Sudah Saatnya Seluruh Kepala Daerah Bersatu Meringankan Beban Banjir di Sumatra
- account_circle Ismail Ratusimbangan
- calendar_month Selasa, 9 Des 2025
- visibility 127
- comment 0 komentar
- print Cetak

BENCANA banjir yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat bukan hanya peristiwa alam biasa. Ia adalah pengingat keras bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan tetap berada dalam satu ikatan nasib. Ketika sebagian wilayah kita tenggelam oleh hujan ekstrem, rumah-rumah hanyut, fasilitas umum rusak, dan ribuan warga terpaksa mengungsi, maka sejatinya seluruh daerah di negeri ini turut memikul beban yang sama. Musibah di Sumatra bukan hanya urusan Sumatra, tetapi urusan seluruh anak bangsa.
Solidaritas Nasional yang Belum Dimaksimalkan
SAYA melihat bahwa potensi solidaritas antardaerah sebenarnya sangat besar, namun belum dikelola menjadi gerakan nasional yang terstruktur. Padahal, pemerintah daerah di Indonesia memiliki kapasitas fiskal, jaringan kelembagaan, serta kekuatan administratif untuk memberikan dukungan nyata kepada daerah saudara yang sedang tertimpa musibah.
Jika seluruh kepala daerah—gubernur, bupati, dan wali kota—memaknai kepemimpinan bukan hanya dalam konteks wilayah administrasi masing-masing, melainkan sebagai bagian dari satu keluarga besar bangsa Indonesia, tentu penanganan bencana akan jauh lebih cepat, lebih ringan, dan lebih manusiawi.
Saya membayangkan sebuah model sederhana namun sangat efektif:
Setiap provinsi menyumbang Rp1 miliar,
Setiap kabupaten/kota berkontribusi Rp500 juta.
Dengan 38 provinsi dan lebih dari 500 kabupaten/kota, nilai solidaritas yang terkumpul dapat mencapai angka yang luar biasa. Dana tersebut dapat digunakan untuk membangun kembali rumah warga yang rusak, memperbaiki jembatan dan jalan yang terputus, hingga mendirikan fasilitas sementara bagi korban yang kehilangan tempat tinggal.
Kita tidak sedang berbicara tentang kewajiban hukum, melainkan kewajiban moral sebagai sesama anak bangsa.
Menghidupkan Kembali Jiwa Gotong Royong Bangsa
LELUHUR kita mengajarkan bahwa gotong royong adalah identitas utama masyarakat Nusantara. Bahkan sebelum Indonesia merdeka, nilai kebersamaan itulah yang menjadi perekat antar kelompok. Tanpa gotong royong, bangsa ini mungkin tidak akan memiliki kekuatan untuk melawan penjajah dan membangun persatuan.
Sayangnya, nilai itu perlahan mulai memudar, tergilas oleh kepentingan politik, birokrasi, serta ego sektoral. Padahal, bencana alam datang tanpa mengenal batas administrasi. Hari ini Sumatra, esok bisa terjadi di Kalimantan, Jawa, Sulawesi, atau daerah mana pun. Tidak ada satu daerah pun yang kebal dari bencana.
Karena itu, gotong royong harus ditempatkan kembali sebagai fondasi kebijakan kebencanaan nasional—bukan sekadar slogan dalam upacara, tetapi diwujudkan dalam tindakan konkret oleh para pemimpin daerah.
Peran Organisasi Kepala Daerah: Harus Lebih dari Seremonial
PARA kepala daerah memiliki wadah resmi—baik dalam skala provinsi maupun nasional. Wadah ini seharusnya bukan hanya menjadi sarana pertemuan rutin atau forum diskusi, tetapi dapat diubah menjadi instrumen solidaritas kebangsaan yang kuat.
Seharusnya organisasi tersebut dapat menginisiasi:
1. Gerakan solidaritas lintas daerah secara rutin
2. Dana gotong royong nasional untuk bencana
3. Koordinasi cepat antar-daerah ketika ada wilayah yang terdampak musibah besar
4. Konvoi bantuan resmi yang dikoordinasikan secara kolektif
Jika fungsi organisasi kepala daerah dimaksimalkan, maka Indonesia memiliki kekuatan besar untuk bergerak sebagai satu tubuh, bukan sebagai sekumpulan wilayah yang saling berjalan sendiri.
Kepemimpinan yang Diuji oleh Bencana
Inilah ujian paling jujur bagi para kepala daerah:
apakah mereka hadir sebagai pemimpin bangsa atau hanya pemimpin wilayah?
Ketika sebuah daerah tertimpa musibah, tangis dan penderitaan rakyat di sana adalah tangis dan penderitaan rakyat Indonesia. Karena itu, diperlukan keberanian moral para pemimpin daerah untuk menunjukkan bahwa mereka peduli bukan karena popularitas, bukan karena instruksi pusat, tetapi karena kesadaran bahwa kita semua adalah satu bangsa.
Bagi saya, solidaritas antardaerah adalah manifestasi paling nyata dari nilai-nilai Pancasila.
Kemanusiaan diwujudkan dalam tindakan.
Persatuan diwujudkan dalam gotong royong.
Keadilan sosial diwujudkan dalam keberpihakan kepada mereka yang menderita.
Tidak ada Pancasila tanpa kepedulian. Dan tidak ada kepedulian tanpa tindakan.
Mari Bergerak Bersama
Saya mengajak seluruh kepala daerah di Indonesia untuk memaknai kembali kepemimpinan dalam sudut pandang kebangsaan. Bencana di Sumatra adalah kesempatan untuk menunjukkan kekuatan sejati Indonesia: kekuatan solidaritas.
Saat kita mampu bergerak bersama, bukan hanya Sumatra yang bangkit—tetapi bangsa ini akan semakin kuat menghadapi berbagai tantangan di masa depan. Karena sesungguhnya, kekuatan terbesar Indonesia tidak terletak pada besarnya anggaran atau megahnya infrastruktur, melainkan pada ketulusan hati rakyat dan pemimpinnya dalam saling membantu. (/*/*/)
Penulis adalah Ketua Umum LSM Ormas Peduli Kepri | Ketua DPW Ikatan Penulis Jurnalis Indonesia (IPJI) Kepri, Kepala Perwakilan Redaksi Portal Berita HITVberiita.com Provinsi Kepri
- Penulis: Ismail Ratusimbangan
