Saat Banyak Orang Memilih Berhenti, Mieta Memilih Terus Belajar
- account_circle Ruslan
- calendar_month Rabu, 16 Sep 2026
- print Cetak

Oleh Ruslan
“Ketika sebagian orang menutup hari dengan beristirahat, bagi Mieta Danuryanti, S.Pd, C.MA, C.MPS, malam justru kerap menjadi waktu untuk kembali membuka buku, menatap layar komputer, dan menyelesaikan tugas perkuliahan,,
SEHARIAN bekerja. Mengurus tanggung jawab keluarga. Menjalankan tugas pelayanan publik. Setelah itu, ia masih harus menjadi seorang mahasiswa.
Lelah tentu ada.
Tetapi Mieta memilih tidak menjadikan lelah sebagai alasan untuk berhenti.
Perempuan yang juga menjalani peran sebagai ibu tunggal itu membuktikan bahwa keterbatasan waktu bukan akhir dari sebuah cita-cita. Justru dari keterbatasan itulah ia belajar tentang disiplin, ketekunan, dan arti sebuah perjuangan.
Alumni S1 Manajemen STIT Lingga, Dabo Singkep, tersebut kini melanjutkan pendidikan Magister Manajemen (S2) di Universitas Efarina, Kabupaten Simalungun.
Di tengah perjalanan akademiknya, Mieta tetap menjalankan aktivitas profesional sebagai Manager Properti di Batam. Ia juga bekerja sebagai Staf Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) pada Kejaksaan Negeri Lingga, yang menuntut ketelitian serta kemampuan berkomunikasi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Tiga dunia harus dijalaninya sekaligus: keluarga, pekerjaan, dan pendidikan.
Bukan Jalan yang Mudah
MENJALANI kuliah sambil bekerja bukan perkara membagi waktu semata. Ada energi yang harus dibagi, ada pekerjaan yang harus diselesaikan, ada tugas kuliah yang tidak bisa ditunda, dan ada tanggung jawab keluarga yang tetap berjalan.
Mieta menyadari betul hal tersebut.
Karena itu, disiplin menjadi prinsip yang ia pegang.
Pagi hingga sore digunakan untuk bekerja. Ketika pekerjaan selesai, ia melanjutkan aktivitas akademik. Tugas-tugas perkuliahan dikerjakan pada malam hari, sedangkan akhir pekan dimanfaatkan untuk mengikuti perkuliahan dan berdiskusi bersama rekan mahasiswa.
Waktu istirahat pun terkadang harus dikurangi.
“Waktu istirahat sering kali harus dikorbankan demi mengejar tugas akademik dan absensi kuliah,” ujar Mieta.
Namun, ia tidak melihat kesibukan sebagai penghalang.
Baginya, pekerjaan dan pendidikan justru saling melengkapi. Pengalaman di dunia kerja membantu memahami teori yang diperoleh di bangku kuliah. Sebaliknya, pengetahuan akademik memberikan perspektif baru ketika menghadapi persoalan pekerjaan.
Membiayai Pendidikan dengan Perjuangan Sendiri
ADA satu bagian lain dari perjalanan Mieta yang membuat perjuangannya semakin tidak sederhana.
Biaya pendidikan diupayakan sendiri, tanpa bantuan orang tua maupun pemerintah daerah dan provinsi.
Kondisi tersebut tidak membuat langkahnya surut.
Sebaliknya, ia semakin memahami bahwa kesempatan untuk mendapatkan pendidikan merupakan sesuatu yang harus diperjuangkan.
“Kalau niatnya kuat untuk masa depan, capek itu jadi hilang. Ilmu di kampus bisa langsung saya terapkan di pekerjaan sebagai Manager Properti, dan pengalaman kerja juga membantu saya memahami teori di kelas,” katanya.
Kalimat itu menggambarkan cara Mieta memandang pendidikan.
Baginya, kuliah bukan sekadar mengejar ijazah atau gelar akademik. Pendidikan adalah bekal untuk meningkatkan kapasitas diri dan memperbaiki masa depan.
Ketika Keterbatasan Berubah Menjadi Kekuatan
TIDAK semua orang memiliki kesempatan untuk belajar dalam kondisi yang ideal.
Ada yang harus bekerja sebelum kuliah. Ada yang harus membantu keluarga. Ada yang harus membagi waktu dengan pekerjaan. Ada pula yang harus membiayai pendidikannya sendiri.
Mieta berada dalam situasi yang demikian.
Namun, dari sanalah sebuah pelajaran penting muncul: kesuksesan tidak selalu membutuhkan keadaan yang sempurna, tetapi membutuhkan kemauan untuk terus bergerak.
Perjalanan Mieta juga menunjukkan bahwa bekerja sambil kuliah bukan sekadar aktivitas ganda. Di dalamnya terdapat proses membangun mental, belajar bertanggung jawab, mengatur prioritas, sekaligus melatih kemampuan menghadapi tekanan kehidupan.
Ia tidak menghapus rasa lelah.
Ia hanya memilih untuk tidak berhenti karena rasa lelah itu.
Pesan untuk Kawula Muda
KISAH Mieta layak menjadi cermin bagi generasi muda yang tengah berjuang menentukan masa depannya.
Di tengah era ketika banyak hal dapat diperoleh secara instan, pendidikan dan keberhasilan tetap membutuhkan proses. Tidak ada jalan pintas untuk menggantikan disiplin, kerja keras, dan konsistensi.
Mieta berpesan kepada mahasiswa yang ingin bekerja sambil kuliah agar memiliki niat yang kuat untuk masa depan, disiplin mengatur waktu, tidak membiasakan diri menunda pekerjaan, menjaga kesehatan, serta membangun komunikasi yang baik dengan dosen dan atasan.
Pesannya sederhana.
Tetapi pengalaman hidupnya memberikan makna yang lebih dalam.
Jangan menunggu hidup menjadi mudah untuk mulai mengejar cita-cita. Mulailah dari keadaan yang ada, lalu lakukan yang terbaik dengan waktu dan kemampuan yang dimiliki.
Pada akhirnya, perjalanan Mieta bukan hanya tentang bagaimana menyelesaikan sebuah pendidikan tinggi.
Ini adalah cerita tentang seorang perempuan yang memilih terus belajar ketika kehidupan menuntutnya untuk bekerja, mengurus keluarga, dan menghadapi berbagai keterbatasan.
Ia sedang menunjukkan kepada generasi muda bahwa masa depan tidak datang dengan sendirinya.
Masa depan harus diperjuangkan.
Dan terkadang, perjuangan itu dimulai dari keputusan sederhana: tetap belajar, meski lelah; tetap melangkah, meski jalan tidak mudah. (*/)
Penulis adalah Kepala Kantor Biro Redaksi HITVberita.com Kabupaten Lingga
- Penulis: Ruslan





Dalam menjalankan tugas jurnalistik di lapangan, wartawan HITV dilengkapi Surat Tugas dan ID Card yang masih berlaku dan namanya tercantum dalam Box Redaksi saat di scanning barcode.