Jumat, 2 Okt 2026
light_mode

Perguruan Tinggi Harus Menyiapkan Dua Jalan bagi Lulusan

  • account_circle Prof. Dr. Nandan Limakrisna, ST, MM 
  • calendar_month Senin, 17 Agt 2026
  • print Cetak

Perguruan tinggi di Indonesia menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

BERTAMBAHNYA jumlah lulusan setiap tahun tidak otomatis berbanding lurus dengan tersedianya lapangan pekerjaan. Karena itu, ukuran keberhasilan sebuah perguruan tinggi tidak semestinya berhenti pada jumlah mahasiswa yang berhasil diwisuda, capaian akreditasi, banyaknya publikasi ilmiah, maupun kemegahan fasilitas kampus.

Ukuran yang jauh lebih substantif adalah apa yang terjadi setelah mahasiswa meninggalkan kampus.

Ke mana mereka melangkah? Apakah mereka memperoleh pekerjaan yang layak? Apakah kompetensi yang dimiliki sesuai dengan kebutuhan dunia kerja? Ataukah mereka mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi dirinya sendiri sekaligus membuka kesempatan bagi orang lain?

Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan di tengah perubahan struktur ekonomi, perkembangan teknologi, digitalisasi, dan persaingan dunia kerja yang semakin ketat. Perguruan tinggi tidak dapat lagi memposisikan dirinya sebagai institusi yang hanya bertugas menyampaikan pengetahuan dan menghasilkan ijazah.

Perguruan tinggi harus menjadi bagian dari ekosistem kehidupan nyata.
Karena itu, saya berpandangan bahwa setiap perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, perlu membangun kemitraan strategis dan berkelanjutan dengan tiga kekuatan utama di luar kampus, yaitu industri, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta pemerintah.

Kemitraan tersebut tidak boleh berhenti pada seremoni penandatanganan memorandum of understanding (MoU). MoU seharusnya menjadi pintu masuk bagi kerja sama yang konkret, terukur, dan menghasilkan dampak.

Industri, UMKM, dan pemerintah harus benar-benar hadir dalam proses pendidikan. Sebaliknya, perguruan tinggi juga harus hadir dalam memecahkan persoalan yang dihadapi dunia usaha, industri, pemerintahan, dan masyarakat.

Dari ekosistem kemitraan tersebut, perguruan tinggi setidaknya harus menyiapkan dua jalan bagi setiap lulusan: menjadi profesional dan menjadi entrepreneur.

Jalan Pertama: Menjadi Profesional
Jalan pertama adalah mempersiapkan lulusan menjadi tenaga profesional yang mampu terserap oleh dunia kerja, khususnya oleh mitra perguruan tinggi.

Mahasiswa harus sejak awal diperkenalkan dengan persoalan nyata yang terdapat di dunia industri, UMKM maupun pemerintahan. Pembelajaran tidak cukup hanya berlangsung di ruang kelas melalui teori dan konsep.
Mahasiswa perlu mengerjakan proyek nyata, mengikuti program magang, berinteraksi dengan praktisi, memahami budaya organisasi, memecahkan persoalan lapangan, dan memperoleh pengalaman bekerja dalam sebuah tim.

Kurikulum pun perlu dirancang dengan memperhatikan kebutuhan dunia nyata.
Program studi tidak semestinya hanya bertanya, “Mata kuliah apa yang harus diajarkan?”

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:

“Kompetensi apa yang dibutuhkan industri, UMKM, pemerintah, dan masyarakat lima hingga sepuluh tahun mendatang?”

Dari pertanyaan itulah kurikulum seharusnya dibangun.

Dengan pendekatan tersebut, ketika seorang mahasiswa lulus, ia tidak lagi berada pada posisi benar-benar memulai dari nol. Ia telah memiliki pengalaman, kompetensi, jejaring, portofolio, dan rekam jejak yang dapat menjadi pertimbangan bagi mitra untuk merekrutnya.

Dengan demikian, perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan yang job seeker, tetapi menghasilkan calon profesional yang memiliki daya saing.

Jalan Kedua: Menjadi Entrepreneur
Namun, tidak semua lulusan harus menjadi pegawai.

Sebagian justru harus dipersiapkan untuk menjadi pencipta lapangan pekerjaan.

Di sinilah kewirausahaan menjadi sangat penting dalam ekosistem pendidikan tinggi.

Mahasiswa perlu diajarkan bagaimana membaca persoalan sebagai peluang. Mereka harus belajar mengidentifikasi kebutuhan pasar, menciptakan produk dan jasa, membangun merek, melakukan pemasaran, memanfaatkan teknologi digital, mengelola keuangan, serta membangun model bisnis yang berkelanjutan.

Dalam konteks tersebut, UMKM dapat menjadi laboratorium bisnis yang nyata bagi mahasiswa.

Industri dapat berperan sebagai mentor, mitra pengembangan, bahkan off-taker.

Pemerintah dapat menjadi fasilitator dalam aspek regulasi, sertifikasi, pembiayaan, akses pasar, dan kebijakan.

Perguruan tinggi menyediakan pengetahuan, riset, teknologi, pendampingan, dan sumber daya manusia.

Jika ekosistem tersebut berjalan, mahasiswa tidak hanya belajar bagaimana mencari pekerjaan, tetapi juga belajar bagaimana menciptakan pekerjaan.

Gagasan mengenai kewirausahaan mahasiswa sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Berbagai kebijakan dan program pemerintah telah mendorong mahasiswa untuk memasuki dunia kewirausahaan.

Tantangan kita sekarang adalah bagaimana mengubah berbagai program tersebut menjadi ekosistem yang berkelanjutan.

Dari Link and Match Menjadi Link, Match and Impact

Konsep link and match antara pendidikan tinggi dengan dunia kerja perlu dikembangkan lebih jauh menjadi link, match and impact.

Link berarti perguruan tinggi memiliki hubungan yang kuat dengan dunia nyata.

Match berarti kompetensi lulusan sesuai dengan kebutuhan mitra.

Sedangkan impact berarti keberadaan perguruan tinggi mampu menghasilkan dampak ekonomi dan sosial yang dapat dirasakan masyarakat.

Dalam kerangka tersebut, kampus tidak boleh berdiri sebagai menara gading yang terpisah dari persoalan masyarakat.

Kampus harus menjadi simpul yang mempertemukan mahasiswa, dosen, industri, UMKM, pemerintah, perbankan, investor, alumni, dan masyarakat.

Program dan kebijakan pendidikan tinggi yang mendorong kampus berkolaborasi dengan pemerintah daerah, industri, dan UMKM merupakan arah yang patut diperkuat.

Aktivitas akademik, penelitian, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat harus semakin diarahkan untuk menghasilkan manfaat yang konkret.
Namun, ada satu hal yang menurut saya perlu mendapat perhatian lebih serius.

Keberhasilan perguruan tinggi jangan hanya diukur dari berapa banyak lulusannya yang bekerja, tetapi juga dari berapa banyak lulusannya yang mampu menciptakan pekerjaan.

Dengan demikian, produktivitas lulusan dapat dilihat melalui tiga jalur:
Lulusan produktif = bekerja pada mitra + menjadi entrepreneur + menciptakan lapangan kerja.

Tentu ketiga indikator tersebut tidak harus dimaknai secara matematis sebagai satu-satunya ukuran kinerja. Namun, formula tersebut dapat menjadi cara sederhana untuk mengubah perspektif kita tentang keberhasilan pendidikan tinggi.

Dosen dan Riset Harus Masuk ke Dunia Nyata

Perubahan paradigma tersebut juga menuntut perubahan peran dosen.
Dosen tidak hanya menjadi pengajar. Dosen dapat berperan sebagai mentor, konsultan, peneliti, inovator, sekaligus problem solver.

Praktisi industri perlu semakin banyak masuk ke lingkungan kampus.

Sebaliknya, mahasiswa dan dosen perlu semakin sering masuk ke lingkungan industri dan dunia usaha.

Penelitian juga harus diarahkan pada persoalan nyata.

Hasil penelitian tidak semestinya berhenti pada jurnal atau rak perpustakaan. Pengetahuan harus memiliki peluang untuk dihilirkan menjadi produk, jasa, teknologi, kebijakan, maupun model bisnis yang memberikan nilai ekonomi dan sosial.

Di sinilah hilirisasi riset menjadi sangat penting.

Perguruan tinggi harus berani bertanya: apa manfaat penelitian ini bagi masyarakat?

Jika sebuah penelitian mampu melahirkan inovasi, meningkatkan produktivitas UMKM, membantu pemerintah menyelesaikan persoalan publik, menciptakan teknologi baru, atau melahirkan model bisnis baru, maka di situlah ilmu pengetahuan menemukan bentuk manfaatnya yang paling konkret.

Kampus sebagai Pusat Pertumbuhan Ekonomi

Bayangkan apabila setiap perguruan tinggi memiliki puluhan bahkan ratusan mitra industri dan UMKM.

Mahasiswa mengerjakan persoalan nyata. Dosen melakukan penelitian berdasarkan kebutuhan nyata. Industri menyediakan ruang pembelajaran. UMKM menjadi laboratorium bisnis. Pemerintah membuka ruang kebijakan dan akses. Alumni menjadi mentor. Investor dan perbankan membantu pembiayaan.

Sebagian lulusan kemudian direkrut oleh mitra. Sebagian lainnya mendirikan usaha.Sebagian yang lain berkembang menjadi pencipta lapangan pekerjaan.

Dalam kondisi seperti itu, perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan sarjana.

Kampus menghasilkan tenaga profesional. Kampus menghasilkan entrepreneur. Kampus menghasilkan lapangan pekerjaan.Dan yang paling penting: Kampus menghasilkan dampak.

Mengukur Keberhasilan dari Kehidupan yang Berubah

Pada akhirnya, paradigma pendidikan tinggi harus bergerak dari sekadar mencetak lulusan menuju menciptakan manusia yang produktif dan berdampak.

Perguruan tinggi tidak boleh hanya bertanya: “Berapa banyak mahasiswa yang kita luluskan?”

Pertanyaan yang jauh lebih fundamental adalah: “Berapa banyak kehidupan yang berubah karena lulusan kita?”

Jika semakin banyak lulusan yang mampu memperoleh pekerjaan layak, membangun profesi, mendirikan usaha, menciptakan lapangan pekerjaan, menyelesaikan persoalan masyarakat, dan menghasilkan inovasi, maka di situlah perguruan tinggi dapat disebut benar-benar berhasil.

Karena pada akhirnya, pendidikan tinggi bukan semata-mata tentang berapa banyak ijazah yang diterbitkan.

Pendidikan tinggi adalah tentang seberapa besar pengetahuan mampu mengubah kehidupan.

Dan karena itu, perguruan tinggi harus menyiapkan dua jalan bagi lulusannya: jalan menjadi profesional yang unggul dan jalan menjadi entrepreneur yang mampu menciptakan masa depan.

Keduanya bukan jalan yang saling bertentangan. Keduanya adalah bagian dari satu tujuan yang sama: melahirkan manusia terdidik yang produktif, mandiri, berdaya saing, dan memberikan dampak bagi masyarakat. (\•/)
________________________________________
Tentang Penulis
Prof. Dr. Nandan Limakrisna, S.T., M.M merupakan Guru Besar Tetap Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Persada Indonesia Y.A.I. Beliau menyelesaikan pendidikan Sarjana Teknik dan Manajemen Industri di Institut Teknologi Nasional Bandung pada 1993, Magister Manajemen di STIE Indonesia Emas pada 1998, serta Doktor Ilmu Ekonomi di Universitas Padjadjaran pada 2004. Saat ini, selain aktif sebagai profesor dalam bidang Manajemen dan menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, beliau juga menjabat Direktur Lembaga Perencanaan dan Pengembangan Tri Dharma Perguruan Tinggi Universitas Persada Indonesia Y.A.I. serta aktif dalam kegiatan penelitian, publikasi ilmiah, dan pengembangan manajemen serta kewirausahaan.

  • Penulis: Prof. Dr. Nandan Limakrisna, ST, MM 

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gugat Kades Resang Lingga, Umar: Saya Hanya Minta Uang Dikembalikan

    Gugat Kades Resang Lingga, Umar: Saya Hanya Minta Uang Dikembalikan

    • 0Komentar

    Umar, warga Singkep, menggugat Kepala Desa Resang, Singkep Selatan, Hanafi, ke Pengadilan Negeri Tanjung Pinang terkait pinjaman uang Rp230 juta yang hingga lebih dari dua tahun belum dikembalikan. LINGGA | HITV – Umar, warga Singkep, menggugat Kepala Desa Resang, Singkep Selatan, Hanafi, ke Pengadilan Negeri Tanjung Pinang atas dugaan penipuan pinjaman uang senilai Rp230 juta. […]

  • Kolam Renang Pemko Tebing Tinggi Diresmikan, Dukung Olahraga dan Rekreasi Warga

    Kolam Renang Pemko Tebing Tinggi Diresmikan, Dukung Olahraga dan Rekreasi Warga

    • 0Komentar

    Pemerintah Kota Tebing Tinggi meresmikan Kolam Renang Pemko di Jalan Mayjend Sutoyo, sebagai upaya menyediakan fasilitas olahraga dan rekreasi yang aman, nyaman, dan representatif bagi masyarakat. TEBING TINGGI | HITV – Pemerintah Kota (Pemko) Tebing Tinggi resmi mengoperasikan Kolam Renang Pemko yang berlokasi di Jalan Mayjend Sutoyo, Senin (26/1/2026). Peresmian dilakukan langsung oleh Wali Kota […]

  • Gubernur Kalteng Pimpin Upacara HUT ke-80 RI, Ajak Masyarakat Teguhkan Semangat Kebangsaan

    Gubernur Kalteng Pimpin Upacara HUT ke-80 RI, Ajak Masyarakat Teguhkan Semangat Kebangsaan

    • 0Komentar

    Penulis: Kistolani Mangun Jaya Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menggelar upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia di halaman Kantor Gubernur, Palangkaraya, Sabtu (17/8/2025). Upacara berlangsung khidmat dengan Gubernur H. Agustiar Sabran bertindak sebagai inspektur upacara. HITVBERITA.COM | Palangkaraya – Sejumlah pejabat penting hadir dalam kesempatan itu, antara lain Wakil Gubernur H. Edy Pratowo, […]

  • Buronan Proyek Fiktif Rp350 Juta Dilaporkan ke Polisi, Icang Suryadi dan Sudrajat Terancam Jerat Pidana

    Buronan Proyek Fiktif Rp350 Juta Dilaporkan ke Polisi, Icang Suryadi dan Sudrajat Terancam Jerat Pidana

    • 0Komentar

    Kasus dugaan penipuan proyek fiktif senilai Rp350 juta memasuki babak hukum baru. Dua orang yang disebut sebagai buronan, Icang Suryadi dan Sudrajat alias Ajat, resmi dilaporkan ke Polsek Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya, Rabu (12/8/2026). CIAWI, TASIKMALAYA, HITV — Laporan tersebut dibuat oleh korban, Ahdiyat, dengan didampingi penasihat hukumnya. Korban berharap laporan itu segera ditindaklanjuti aparat kepolisian […]

  • Kapolda Babel Keluarkan Surat Telegram Netralitas Anggota Polri Pada Pilkada Serentak 2024, Begini Isinya

    Kapolda Babel Keluarkan Surat Telegram Netralitas Anggota Polri Pada Pilkada Serentak 2024, Begini Isinya

    • 0Komentar

    HITVBERITA.COM|BABEL-Kepolisian Daerah (Polda) Bangka Belitung telah mengeluarkan petunjuk dan arahan kepada seluruh jajarannya terkait menjaga netralitas pada Pilkada Serentak 2024 mendatang. Hal ini disampaikan Kabid Humas Polda Bangka Belitung Kombes Pol Fauzan Sukmawansyah, Minggu (6/10/24). “Bapak Kapolda telah menerbitkan Surat Telegram terkait netralitas Polri yang tertuang dalam Surat Telegram Nomor STR/687/X/HUK.7.1/2024 tanggal 3 Oktober 2024,”kata […]

  • Polres Purwakarta Razia Tempat Hiburan dan Toko Miras, 391 Botol Disita!

    Polres Purwakarta Razia Tempat Hiburan dan Toko Miras, 391 Botol Disita!

    • 0Komentar

    Petugas Polres Purwakarta saat merazia salah satu tempat hiburan malam. Kepolisian Resor (Polres) Purwakarta, Jawa Barat, menggelar razia di sejumlah tempat hiburan malam dan toko yang diduga menjual minuman keras ilegal, Senin (26/5/2025) malam. Razia ini merupakan bagian dari upaya penegakan hukum serta pencegahan peredaran narkoba dan miras di wilayah hukum Polres Purwakarta. Reporter: Raffa […]

expand_less