Kedaulatan Ekonomi Rakyat, Jawaban atas Isu Serangan terhadap Indonesia
- account_circle Prof Dr Nandan Limakrisna, ST, MT
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

Oleh: Nandan Limakrisna
TULISAN berjudul “Diserang Habis-Habisan, Indonesia Tidak Jatuh” mengajak publik melihat Indonesia sebagai bangsa yang memiliki daya tahan tinggi dalam menghadapi berbagai tekanan, baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Pandangan tersebut layak diapresiasi karena mengingatkan kita bahwa Indonesia bukanlah negara yang mudah runtuh hanya oleh perubahan situasi global maupun derasnya berbagai narasi yang berkembang di ruang publik.
Namun, di balik optimisme itu, terdapat ruang diskusi lain yang tidak kalah penting untuk diperhatikan. Perspektif ini bukan dimaksudkan untuk membantah atau menegasikan pandangan tersebut, melainkan untuk memperluas cara pandang kita terhadap tantangan yang masih dihadapi perekonomian nasional.
Ketahanan suatu bangsa tidak hanya diukur dari kemampuannya bertahan menghadapi tekanan. Ketahanan yang sesungguhnya ditentukan oleh seberapa kuat fondasi yang menopang kemampuan bertahan tersebut.
Dalam konteks itulah muncul pertanyaan yang lebih mendasar.
Benar atau tidaknya ada “serangan terhadap Indonesia” sesungguhnya bukan persoalan utama. Pertanyaan yang lebih penting adalah mengapa Indonesia dapat terguncang hanya karena perubahan persepsi pasar. Mengapa satu laporan lembaga pemeringkat, satu artikel media internasional, atau satu gelombang arus keluar modal (capital outflow) mampu memicu gejolak pada nilai tukar rupiah dan pasar keuangan nasional?
Jawabannya terletak pada struktur ekonomi Indonesia yang hingga saat ini masih memiliki tingkat ketergantungan yang cukup tinggi terhadap faktor-faktor eksternal.
Selama pasar rakyat belum berkembang secara optimal, selama UMKM belum sepenuhnya menjadi tulang punggung perekonomian nasional, dan selama perputaran uang masih lebih dominan terjadi di sektor keuangan dibandingkan sektor riil, maka setiap guncangan global akan terasa besar dampaknya di dalam negeri.
Ketergantungan terhadap sentimen pasar, arus modal asing, dan persepsi investor menunjukkan bahwa fondasi ekonomi rakyat masih memerlukan penguatan yang serius dan berkelanjutan. Akibatnya, perubahan yang relatif kecil di luar negeri sering kali menimbulkan dampak yang cukup besar terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Karena itu, perdebatan mengenai ada atau tidaknya serangan asing tidak boleh mengalihkan perhatian kita dari pekerjaan utama bangsa ini, yaitu membangun kedaulatan ekonomi rakyat.
Kedaulatan ekonomi rakyat merupakan fondasi yang akan membuat Indonesia lebih tangguh menghadapi berbagai tekanan eksternal. Ketika masyarakat memiliki daya produksi yang kuat, pasar domestik yang sehat, serta jaringan ekonomi yang saling menopang, maka ketergantungan terhadap faktor-faktor eksternal akan semakin berkurang.
Dalam kerangka pemikiran tersebut, Snowball Business Model (SBM) menawarkan pendekatan yang menempatkan rakyat bukan hanya sebagai konsumen, tetapi juga sebagai produsen, pemasar, sekaligus penggerak ekonomi dalam satu ekosistem yang saling memperkuat.
Melalui model ini, pertumbuhan ekonomi tidak hanya bertumpu pada investasi besar atau pergerakan pasar modal, tetapi juga tumbuh dari aktivitas ekonomi masyarakat yang tersebar di berbagai daerah. Setiap pelaku usaha menjadi bagian dari mata rantai yang saling mendukung dan menciptakan nilai tambah bersama.
Jika ekonomi rakyat kuat, pasar domestik akan semakin kokoh.
Jika pasar domestik kokoh, daya tahan rupiah akan semakin kuat.
Jika rupiah kuat, Indonesia tidak perlu terlalu khawatir terhadap berbagai narasi maupun spekulasi yang berkembang di pasar global.
Sebab benteng ekonomi yang sesungguhnya tidak berada di lantai bursa atau pasar keuangan.
Benteng ekonomi yang sesungguhnya adalah rakyat yang produktif, sejahtera, inovatif, serta memiliki pasar yang kuat untuk menyerap hasil produksinya sendiri.
Pada akhirnya, kekuatan sebuah bangsa tidak ditentukan oleh seberapa tinggi indeks sahamnya atau seberapa besar arus modal yang masuk ke dalam negeri. Kekuatan bangsa ditentukan oleh kemampuan rakyatnya untuk memproduksi, berdagang, berinovasi, dan menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan di dalam negeri.
Ketika ekonomi rakyat menjadi tuan rumah di negerinya sendiri, Indonesia tidak hanya mampu bertahan dari berbagai tekanan global, tetapi juga mampu tumbuh dengan kekuatan yang bersumber dari dirinya sendiri.
Itulah hakikat kedaulatan ekonomi yang sesungguhnya. (\•/)
—–
Prof. Dr. Nandan Limakrisna, ST, MT adalah Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Persada Indonesia YAI (UPI YAI). Ia aktif mengembangkan kajian strategi bisnis, pemasaran, pemberdayaan UMKM, dan ekonomi berbasis komunitas. Melalui berbagai forum akademik dan tulisan ilmiah, ia memperkenalkan konsep Snowball Business Model (SBM) sebagai pendekatan untuk memperkuat ekosistem ekonomi rakyat dan meningkatkan kemandirian ekonomi nasional.
(Red/HITV)
- Penulis: Prof Dr Nandan Limakrisna, ST, MT





Dalam menjalankan tugas jurnalistik di lapangan, wartawan HITV dilengkapi Surat Tugas dan ID Card yang masih berlaku dan namanya tercantum dalam Box Redaksi saat di scanning barcode.