MBG di Lingga Disorot: Menu Diduga Tak Layak Konsumsi, Orang Tua Pertanyakan Standar Gizi
- account_circle Ruslan LGA
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

Sebuah video yang beredar di media sosial memperlihatkan paket makanan MBG di salah satu sekolah dasar di Kabupaten Lingga diduga tidak layak konsumsi. (dok/foto/ruslan)
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi upaya pemerintah meningkatkan asupan gizi siswa justru menuai sorotan di Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau.
LINGGA, HITV— Berawal dari sebuah video yang beredar di media sosial memperlihatkan paket makanan MBG di salah satu sekolah dasar di daerah Kabupaten Lingga, yang diduga tidak layak konsumsi.
Dalam video tersebut, makanan yang dibagikan kepada siswa hanya berupa sepotong roti yang tampak berjamur, dua butir kurma, serta satu plastik kecil kacang goreng. Kondisi itu memicu kekecewaan para orang tua siswa yang menilai kualitas makanan jauh dari standar gizi yang dijanjikan dalam program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).
Salah seorang orang tua siswa yang merekam video itu mempertanyakan nilai gizi dari paket makanan yang diterima anak-anak mereka. Ia juga menyoroti ketidakseimbangan antara nilai anggaran dengan isi makanan yang dibagikan.
“Di mana letak gizinya? Dengan harga 15.000 rupiah, isinya paling hanya sekitar 5.000 sampai 7.000 rupiah saja,” ujar orang tua siswa tersebut dalam video yang beredar luas di media sosial.
Sorotan terhadap kualitas MBG di Lingga menambah daftar persoalan serupa yang sebelumnya juga terjadi di sejumlah daerah lain di Indonesia. Dalam beberapa kasus sebelumnya, makanan yang dibagikan kepada siswa ditemukan dalam kondisi tidak layak konsumsi, bahkan berjamur.
Di Tanggamus, Lampung, misalnya, siswa sempat menerima makanan yang diduga telah rusak. Kasus serupa juga terjadi di Manokwari, Papua Barat, yang memunculkan kekhawatiran publik terhadap standar pengawasan dalam program yang menyasar anak-anak sekolah tersebut.
Secara regulasi, Badan Gizi Nasional (BGN) telah menetapkan standar ketat dalam pelaksanaan program MBG. Makanan yang dibagikan kepada siswa wajib memenuhi prinsip higienitas, disimpan pada suhu yang tepat, serta melalui proses pemeriksaan menyeluruh sebelum didistribusikan.
Namun, dugaan kelalaian dalam proses distribusi dan penyimpanan makanan disebut menjadi salah satu faktor yang memungkinkan makanan tidak layak konsumsi sampai ke tangan siswa.
Menanggapi polemik tersebut, Dinas Pendidikan Kabupaten Lingga menyatakan akan melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG di sekolah-sekolah. Pihaknya juga membuka kemungkinan penindakan apabila ditemukan kelalaian dalam pengelolaan makanan.
“Kami akan melakukan investigasi dan mengambil tindakan tegas jika terbukti ada kelalaian dalam proses penyediaan maupun distribusi makanan,” ujar seorang pejabat Dinas Pendidikan Kabupaten Lingga.
Di sisi lain, kekhawatiran orang tua siswa terus mengemuka. Mereka menilai program yang seharusnya meningkatkan kesehatan anak justru berpotensi menimbulkan risiko apabila kualitas makanan tidak dijaga dengan baik.
Makanan yang tidak higienis atau telah rusak dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, mulai dari gangguan pencernaan, reaksi alergi, hingga keracunan makanan. Risiko ini dinilai sangat sensitif mengingat sasaran program adalah anak-anak usia sekolah dasar.
Para orang tua pun mendesak pemerintah memastikan pengawasan lebih ketat terhadap penyedia makanan serta proses distribusinya. Mereka berharap program MBG benar-benar memberikan manfaat gizi bagi siswa, bukan sekadar menjadi program administratif tanpa pengawasan yang memadai.
“Kami ingin anak-anak mendapatkan makanan yang bergizi dan sehat, bukan makanan yang berbahaya bagi kesehatan mereka,” ujar salah satu orang tua siswa. (\•/)
Editor: Ismail ®
Sumber: HITV Kepri
- Penulis: Ruslan LGA

Dalam menjalankan tugas jurnalistik di lapangan, wartawan HITV dilengkapi Surat Tugas dan ID Card yang masih berlaku dan namanya tercantum dalam Box Redaksi saat di scanning barcode.