Minggu, 19 Apr 2026
light_mode

Dari “Hijau” ke Bencana: Ketika Kegelisahan Iwan Fals 1992 Menjadi Kenyataan di Aceh dan Sumatera

  • account_circle Zulfahmi Arsun
  • calendar_month Senin, 12 Jan 2026
  • print Cetak

Tragedi bencana alam yang terjadi Aceh dan Sumatera tak bisa dilepaskan dari perlakuan manusia terhadap alam—persis seperti yang disyaratkan Iwan Fals dalam kegelisahannya pada 1992. Penebangan liar menggerus tutupan hutan yang semestinya menjadi penyangga air dan tanah. (Dok/Foto/Hitv

“Hutan ku rusak,
Langit ku bocor,
Udara yang aku hisap tercemar,
Makanan yang aku makan racun.”
(Iwan Fals, Hijau, 1992)

RIAU | HITV – Tiga dekade silam, Iwan Fals menyuarakan kegundahan yang kala itu terdengar seperti protes moral. Hari ini, bait-bait lagu Hijau itu menjelma kenyataan yang pahit. Hutan yang rusak, langit yang “bocor”, udara yang kotor, hingga pangan yang tercemar, bukan lagi metafora—melainkan potret konkret dari krisis ekologis yang kini menghantam Pulau Sumatera.

Pada minggu terakhir November 2025, bencana alam bertubi-tubi melanda Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Cuaca ekstrem memicu banjir bandang dan tanah longsor, menelan korban jiwa serta memaksa ratusan ribu warga meninggalkan rumah mereka. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam konferensi pers Jumat (9/1/2026) mencatat, 1.182 orang meninggal dunia, sementara 238.687 warga mengungsi.

Di Aceh, luka itu masih terbuka. Hingga awal Januari 2026, pencarian korban hilang masih terus dilakukan seiring status Tanggap Darurat yang diperpanjang. Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, menetapkan perpanjangan tanggap darurat di empat kabupaten/kota—Aceh Tamiang, Aceh Tengah, Gayo Lues, dan Pidie Jaya—dari 8 hingga 22 Januari 2026. Sedikitnya 145 jiwa masih dinyatakan hilang, tertimbun longsor atau terseret arus banjir.

Kabupaten Gayo Lues dan Aceh Tenggara merupakan wilayah yang paling parah dan sering dilanda bencana alam, terutama banjir dan tanah longsor, di kawasan kaki Gunung Leuser. (Dok/Foto/Mazmin/Andi)

SEMENTARA itu, Sumatera Utara dan Sumatera Barat telah memasuki fase transisi darurat. Operasi pencarian korban hilang dihentikan, namun tim SAR tetap bersiaga, menandai bahwa ancaman bencana belum sepenuhnya berlalu.

Jika ditarik ke akar persoalan, tragedi ini tak bisa dilepaskan dari perlakuan manusia terhadap alam—persis seperti yang disyaratkan Iwan Fals dalam kegelisahannya pada 1992. Penebangan liar menggerus tutupan hutan yang semestinya menjadi penyangga air dan tanah.

Alih fungsi lahan untuk perkebunan dan tambang melemahkan daya serap lingkungan. Permukiman tumbuh tanpa perencanaan mitigasi bencana. Sungai-sungai diperlakukan sebagai tempat pembuangan sampah, hingga kehilangan fungsi alaminya sebagai pengendali banjir.

Akumulasi semua itu membuat alam kehilangan keseimbangan. Ketika hujan turun lebih ekstrem akibat perubahan iklim, hutan yang gundul tak lagi mampu menahan air. Tanah yang rapuh pun longsor, sungai meluap, dan bencana menjadi tak terelakkan.

Bencana di Sumatera hari ini seolah menegaskan pesan lama itu: alam tidak pernah berkhianat, manusialah yang lebih dulu mengkhianatinya.

Kerusakan lingkungan bukan sekadar isu ekologis, melainkan ancaman nyata terhadap keselamatan manusia. (Dok/Foto/Mazmin/Andi)

KARENA itu, tragedi ini patut menjadi peringatan kolektif—bagi pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat luas—bahwa pembangunan tanpa kehati-hatian ekologis hanya menunda bencana berikutnya. Kesiapsiagaan harus diperkuat, mulai dari sistem peringatan dini, perencanaan evakuasi, hingga perlindungan kelompok rentan.

Namun lebih dari itu, pemulihan dan perlindungan lingkungan mesti ditempatkan sebagai prioritas utama: reboisasi hutan, konservasi daerah aliran sungai (DAS), penataan ruang berbasis risiko bencana, serta penegakan hukum terhadap perusakan alam.

Tiga puluh tahun setelah Hijau dinyanyikan, pesan itu kini kembali mengetuk nurani. Pertanyaannya sederhana, namun mendasar: apakah manusia masih mau belajar, atau justru terus memaksa alam membayar harga dari ketamakan yang sama?

Editor: AYS
Sumber: HITV Jakarta

  • Penulis: Zulfahmi Arsun

Rekomendasi Untuk Anda

  • Diduga Ada Kejanggalan dalam Penerimaan Siswa Baru di SMPN 3 Purwakarta!

    Diduga Ada Kejanggalan dalam Penerimaan Siswa Baru di SMPN 3 Purwakarta!

    • 0Komentar

    Gedung SMPN 3 Kabupaten Purwakarta. (Dok/Foto/Raffa) Penulis: Raffa Christ Manalu Proses penerimaan peserta didik baru (PPDB) di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 3 Kabupaten Purwakarta diduga tidak berlangsung transparan. Seorang orang tua siswa mengaku kecewa setelah nama anaknya tiba-tiba hilang dari daftar pengumuman, padahal sebelumnya telah dinyatakan terverifikasi melalui jalur prestasi. HITVBERITA.COM | Purwakarta — […]

  • Jalan Nasional Rabambang–Samba Katung Terbengkalai, LSM BMP Desak Kemenhut Segera Terbitkan Izin

    Jalan Nasional Rabambang–Samba Katung Terbengkalai, LSM BMP Desak Kemenhut Segera Terbitkan Izin

    • 0Komentar

    Jalan nasional Rabambang–Samba Katung di Kalimantan Tengah terbengkalai meski telah menelan anggaran ratusan miliar rupiah. LSM Betang Media Pratama mendesak Kementerian Kehutanan segera menerbitkan izin agar jalan penghubung antar kabupaten itu dapat difungsikan. PALANGKA RAYA | HITV – Jalan nasional penghubung Desa Rabambang, Kabupaten Gunung Mas, dengan Desa Samba Katung, Kabupaten Katingan, terbengkalai meski telah […]

  • Anak Putus Sekolah di Tengah Ekonomi Lesu: Alarm Kegagalan Amanah Pejabat Publik

    Anak Putus Sekolah di Tengah Ekonomi Lesu: Alarm Kegagalan Amanah Pejabat Publik

    • 0Komentar

      Oleh: Prof. Dr. KH Sutan Nasomal, SH, MH FENOMENA anak putus sekolah yang kian meluas di berbagai daerah bukan sekadar persoalan pendidikan. Ia adalah cermin dari rapuhnya tata kelola ekonomi dan kegagalan moral sebagian pejabat publik dalam menjalankan amanah jabatan. Ketika ekonomi melemah, yang pertama kali dikorbankan bukanlah kepentingan elite, melainkan masa depan anak-anak […]

  • Ustaz Abdul Hamim: Tingkatan Keimanan Seseorang Dapat Dilihat dari 7 Aspek Ini

    Ustaz Abdul Hamim: Tingkatan Keimanan Seseorang Dapat Dilihat dari 7 Aspek Ini

    • 0Komentar

    Keimanan Seseorang Bukan Hanya Sekadar Ritual, Melainkan Dapat Diukur Melalui Beberapa Indikator Yang Mencerminkan Kedalaman Hatinya Dalam Menjalani Agama. HITVBERITA.COM | Jakarta– Hal ini disampaikan oleh Ustaz Abdul Hamim dalam tausyiahnya pada acara silaturahmi dan buka puasa bersama Paguyuban Warga O4, yang berlangsung pada Jumat, 14 Maret 2025, di kediaman Puji, Jalan Patung Johar Baru, […]

  • Laporan Buat Kapolda, Kasus Pemukulan di Lingga Mandek, Korban Ragukan Profesionalisme Penyidik!

    Laporan Buat Kapolda, Kasus Pemukulan di Lingga Mandek, Korban Ragukan Profesionalisme Penyidik!

    • 0Komentar

    Penulis: Ruslan LGA Penanganan kasus pemukulan di Jeti PT Telaga Bintan Jaya (XTBJ), Desa Tanjung Irat, Kecamatan Singkep Barat, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, berjalan di tempat. Meski Polres Lingga telah menetapkan Andi Cori sebagai tersangka sejak 17 Mei 2025, hingga kini yang bersangkutan belum juga ditahan. HITVBERITA.COM | Lingga — Siswoyo, yang merupakan korban sekaligus […]

  • Resmikan Sumur Bor Di Ponpes Syaikhona Kholil Pangkalpinang, Irjen Pol Hendro : Semoga Bermanfaat Bagi Santri/Wati

    Resmikan Sumur Bor Di Ponpes Syaikhona Kholil Pangkalpinang, Irjen Pol Hendro : Semoga Bermanfaat Bagi Santri/Wati

    • 0Komentar

    Hitvberita.com | Babel – Kapolda Bangka Belitung Irjen Pol Hendro Pandowo kembali meresmikan sumur bor keempat yang dibangun melalui Direktorat Lalu Lintas Polda Babel. Sumur bor keempat ini dibangun di Pondok Pesantren (Ponpes) Syaikhona Kholil Dua Taib Kota Pangkalpinang, Kamis (17/4/25). “Hari ini kita melaksanakan peresmian sumur bor di Pondok Pesantren Syaikhona Kholil Dua Taib. […]

expand_less