani hemodialisis maupun CAPD. Sementara di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, sedikitnya 20 anak per bulan membutuhkan terapi cuci darah.
Data Ikatan Dokter Anak Indonesia wilayah Jawa Timur bahkan mencatat sekitar delapan hingga 10 anak per hari harus menjalani hemodialisis akibat gangguan ginjal.
Meningkatnya kasus gagal ginjal pada anak menjadi peringatan penting mengenai perlunya deteksi dini dan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Penanganan sejak awal dinilai dapat mencegah kerusakan ginjal berkembang menjadi kondisi berat yang membutuhkan terapi cuci darah seumur hidup. (\•/)
Editor: AYS
Sumber: HITV Jakarta
- Penulis: S. Erfan Nurali






Dalam menjalankan tugas jurnalistik di lapangan, wartawan HITV dilengkapi Surat Tugas dan ID Card yang masih berlaku dan namanya tercantum dalam Box Redaksi saat di scanning barcode.