Menjaga Damai di Bumi Kahayan: Jejak Persaudaraan dari Palangkaraya
- account_circle Redaksi
- calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
- visibility 31
- print Cetak

Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, saat menerima jamuan di Aula Jayang Tingang, Pemprov Kalimantan Tengah, 6 November 2025. (Dok/Foto/Istimewa)
Penulis: Kistolani Mangun Jaya
Pagi di Bandara Tjilik Riwut itu terasa sedikit berbeda. Udara hangat khas Kalimantan Tengah berpadu dengan semerbak aroma tanah yang baru tersentuh hujan malam sebelumnya. Dari landasan pacu, tampak pesawat yang membawa Menteri Agama RI Nasaruddin Umar dan Duta Besar Kerajaan Denmark untuk Indonesia, Sten Frimondt Nielsen, perlahan berhenti.
HITVBERITA.COM | Palangkaraya — Di antara sambutan resmi dan senyum hangat para pejabat daerah, Gubernur Kalimantan Tengah, Agustiar Sabran, berdiri menyambut. Di wajahnya tergambar kebanggaan— bukan hanya karena daerah yang ia pimpin menerima tamu penting, tetapi karena pertemuan itu menjadi simbol dari semangat besar: persaudaraan dalam keberagaman.
“Ini bukan sekadar kunjungan kerja,” ujarnya malam itu, dalam jamuan sederhana di Aula Jayang Tingang. “Ini tentang merawat kebersamaan, bukan hanya antar sesama anak bangsa, tetapi juga antarnegara.”
Ucapan itu mengalir tenang di tengah suasana hangat. Para tamu duduk melingkar, menikmati hidangan khas Kalimantan: ikan bakar sungai, sambal terung asam, dan nasi pulut yang harum. Percakapan malam itu tidak hanya tentang proyek dan program, tetapi tentang nilai-nilai kemanusiaan yang menghubungkan bangsa-bangsa.
Jembatan Dua Dunia
Kehadiran Dubes Denmark, Sten Frimondt Nielsen, bukanlah sekadar lawatan diplomatik. Ia datang membawa pesan dan aksi nyata untuk bumi. Esok harinya, ia bersama rombongan dijadwalkan mengikuti pelepasan orangutan ke alam liar di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Kabupaten Katingan — kegiatan tahunan yang digagas oleh Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS).
Bagi Sten, kerja sama Indonesia–Denmark bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga tentang planet bersama. “Kita berbagi tanggung jawab terhadap bumi,” ucapnya singkat, dalam bahasa Inggris berintonasi lembut.
Di saat dunia menatap masa depan dengan kegelisahan atas perubahan iklim, pertemuan seperti ini menjadi pengingat bahwa diplomasi bisa berangkat dari hal sederhana: kepedulian terhadap sesama makhluk hidup.
Kalimantan Tengah: Cermin Kerukunan Nusantara
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan makna yang lebih dalam. Ia memuji harmoni masyarakat Kalimantan Tengah yang mampu menjaga kedamaian di tengah keberagaman etnis dan keyakinan.
“Kerukunan di Kalimantan Tengah bukan sekadar slogan, tapi kenyataan yang bisa kita rasakan,” katanya. “Inilah Indonesia yang sesungguhnya—tempat di mana perbedaan dirawat, bukan dipertentangkan.”
Nasaruddin berbicara bukan hanya sebagai pejabat negara, melainkan sebagai seorang ulama yang memahami bahwa kedamaian adalah fondasi dari setiap peradaban. Ia mengajak semua pihak menjaga tali persaudaraan yang telah lama terjalin di bumi Kahayan itu.
Pesan dari Hati Borneo
Bagi Gubernur Agustiar Sabran, pertemuan ini memiliki arti ganda. Di satu sisi, membuka peluang kerja sama di bidang pendidikan, energi terbarukan, dan pembangunan berkelanjutan; di sisi lain, menjadi ruang refleksi bahwa kemajuan tak boleh mengorbankan keseimbangan alam.
“Kita ingin Kalimantan Tengah tumbuh maju, tapi tetap lestari. Kita ingin membangun, tapi dengan hati,” ucapnya lirih.
Di luar aula, angin malam berhembus lembut menyentuh dedaunan ulin dan meranti. Kota Palangkaraya tampak teduh di bawah langit bertabur bintang. Di tempat ini, kata-kata tentang persaudaraan, kedamaian, dan cinta lingkungan tak hanya diucapkan—tetapi dirasakan.
Lalu, ketika malam beranjak larut, gema pesan itu pun tertinggal di udara: bahwa di tengah derasnya arus zaman, Kalimantan Tengah memilih berjalan di jalan damai—menyatukan manusia, menjaga bumi, dan menyalakan cahaya kebenaran dari jantung Borneo. (/*/*/)
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar