Kesultanan Gowa dan Diplomasi Budaya di Tengah Dinamika Modern
- account_circle AYS Prayogie
- calendar_month 3 jam yang lalu
- print Cetak

Penerus Kesultanan Gowa ke-39, Andi Idris Manginruru A. Idjo Daeng Buang Karaengta Katangka, bersama dengan tokoh masyarakat asal Gowa sekaligus dewan pendiri organisasi Persaudaraan Timur Raya (PETIR), Daeng Lukman Wijaya. (Dok,/Foto/AYS)
Semangat menjaga warisan budaya Nusantara kembali terlihat dalam pertemuan hangat antara penerus Kesultanan Gowa ke-39, Andi Idris Manginruru A. Idjo Daeng Buang Karaengta Katangka, dengan tokoh masyarakat asal Gowa sekaligus dewan pendiri organisasi Persaudaraan Timur Raya (PETIR), Daeng Lukman Wijaya, di kawasan Jakarta Barat, Selasa (19/5/2026).
JAKARTA, HITV — Pertemuan yang berlangsung dalam suasana penuh keakraban itu tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi antarsesama perantau asal Sulawesi Selatan. Lebih jauh, pertemuan tersebut dinilai sebagai bagian dari upaya memperkuat diplomasi budaya dan persaudaraan lintas komunitas Indonesia Timur di tengah kehidupan masyarakat modern yang terus bergerak dinamis.
Dalam perbincangan yang berlangsung santai namun penuh makna, Daeng Lukman Wijaya menyampaikan rasa hormat dan kebanggaannya dapat bertemu langsung dengan sosok yang disebut sebagai penerus tahta Kesultanan Gowa ke-39.
Ia menilai keberadaan figur kesultanan tetap memiliki arti penting dalam menjaga kesinambungan nilai adat, sejarah, dan identitas budaya masyarakat Makassar.
“Pertemuan ini bukan hanya silaturahmi, tetapi juga menjadi pengingat bahwa akar budaya dan sejarah tetap harus dijaga di tengah perkembangan zaman,” ujar Daeng Lukman dalam pertemuan tersebut.
Pada kesempatan itu, Daeng Lukman Wijaya secara khusus mengundang Sultan Gowa ke-39 untuk menghadiri pelantikan Pengurus DPN PETIR yang dijadwalkan berlangsung pada pertengahan Juni 2026 di kawasan Kalijodo, Jakarta Utara.
Undangan tersebut disampaikan secara hormat sebagai bentuk penghargaan terhadap nilai-nilai budaya dan persaudaraan masyarakat Indonesia Timur.
Undangan itu pun disambut positif. Andi Idris Manginruru A. Idjo Daeng Buang Karaengta Katangka menyatakan kesediaannya untuk hadir dalam kegiatan tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap semangat persatuan generasi muda Indonesia Timur.
Organisasi PETIR sendiri dikenal sebagai wadah berhimpunnya pemuda-pemudi dari berbagai wilayah Indonesia Timur, mulai dari Ambon dan Maluku, Manado, Papua, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, hingga Makassar. Kehadiran organisasi tersebut selama ini dinilai menjadi ruang persaudaraan, solidaritas sosial, sekaligus sarana memperkuat identitas budaya di tengah kehidupan perkotaan Jakarta yang multikultural.
Pemilihan kawasan Kalijodo sebagai lokasi pelantikan DPN PETIR juga bukan tanpa alasan. Wilayah tersebut dinilai memiliki kedekatan historis dan sosial dengan masyarakat perantau asal Sulawesi Selatan, khususnya suku Makassar, yang cukup banyak bermukim di Jakarta Barat dan Jakarta Utara.
Selain itu, keberadaan tokoh masyarakat Makassar, Daeng Aziz, sebagai Ketua Dewan Pembina DPN PETIR turut memperkuat keterikatan emosional organisasi tersebut dengan komunitas warga Makassar di ibu kota.
Di tengah perubahan sosial yang terus berkembang, pertemuan antara Sultan Gowa ke-39 dan Daeng Lukman Wijaya menjadi gambaran bagaimana warisan sejarah tidak hanya hidup dalam catatan masa lalu, tetapi juga hadir dalam relasi sosial dan gerakan kebudayaan masyarakat masa kini.
- Penulis: AYS Prayogie





Dalam menjalankan tugas jurnalistik di lapangan, wartawan HITV dilengkapi Surat Tugas dan ID Card yang masih berlaku dan namanya tercantum dalam Box Redaksi saat di scanning barcode.