Kamis, 27 Agu 2026
light_mode

Modal Besar Tidak Cukup, Koperasi Desa Merah Putih Harus Menjadi Mesin Ekonomi

  • account_circle Prof Dr Nandan Limakrisna, ST, MT
  • calendar_month Selasa, 18 Agt 2026
  • print Cetak

 

Oleh: Prof. Dr. Nandan Limakrisna
Penggagas Snowball Business Model (SBM)

Pemerintah Sudah Membangun Fondasinya. Sekarang, Bagaimana Membuatnya Bergerak?

Indonesia sedang berada pada sebuah momentum penting dalam membangun ekonomi dari desa.

Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) merupakan agenda strategis pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Negara telah menyiapkan kebijakan, kelembagaan, pembiayaan, fasilitas dan berbagai instrumen pendukung.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi:

“Bagaimana membangun koperasi?”

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:

“Bagaimana memastikan koperasi yang telah dibangun benar-benar hidup dan menghasilkan manfaat ekonomi bagi masyarakat?”

Inilah titik yang menurut saya harus menjadi perhatian bersama.

Sebab sebuah koperasi dapat memiliki gedung yang bagus, gudang, kendaraan, toko, modal kerja dan fasilitas usaha.

Tetapi semua itu belum menjamin koperasi menghasilkan pertumbuhan ekonomi.

Koperasi baru benar-benar hidup ketika terjadi transaksi.

Dan transaksi baru akan terus terjadi ketika anggota menjadikan koperasi sebagai bagian dari kehidupan ekonominya.

Karena itu, tantangan terbesar KDKMP ke depan bukan semata-mata membangun koperasi sebanyak-banyaknya, tetapi menghidupkan aktivitas ekonomi di dalam koperasi tersebut.

Jangan Sampai Investasi Besar Negara Hanya Menghasilkan Aset

Ini bukan kekhawatiran terhadap program pemerintah.

Justru sebaliknya.

Karena KDKMP merupakan program strategis dengan dukungan negara yang besar, maka keberhasilannya harus dijaga sejak awal.

Modal pemerintah harus menghasilkan perputaran ekonomi.

Fasilitas harus menghasilkan aktivitas usaha.

Koperasi harus menghasilkan transaksi.

Transaksi harus menghasilkan cash flow.

Cash flow harus menghasilkan nilai tambah.

Dan pada akhirnya, seluruh proses itu harus bermuara pada satu ukuran paling penting:

Apakah pendapatan dan kesejahteraan anggota meningkat?

Naskah dasar SBM menegaskan bahwa modal hanyalah fuel, bukan mesin. Mesin membutuhkan model bisnis, pasar, manusia, tata kelola dan aktivitas ekonomi yang berkelanjutan.

Inilah mengapa kita membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berbicara tentang modal masuk, tetapi juga tentang bagaimana modal berputar.

Saya Menawarkan Sebuah Model: Snowball Business Model

Saya menawarkan Snowball Business Model (SBM) bukan sebagai pengganti kebijakan pemerintah.

Bukan pula sebagai satu-satunya model yang harus digunakan.

SBM saya tawarkan sebagai sebuah alternatif yang dapat diuji secara terbatas, terukur dan berbasis data.

Gagasannya sederhana.

Jadikan anggota sebagai pusat mesin ekonomi koperasi.

Setiap anggota memainkan tiga peran sekaligus:

PRODUSEN + KONSUMEN + PROMOTOR

Sebagai produsen, anggota menghasilkan produk yang dapat diserap, diagregasi dan dipasarkan melalui koperasi.

Sebagai konsumen, anggota memenuhi kebutuhan ekonominya melalui koperasi.

Sebagai promotor, anggota ikut memperluas jaringan anggota dan pasar koperasi.

Ketika ketiganya berjalan, terciptalah siklus ekonomi:

PRODUKSI → KOPERASI → TRANSAKSI → CASH FLOW → NILAI TAMBAH → ANGGOTA → PASAR → PRODUKSI LEBIH BESAR → TRANSAKSI LEBIH BESAR

Kemudian siklus itu berulang.

Itulah efek bola salju.

Bukan tumbuh karena sekali didorong.

Tetapi tumbuh karena terus bergerak.

Yang Dibutuhkan Bukan Hanya Modal, tetapi Perputaran

Pemerintah dapat menyediakan modal awal.

Tetapi tidak mungkin pemerintah terus-menerus menjadi sumber kehidupan koperasi.

Koperasi harus memiliki kemampuan untuk menghidupi dirinya sendiri melalui aktivitas ekonomi anggotanya.

Di sinilah SBM mencoba menjawab persoalan tersebut.

Petani memasok.

Koperasi menyerap.

Masyarakat membeli.

Uang berputar.

Produk kembali diproduksi.

Pasar bertambah.

Transaksi meningkat.

Modal kembali berputar.

Kemudian skala usaha membesar.

Dengan kata lain:

Semakin banyak anggota bertransaksi, semakin besar peluang koperasi tumbuh.

Dan semakin besar koperasi tumbuh, semakin besar pula peluang nilai tambah ekonomi tetap berada di desa.

Konsep dasar tersebut telah dirumuskan dalam SBM melalui hubungan antara anggota, transaksi, nilai tambah, modal, produksi dan pasar.

Pemerintah Tidak Perlu Langsung Menerapkan di Semua Desa

Justru saya mengusulkan sesuatu yang lebih sederhana.

Uji dahulu. Ukur. Bandingkan. Perbaiki. Kemudian diperluas.

Pemerintah dapat memilih beberapa KDKMP sebagai pilot project SBM dengan karakteristik wilayah yang berbeda.

Misalnya wilayah pertanian, perikanan, peternakan, UMKM dan karakter ekonomi lainnya.

Pelaksanaan dapat diuji selama 6–12 bulan, kemudian dibandingkan dengan koperasi yang menggunakan pola pengelolaan konvensional.

Yang diukur bukan sekadar jumlah kegiatan.

Tetapi hasil ekonominya.

Antara lain:

• pertumbuhan anggota aktif;
• volume transaksi;
• penyerapan produk anggota;
• pembelian anggota melalui koperasi;
• pertumbuhan omzet;
• perputaran modal;
• pertumbuhan pendapatan anggota;
• dan tingkat kepercayaan anggota.

Parameter tersebut memang telah menjadi bagian dari gagasan pilot SBM dalam naskah awal.

Jika hasilnya tidak lebih baik, hentikan atau perbaiki.

Jika hasilnya terbukti lebih baik, kembangkan.

Jika berhasil di satu wilayah, replikasi ke wilayah lain.

Dengan pendekatan ini, pemerintah tidak harus mengambil keputusan berdasarkan keyakinan semata.

Biarkan data yang membuktikan.

Ini Bukan Sekadar Model Bisnis. Ini Bisa Menjadi Instrumen Evaluasi Kebijakan

Saya melihat SBM bukan hanya sebagai model untuk mengelola koperasi.

Lebih jauh, SBM dapat menjadi alat untuk menguji apakah investasi negara benar-benar menghasilkan aktivitas ekonomi di tingkat masyarakat.

Karena itu, pemerintah dapat melihat koperasi bukan hanya dari:

berapa yang dibangun,

tetapi dari:

berapa yang aktif;

bukan hanya:

berapa modal yang disalurkan,

tetapi:

berapa kali modal berputar;

bukan hanya:

berapa aset yang dimiliki,

tetapi:

berapa nilai ekonomi yang dihasilkan;

dan bukan hanya:

berapa anggota yang tercatat,

tetapi:

berapa anggota yang mengalami peningkatan pendapatan.

Inilah perubahan cara pandang yang menurut saya penting.

Dari Program Pemerintah Menjadi Gerakan Ekonomi Rakyat

KDKMP memiliki peluang untuk menjadi lebih dari sekadar program koperasi.

Ia dapat menjadi infrastruktur ekonomi rakyat di tingkat desa.

Tetapi untuk mencapai itu, koperasi harus menjadi bagian dari aktivitas ekonomi sehari-hari masyarakat.

Petani tidak hanya menjadi anggota.

Ia menjadi pemasok.

Nelayan tidak hanya memiliki kartu anggota.

Ia memiliki pasar.

Pelaku UMKM tidak hanya tercatat dalam database koperasi.

Produknya harus memiliki saluran distribusi.

Masyarakat tidak hanya menjadi anggota secara administratif.

Mereka harus menjadi konsumen.

Dan seluruh anggota tidak hanya memiliki hak suara.

Mereka juga menjadi bagian dari pertumbuhan pasar koperasinya.

Di situlah koperasi berubah dari lembaga administratif menjadi mesin ekonomi.

Sebuah Tawaran kepada Pemerintah Indonesia

Karena itu, melalui gagasan ini saya menyampaikan sebuah tawaran yang sederhana:

Berikan ruang untuk menguji Snowball Business Model.

Tidak perlu langsung dalam skala nasional.

Tidak perlu mengambil risiko besar.

Pilih beberapa KDKMP.

Berikan waktu 6–12 bulan.

Tetapkan indikator keberhasilan.

Lakukan pendampingan.

Ukur hasilnya.

Bandingkan dengan model lain.

Kemudian biarkan data menentukan apakah SBM layak diperluas.

Saya siap memberikan gagasan, desain model, pendampingan dan pelaksanaan pilot project apabila pemerintah memberikan ruang untuk mengujinya.

Bagi saya, ini bukan sekadar tawaran untuk terlibat dalam sebuah program.

Ini adalah tawaran untuk menguji sebuah gagasan ekonomi kerakyatan di lapangan.

Karena Keberhasilan Koperasi Harus Terlihat di Kantong Anggota

Pada akhirnya, keberhasilan Koperasi Merah Putih tidak boleh hanya terlihat dalam laporan administratif.

Keberhasilan harus terlihat dalam kehidupan masyarakat.

Terlihat ketika petani memperoleh pasar yang lebih baik.

Terlihat ketika produk desa memiliki nilai tambah.

Terlihat ketika masyarakat mendapatkan kebutuhan dengan harga dan layanan yang lebih baik.

Terlihat ketika omzet koperasi meningkat.

Terlihat ketika modal berputar.

Dan yang paling penting:

terlihat ketika pendapatan anggota meningkat.

Sebab rakyat tidak membutuhkan koperasi hanya untuk disebut memiliki koperasi.

Rakyat membutuhkan koperasi yang memberikan manfaat nyata.

Dari Satu Anggota, Satu Desa, hingga Indonesia

Bayangkan sebuah koperasi dimulai dari satu anggota yang bertransaksi.

Kemudian transaksi itu menghasilkan cash flow.

Cash flow membeli produk anggota lain.

Produk anggota masuk koperasi.

Masyarakat membeli.

Pasar bertambah.

Produksi meningkat.

Anggota bertambah.

Transaksi semakin besar.

Koperasi semakin kuat.

Kemudian model yang sama berjalan di desa lain.

Lalu di ribuan desa.

Pada titik itulah efek bola salju mulai bekerja.

Satu anggota menggerakkan satu koperasi.

Satu koperasi menggerakkan satu desa.

Satu desa menggerakkan desa lainnya.

Dan ribuan desa yang bergerak bersama dapat menciptakan sesuatu yang jauh lebih besar:

mesin ekonomi kerakyatan Indonesia.

Karena itu, Koperasi Merah Putih jangan hanya menjadi koperasi yang didirikan di desa.

Koperasi Merah Putih harus menjadi ekonomi desa yang hidup.

Dan jika pemerintah ingin memastikan bahwa modal negara benar-benar berubah menjadi kekuatan ekonomi rakyat, maka pertanyaan yang harus kita jawab bukan lagi:

“Berapa banyak koperasi yang sudah kita bangun?”

Tetapi:

“Berapa banyak kehidupan ekonomi rakyat yang berhasil kita gerakkan melalui koperasi?”

Pertanyaan itulah yang layak kita jawab bersama.

Dan Snowball Business Model menawarkan sebuah cara untuk mengujinya. (\•/)


Prof. Dr. Nandan Limakrisna adalah Guru Besar Ilmu Manajemen di Universitas Persada Indonesia YAI (UPI YAI) yang menaruh perhatian pada kajian strategi bisnis, pemasaran, serta pengembangan ekonomi berbasis komunitas. Ia aktif menulis dan memberikan pemikiran mengenai pemberdayaan UMKM, model bisnis kolaboratif, dan penguatan ekonomi rakyat. Melalui berbagai tulisan dan forum akademik, ia juga memperkenalkan konsep Snowball Business Model (SBM) sebagai pendekatan pengembangan ekosistem ekonomi komunitas. Pemikirannya banyak menyoroti pentingnya sinergi antara industrialisasi nasional dan ekonomi rakyat dalam pembangunan ekonomi Indonesia. (\•/)

  • Penulis: Prof Dr Nandan Limakrisna, ST, MT

Rekomendasi Untuk Anda

  • 3 Personel Terbaik Polda Babel Terima Penghargaan Bintang Bhayangkara Nararya, Siapa Saja?

    3 Personel Terbaik Polda Babel Terima Penghargaan Bintang Bhayangkara Nararya, Siapa Saja?

    • 0Komentar

    HiTvberita.com | Babel – Puncak peringatan Hari Bhayangkara ke 79 tahun 2025 di Polda Bangka Belitung ditandai dengan Upacara yang digelar di Halaman Kantor Gubernur, Selasa (1/7/25). Pada upacara tersebut, turut diwarnai dengan penyematan penganugerahan tanda kehormatan Bintang Bhayangkara Nararya kepada 3 Personel Polri Polda Babel. Penyematan langsung dilakukan oleh Gubernur Hidayat Arsani yang bertindak […]

  • Delapan Jam Diperiksa Kejari Purwakarta, Anne Ratna Mustika Pilih Bungkam

    Delapan Jam Diperiksa Kejari Purwakarta, Anne Ratna Mustika Pilih Bungkam

    • 0Komentar

    Mantan Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika menjalani pemeriksaan selama hampir delapan jam di Kejaksaan Negeri (Kejari) Purwakarta, Senin (8/6/2026), terkait penyelidikan dugaan gratifikasi mobil mewah yang tengah didalami aparat penegak hukum. PURWAKARTA, HITV— Anne menjadi satu dari tiga pihak yang dipanggil Kejari Purwakarta pada hari yang sama. Selain dirinya, turut dipanggil Lalam Martakusumah dan seorang […]

  • Perkuat Sinergi Lintas Sektor, Lapas Batang Ikuti Upacara Hari Amal Bakti Ke-80 Kemenag

    Perkuat Sinergi Lintas Sektor, Lapas Batang Ikuti Upacara Hari Amal Bakti Ke-80 Kemenag

    • 0Komentar

    Dalam rangka memperingati Hari Amal Bhakti ke-80 Kementrian Agama, Lapas Klas IIB Batang turut berpartisipasi dalam gelar Upacara. Kesertaan Lapas Klas II B sebagai peserta upacara sekaligus sebagai bentuk perkuat sinergi terhadap Lintas Sektor Aparatur Pemerintahan daerah Kabupaten Batang. BATANG | HITV – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Batang Mengikuti Kegiatan Upacara Peringatan Hari Amal […]

  • Kajati Pimpin Prosesi Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Jabatan di Wilayah Jajaran Kejaksaan Tinggi Kepulauan Bangka Belitung

    Kajati Pimpin Prosesi Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Jabatan di Wilayah Jajaran Kejaksaan Tinggi Kepulauan Bangka Belitung

    • 0Komentar

    Foto Kolase: Prosesi Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Jabatan Kepada Pejabat Eselon II dan III di Lingkup Kejati Kep.Bangka Belitung. (dok/foto/is) HiTvBerita.COM | BABEL – Bertempat di Aula Wicaksana, Gedung Kejaksaan Tinggi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, hari Selasa, (10/9/2024, Kepala Kejaksaan Tinggi Kepulauan Bangka Belitung, M. Teguh Darmawan, SH, MH memimpin pelaksanaan prosesi Pelantikan dan Pengambilan […]

  • Polisi Lingga Siaga Bencana di Tengah Cuaca Ekstrem

    Polisi Lingga Siaga Bencana di Tengah Cuaca Ekstrem

    • 0Komentar

    Kepolisian Sektor Daik Lingga mengintensifkan patroli di sejumlah titik rawan bencana seiring cuaca ekstrem yang melanda wilayah Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, dalam sepekan terakhir. LINGGA, HITV — Patroli dilakukan Unit Samapta Polsek Daik Lingga, Minggu (7/6/2026), menyasar kawasan permukiman, lahan perkebunan warga, aliran sungai, serta tebing rawan longsor. Dua personel, Briptu Sepri Wahyudianto dan Bripda […]

  • Abustan: Penuhi SPM Tanpa Abaikan Janji Politik Menyejahterakan Rakyat

    Abustan: Penuhi SPM Tanpa Abaikan Janji Politik Menyejahterakan Rakyat

    • 0Komentar

    Penulis: Syamsu Marlin Pemerintah Kabupaten Barru akan memenuhi Standar Pelayanan Minimum (SPM) tanpa mengabaikan janji politik dengan menjaga keseimbangan antara belanja wajib dan program pembangunan yang berpihak pada masyarakat. HITVBERITA.COM | Makassar – Hal itu disampaikan Wakil Buati Barru, Dr. Ir. Abustan A. Bintang, M.Si., saat menghadiri Rapat Koordinasi Pemerintahan Daerah (Rakorbangda) Wilayah Sulawesi 2025, […]

expand_less