“Yohanna”, Potret Sunyi dari Sumba: Ketika Kemanusiaan Menjadi Bahasa Bersama
- account_circle Erwin Lubis
- calendar_month 3 jam yang lalu
- print Cetak

Dalam Conference Press sutradara Razka Robby Ertanto menegaskan keterlibatannya dalam proyek film Yohana ini sebagai panggilan hati, sebuah respons personal terhadap realitas yang diangkat pada film tersebut. (dok/foto/erwin)
Film Yohanna tidak sekadar hadir sebagai tontonan, melainkan sebagai cermin yang memantulkan realitas sosial yang kerap luput dari perhatian. Berlatar Sumba, Nusa Tenggara Timur, film ini mengajak penonton menelusuri lapisan-lapisan kemanusiaan—dari luka akibat bencana hingga keteguhan harapan yang tumbuh di tengah keterbatasan.
JAKARTA, HITVberita — Mulai tayang di bioskop seluruh Indonesia pada 9 April 2026, film “Yohana” karya sutradara Razka Robby Ertanto ini mengusung pendekatan realisme yang kuat.
Penonton tidak ditempatkan sebagai pengamat yang berjarak, melainkan seolah hadir langsung di tengah kehidupan masyarakat yang bergulat dengan akses pendidikan terbatas, layanan kesehatan yang minim, serta kemiskinan yang bersifat struktural.
Kisahnya berpusat pada seorang biarawati muda yang menjalankan misi kemanusiaan pascabencana. Namun, narasi film berkembang melampaui perjalanan personal tokohnya. “Yohanna” menjadi ruang refleksi tentang ketimpangan sosial dan daya tahan manusia menghadapi situasi yang tidak ideal.
“Saya ingin film ini tetap berpijak pada realitas. Apa yang terlihat di Sumba adalah kenyataan yang dialami banyak orang. Ini bukan sekadar cerita, tetapi pengalaman yang dekat dengan kehidupan,” ujar Razka kepada HITVberita, Selasa (7/4/2026)
Ia menambahkan, versi bioskop disusun dengan alur linear agar pesan yang dibangun dapat diterima lebih luas tanpa kehilangan kedalaman emosi.
Di balik layar, produser eksekutif Wendra Lingga menegaskan bahwa “Yohanna” lahir dari dorongan kemanusiaan, bukan pertimbangan komersial. Baginya, film ini adalah medium untuk menyampaikan empati yang melampaui batas identitas.
“Kemanusiaan tidak mengenal sekat agama, suku, atau latar belakang. Cerita ini adalah tentang kita semua,” kata Wendra.
Ia menyebut keterlibatannya dalam proyek ini sebagai panggilan hati, sebuah respons personal terhadap realitas yang diangkat film tersebut.
Diproduksi oleh Summerland, Reason8 Films, dan Pilgrim Film, serta dibintangi Laura Basuki, “Yohanna” lebih dulu mencuri perhatian di panggung internasional.
Film ini melakukan debut dunia di International Film Festival Rotterdam 2024, lalu meraih penghargaan Sutradara Terbaik di Jakarta Film Week 2024.
Tak hanya itu, di Jogja-NETPAC Asian Film Festival, Yohanna memborong lima penghargaan sekaligus: Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Storytelling Terbaik, Akting Terbaik, dan Sinematografi Terbaik.
Deretan capaian tersebut menegaskan posisi film ini sebagai karya yang tidak hanya kuat secara naratif, tetapi juga matang secara artistik.
Pada akhirnya, Yohanna berbicara dengan bahasa yang sederhana namun mendalam: tentang harapan yang tumbuh di tengah keterbatasan, tentang solidaritas yang lahir dari luka bersama, dan tentang kemanusiaan sebagai nilai universal yang tak lekang oleh perbedaan.
Film ini mengingatkan, di tengah dunia yang rapuh, selalu ada ruang bagi empati untuk menemukan jalannya. (\•/)
Editor: Asep Yogi
Sumber: HITV Jakarta
- Penulis: Erwin Lubis





Dalam menjalankan tugas jurnalistik di lapangan, wartawan HITV dilengkapi Surat Tugas dan ID Card yang masih berlaku dan namanya tercantum dalam Box Redaksi saat di scanning barcode.