Rivalitas AS–China, Indonesia Dituntut Perkuat Ekonomi Rakyat
- account_circle AYS Prayogie
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

Rivalitas AS–China, Indonesia Dituntut Perkuat Ekonomi Rakyat
Ketegangan hubungan antara Amerika Serikat dan China kembali menjadi perhatian dunia setelah pertemuan dua pemimpin negara besar, Donald Trump dan Xi Jinping, ramai diperbincangkan publik internasional.
JAKARTA, HITV– Rivalitas dua kekuatan ekonomi terbesar dunia itu, kini dinilai semakin mengarah pada persaingan strategis yang berpotensi memengaruhi stabilitas global.
Pengamat kerap mengaitkan situasi tersebut dengan konsep Thucydides Trap, teori yang menggambarkan benturan antara kekuatan lama dan kekuatan baru yang sedang bangkit. Konsep ini berasal dari sejarawan Yunani kuno, Thucydides, yang menjelaskan pecahnya perang Athena dan Sparta akibat rasa takut Sparta terhadap kebangkitan Athena.
Dalam konteks kekinian, sebagian analis melihat pola serupa mulai tampak dalam hubungan Amerika Serikat dan China. Persaingan tidak lagi sebatas ekonomi, tetapi juga merambah teknologi, militer, hingga perebutan pengaruh geopolitik global. Taiwan bahkan disebut sebagai salah satu titik paling sensitif yang berpotensi memicu konflik terbuka.
Namun di tengah memanasnya rivalitas global tersebut, Indonesia sendiri dinilai perlu memusatkan perhatian pada persoalan yang lebih mendasar: kesiapan dalam negeri guna menghadapi dampak ekonomi yang mungkin timbul.
Guru Besar sekaligus pengamat ekonomi Prof Dr Nandan Limakrisna menilai, konflik antarnegara besar pada era modern tidak hanya berdampak pada sektor pertahanan, melainkan juga langsung memengaruhi kehidupan ekonomi masyarakat. Gangguan rantai pasok global, kenaikan harga energi, tekanan inflasi, hingga gejolak investasi menjadi risiko nyata yang dapat dirasakan hingga level akar rumput.
“Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, kekuatan utama suatu negara justru terletak pada daya tahan ekonomi rakyatnya,” tulis Nandan dalam opininya.
Menurut dia, selama ini ketahanan ekonomi nasional masih terlalu sering dipahami sebatas stabilitas APBN, pertumbuhan ekonomi makro, maupun kemampuan menjaga nilai tukar. Padahal, fondasi terpenting justru berada pada kemampuan masyarakat dalam menjaga produktivitas ekonomi domestik.
Negara yang memiliki rakyat produktif, pasar dalam negeri yang kuat, serta sistem ekonomi lokal yang hidup dinilai akan lebih tangguh menghadapi gejolak global dibanding negara yang terlalu bergantung pada pasar eksternal.
Indonesia sendiri dinilai memiliki modal besar untuk membangun kekuatan tersebut. Jumlah penduduk yang besar, kekayaan sumber daya alam, serta jutaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi fondasi strategis yang belum sepenuhnya terintegrasi dalam satu ekosistem ekonomi nasional yang solid.
Karena itu, Nandan mendorong perlunya pendekatan ekonomi berbasis komunitas yang mampu memperkuat pasar domestik dari bawah. Salah satu konsep yang ditawarkan ialah Snowball Business Model (SBM).
Model ini menempatkan masyarakat tidak hanya sebagai konsumen, tetapi juga produsen dan promotor dalam satu mata rantai ekonomi yang saling terhubung. Produk yang dihasilkan masyarakat dikonsumsi oleh masyarakat sendiri dan dipromosikan secara kolektif sehingga membentuk pasar internal yang terus tumbuh.
Melalui pendekatan tersebut, perekonomian nasional dinilai tidak semata bergantung pada investasi besar maupun pasar luar negeri, melainkan bertumpu pada kekuatan ekonomi domestik.
“Ketika pasar internal kuat, perputaran ekonomi menjadi lebih stabil dan tidak mudah terguncang oleh dinamika global,” ujarnya.
Di tengah ketidakpastian geopolitik dunia, Indonesia dinilai tidak cukup hanya mengandalkan politik luar negeri bebas aktif. Penguatan fondasi ekonomi rakyat menjadi langkah penting agar Indonesia tidak sekadar menjadi penonton dalam rivalitas global.
Rivalitas Amerika Serikat dan China mungkin sulit dihindari. Namun bagi Indonesia, pilihan tetap terbuka: menjadi negara yang ikut terseret arus ketidakpastian global, atau tampil sebagai bangsa yang memiliki ketahanan ekonomi rakyat yang kuat untuk bertahan dan tumbuh di tengah perubahan dunia. (\•/)
Editor: AYS Prayogie
Sumber: Tulisan Opini Prof Dr Nandan Limakrisna (Di Tengah Rivalitas Amerika–China, Indonesia Memerlukan Kedaulatan Ekonomi Rakyat)
- Penulis: AYS Prayogie





Dalam menjalankan tugas jurnalistik di lapangan, wartawan HITV dilengkapi Surat Tugas dan ID Card yang masih berlaku dan namanya tercantum dalam Box Redaksi saat di scanning barcode.