Kemarau Panjang Mencekik Purwakarta, Ribuan Warga Gelar Salat Istisqa
- account_circle Raffa Christ Manalu
- calendar_month 20 jam yang lalu
- print Cetak

Salat Istisqa di Alun-alun Taman Pasanggrahan Padjadjaran, Purwakarta, dipimpin Ustaz Asep Fitriadi, dengan KH John Dien sebagai khatib. (Dok/Foto/Raffa)
Kemarau panjang mulai menekan kehidupan warga Purwakarta. Krisis air bersih dan meningkatnya potensi kebakaran lahan menjadi persoalan yang dirasakan di tengah suhu udara yang disebut mencapai 38 derajat Celsius.
PURWAKARTA, HITV — Di tengah kondisi tersebut, ribuan warga berkumpul di Alun-alun Taman Pasanggrahan Padjadjaran, Kompleks Pemerintah Kabupaten Purwakarta, Rabu (16/9/2026), untuk melaksanakan Salat Istisqa. Ibadah sunah tersebut menjadi bagian dari ikhtiar masyarakat memohon turunnya hujan setelah kemarau berlangsung selama beberapa bulan.
Salat dipimpin Ustaz Asep Fitriadi. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Purwakarta KH John Dien bertindak sebagai khatib.
Usai kegiatan, KH John Dien mengatakan Salat Istisqa merupakan bentuk ikhtiar manusia dalam menghadapi kondisi kekeringan. Soal kapan hujan turun, menurut dia, merupakan kehendak Allah SWT.
“Intinya memohon, mengetuk pintu langit untuk turunnya hujan. Jadi kewajiban kita ikhtiar, dikabulkan kapan itu urusan Allah SWT,” ujar KH John Dien.
Krisis Air Mulai Dirasakan
SEKRETARIS Daerah Kabupaten Purwakarta Sri Jaya Midan mengatakan dampak kekeringan telah dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah, terutama dalam pemenuhan kebutuhan air bersih untuk rumah tangga.
Persoalan tersebut menjadi semakin serius ketika suhu udara meningkat. Kondisi panas yang mencapai sekitar 38 derajat Celsius juga disebut meningkatkan potensi terjadinya kebakaran lahan.
Keluhan mengenai ketersediaan air turut disampaikan warga. Diah (39), salah seorang warga, mengaku debit air PDAM di rumahnya mengalami penurunan. Selain mengecil, air yang diterimanya juga disebut dalam kondisi keruh.
Situasi ini menunjukkan bahwa dampak kemarau tidak hanya berkaitan dengan menurunnya curah hujan, tetapi mulai menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.
Doa dan Menjaga Lingkungan
SALAT Istisqa menjadi ikhtiar spiritual masyarakat. Namun, pemerintah dan tokoh agama juga mengingatkan bahwa persoalan kekeringan membutuhkan langkah yang lebih panjang, terutama dalam menjaga keberlanjutan sumber air dan lingkungan.
Pemeliharaan saluran air, pelestarian tumbuhan, serta perlindungan kawasan pegunungan menjadi bagian penting dari upaya menjaga ketersediaan air.
Bagi masyarakat Purwakarta, hujan kini bukan sekadar perubahan cuaca. Turunnya hujan juga berkaitan langsung dengan ketersediaan air bersih dan keberlangsungan aktivitas warga.
Karena itu, di tengah kemarau yang belum berakhir, doa dan ikhtiar menjaga lingkungan menjadi dua upaya yang berjalan beriringan. (*/)
Sumber: HITV Jabar
Penulis: Raffa Christ Manalu
Editor: AYS
- Penulis: Raffa Christ Manalu





Dalam menjalankan tugas jurnalistik di lapangan, wartawan HITV dilengkapi Surat Tugas dan ID Card yang masih berlaku dan namanya tercantum dalam Box Redaksi saat di scanning barcode.