Rabu, 13 Mei 2026
light_mode

“Ibu di Mana?” — 16 Tahun Menunggu Pelukan yang Tak Pernah Datang

  • account_circle AYS Prayogie
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • print Cetak

Di sebuah ruang perawatan Rumah Sakit Andi Sultan Daeng Radja, Bulukumba, seorang remaja perempuan terbaring lemah. Tubuhnya kurus. Tatapannya kosong, tetapi sesekali matanya mencari sesuatu yang bahkan ia sendiri belum pernah benar-benar miliki: wajah ibunya. Namanya Syifa.

Ketika seseorang bertanya apa yang paling ia inginkan, jawabannya sederhana, lirih, sekaligus menghantam perasaan siapa pun yang mendengarnya.

“Ibu…”

Hanya itu.
Tidak ada permintaan lain.

Tidak tentang harta, tidak tentang masa depan, bahkan tidak tentang kesembuhan. Gadis 16 tahun itu hanya ingin bertemu perempuan yang melahirkannya—perempuan yang meninggalkannya sesaat setelah ia membuka mata ke dunia.

KISAH Syifa bermula di atas sebuah kapal penumpang pada 2010 silam. Kapal itu berlayar dari Pelabuhan Tunon Taka, Nunukan, Kalimantan Utara, menuju Pelabuhan Parepare, Sulawesi Selatan.

Di tengah perjalanan laut, seorang perempuan yang identitasnya tak pernah diketahui mengalami persalinan. Dalam situasi darurat di atas kapal, seorang bidan bernama Rajakati, warga Herlang, Bulukumba, membantu proses kelahiran bayi perempuan itu.

Tangis bayi pecah di tengah gelombang laut. Bayi itu kemudian diberi nama “Syifa” oleh sang bidan.

Namun perjalanan hidup Syifa rupanya tidak dimulai dengan pelukan hangat seorang ibu. Saat kapal bersandar dan para penumpang turun satu per satu, perempuan yang melahirkannya justru menghilang.

Ia pergi.
Meninggalkan bayi mungil yang bahkan belum genap sehari mengenal dunia.

“Tidak ada yang tahu siapa ibunya, dari mana asalnya, atau ke mana perginya setelah turun dari kapal,” tutur warga yang mengetahui kisah tersebut.

Sejak saat itu, Syifa tumbuh sebagai anak yang memeluk kehilangan bahkan sebelum mengenal arti kehilangan itu sendiri.

BIDAN Rajakati tak tega membiarkan bayi tersebut tanpa perlindungan. Ia membawa Syifa ke Bulukumba, lalu menyerahkannya kepada seorang lelaki tua bernama Sajuang di kawasan Ela-Ela.

Di rumah sederhana itulah Syifa dibesarkan

Hari-hari berlalu. Tahun demi tahun berganti. Syifa tumbuh sebagaimana anak-anak lain: belajar berjalan, belajar berbicara, belajar mengenal dunia. Namun ada satu ruang kosong yang tidak pernah terisi dalam hidupnya.

Tentang ibu.
Tentang mengapa dirinya ditinggalkan.
Tentang apakah perempuan itu pernah memikirkannya.

Atau setidaknya… merindukannya.

“Dia sering bertanya tentang ibunya,” kata seorang kerabat.

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah benar-benar menemukan jawaban.

Tetapi waktu rupanya tidak menghapus kerinduan. Justru menebalkannya.

Kini, ketika kondisi kesehatannya menurun dan tubuhnya terbaring lemah di rumah sakit, kerinduan itu kembali menyeruak.

Syifa tidak menangis histeris. Ia juga tidak menyimpan amarah yang meledak-ledak kepada perempuan yang meninggalkannya.

Yang tersisa hanya harapan kecil yang terus hidup selama 16 tahun.

Bertemu.
Dipeluk.
Meski hanya sekali.

Kisah Syifa cepat menyentuh banyak orang setelah cerita hidupnya tersebar dari mulut ke mulut dan media sosial. Banyak yang tersentuh oleh ketabahan gadis itu. Tidak sedikit pula yang menawarkan bantuan dan dukungan.

Namun di tengah simpati yang mengalir, ada satu hal yang tetap tidak bisa digantikan siapa pun.

Kasih sayang seorang ibu.

Barangkali, bagi sebagian orang, pelukan adalah hal biasa. Tetapi bagi Syifa, itu adalah kemewahan yang belum pernah ia rasakan sejak lahir.

Dan mungkin, di suatu tempat, ada seorang perempuan yang diam-diam menyimpan luka, rasa takut, atau penyesalan selama bertahun-tahun karena keputusan yang pernah ia ambil di atas kapal itu.

Jika perempuan itu masih hidup dan membaca kisah ini, Syifa tidak datang untuk menuntut.

Ia hanya rindu.
Rindu yang dipendam selama 16 tahun.
Rindu yang kini diucapkan pelan dari ranjang rumah sakit:
“Ibu, di mana?” (\•/)

Sumber berita: Muhammad Zulkifli Ritonga | Disunting ulang oleh AYS Prayogie

  • Penulis: AYS Prayogie

Rekomendasi Untuk Anda

  • Polsek Meral Salurkan Bantuan Bahan Bangunan bagi Warga Sakit Menahun

    Polsek Meral Salurkan Bantuan Bahan Bangunan bagi Warga Sakit Menahun

    • 0Komentar

    Penulis: M Saipul Polsek Meral menyalurkan bantuan bahan bangunan kepada Saparudin (68), warga Desa Pangke, Kecamatan Meral Barat, yang telah lama menderita penyakit menahun. Bantuan berupa kayu, tripleks, dan paku itu diserahkan pada Selasa (2/9/2025) pagi di kediaman Saparudin, Kampung Suka Damai. HITVBERITA.COM | Karimun- Kapolsek Meral AKP Adi Candra, didampingi Kapolsubsektor Meral Barat Ipda […]

  • Pemprov DKI Dukung Gerakan Bersih Musala untuk Kenyamanan Ibadah Ramadan

    Pemprov DKI Dukung Gerakan Bersih Musala untuk Kenyamanan Ibadah Ramadan

    • 0Komentar

    Asisten Kesejahteraan Rakyat Sekda DKI Jakarta, Ali Maulana Hakim, meluncurkan Gerakan Bersih Musala se-Jakarta Timur untuk menyambut Ramadan 1447 Hijriah. Gerakan ini diinisiasi masyarakat guna menciptakan tempat ibadah yang bersih dan nyaman bagi jamaah. JAKTIM | HITV – Asisten Kesejahteraan Rakyat Sekretaris Daerah DKI Jakarta, Ali Maulana Hakim, resmi meluncurkan Gerakan Bersih Musala se-Jakarta Timur […]

  • Diduga Lakukan Penipuan dan Penggelapan, EF Dilaporkan ke Polisi!

    Diduga Lakukan Penipuan dan Penggelapan, EF Dilaporkan ke Polisi!

    • 0Komentar

    Seorang pria muda berinisial EF yang beralamat di Jalan Raya Sukatani Tapos Depok, diduga telah melakukan tindak pidana penipuan dan penggelapan terhadap seorang pria bernama Devid, warga Perum Kopassus Pelita 2 Tapos Kota Depok. HITVBERITA.COM | JAKARTA – Devid melaporkan EF ke Polres Metro Depok pada tanggal 18 Oktober 2024, dengan total kerugian senilai Rp […]

  • Pencalonan Sekda DKI Disorot, Jejak Pemanggilan Uus Kuswanto oleh Kejati Mencuat ke Permukaan

    Pencalonan Sekda DKI Disorot, Jejak Pemanggilan Uus Kuswanto oleh Kejati Mencuat ke Permukaan

    • 0Komentar

    Penulis: S Erfan Nurali HITVBERITA.COM | Jakarta — Proses pencalonan Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi DKI Jakarta kembali terseret polemik. Nama salah satu kandidat, Uus Kuswanto, mencuat setelah terungkap bahwa ia pernah dipanggil Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta terkait penyelidikan dugaan korupsi di lingkungan Dinas Kebudayaan (Disbud) DKI. Pemanggilan itu berlangsung pada Januari 2025, di tengah […]

  • Satres Narkoba Polres Purwakarta Limpahkan ABH ke Kejaksaan

    Satres Narkoba Polres Purwakarta Limpahkan ABH ke Kejaksaan

    • 0Komentar

    HiTvBerita. Com | Purwakarta – Satuan Reserse Narkoba (Satres Narkoba) Polres Purwakarta, Polda Jawa Barat menyerahkan satu ABH atau Anak Berkonflik Hukum berikut barang bukti tindak pidana Narkotika di Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Purwakarta. Penyerahan anak berkonflik hukum (ABH) berinisial HF alias Dede (17) tersebut dilakukan anggota Satres Narkoba Polres Purwakarta, pada Selasa, 23 July […]

  • Semangat Persatuan dan Kolaborasi Warnai Peringatan Hari Jadi Purwakarta ke-194 dan ke-57

    Semangat Persatuan dan Kolaborasi Warnai Peringatan Hari Jadi Purwakarta ke-194 dan ke-57

    • 0Komentar

    Upacara Peringatan Hari Jadi ke-194 dan ke-57 Purwakarta digelar Alun-Alun Taman Pasanggarahan Pemkab Purwakarta. (Foto/Raffa/HITV) Penulis: Raffa Christ Manalu Hari Jadi Purwakarta ke-194 sebagai Kota dan ke-57 sebagai Kabupaten, yang diperingati pada Jumat, 18 Juni 2025, menjadi momentum refleksi penting bagi perjalanan panjang daerah ini. HITVBERITA.COM | Purwakarta — Upacara yang digelar di Alun-Alun Taman […]

expand_less