Minggu Pagi di Persing: Ketika Polisi Tak Hanya Menjaga, Tapi Juga Menolong!
- account_circle Redaksi
- calendar_month Senin, 21 Jul 2025
- visibility 30
- comment 0 komentar
- print Cetak

Penulis: Ruslan LGA
MATAHARI belum sepenuhnya naik ketika warga Desa Persing, Kecamatan Singkep Pesisir, dikagetkan oleh suara keras dari arah jalan utama. Sebuah pohon besar, yang tampaknya sudah rapuh dimakan usia, akhirnya tumbang. Batangnya melintang di tengah jalan, menutup total akses satu-satunya yang biasa dilalui warga untuk beraktivitas.
HITVBERITA.COM | Lingga – Lalu lintas pun mendadak terhenti. Sejumlah pengendara sepeda motor memilih putar balik, sementara yang lain mencoba mencari jalan alternatif melalui jalur sempit di antara rumah warga. Suasana pagi yang biasanya tenang berubah menjadi cemas dan tidak pasti.
Namun, kekhawatiran itu tidak berlangsung lama, hanya dalam hitungan waktu sejak laporan warga diterima, personel dari Satuan Samapta Polres Lingga sudah tiba di lokasi.
Tanpa banyak bicara, mereka langsung bekerja — memotong, mengangkat, dan membersihkan batang pohon yang menutupi jalan.
“Kami tidak bisa menunggu lama. Akses ini vital bagi masyarakat, terutama di hari pasar seperti sekarang,” ujar IPTU Arfen, Kasat Samapta Polres Lingga, sambil mengatur koordinasi personelnya di lapangan.
Dengan hanya bermodalkan alat potong manual — parang, gergaji tangan, dan tenaga — mereka menyelesaikan pekerjaan yang biasanya membutuhkan bantuan alat berat. Tapi semangat mereka tak tergoyahkan, meski peluh membasahi seragam.
“Kondisi jalannya memang sempit, kendaraan berat sulit masuk. Tapi ini tidak jadi alasan untuk menunda evakuasi,” tambah IPTU Arfen.
Tak sampai dua jam, jalur yang tadinya lumpuh kembali bisa dilalui kendaraan. Wajah-wajah lega tampak dari para pengendara yang akhirnya bisa melanjutkan perjalanan.
Di sisi jalan, seorang ibu paruh baya menyeka keringat di keningnya, menyaksikan proses evakuasi dengan kagum.
“Cepat betul datangnya polisi. Saya kira bakal lama baru bisa lewat sini lagi. Salut saya,” katanya dengan logat khas Melayu.
Bagi AKBP Pahala Martua Nababan, Kapolres Lingga, aksi seperti ini bukanlah hal luar biasa.
“Ini bagian dari komitmen kami sebagai pelayan masyarakat. Polisi harus hadir, tidak hanya saat ada kejahatan, tetapi juga saat masyarakat butuh pertolongan dalam bentuk lain,” ucapnya melalui keterangan tertulis.
Evakuasi pohon tumbang ini mungkin bukan operasi besar, tetapi kisah di baliknya menunjukkan makna sejati kehadiran polisi: sebagai penjaga, pelindung, dan penolong masyarakat dalam situasi apapun.
Kehadiran Samapta pagi itu adalah pengingat bahwa kerja-kerja kemanusiaan tak selalu datang dalam bentuk seragam yang gagah, tapi dari aksi kecil yang punya dampak besar. (**)
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar