Minggu, 16 Agu 2026
light_mode

Anak Muda di Persimpangan: Indonesia Cemas atau Emas?

  • account_circle Amirullah Ramadani Yusuf 
  • calendar_month Rabu, 24 Jun 2026
  • print Cetak

 

Oleh: Amirullah Ramadani Yusuf

Jam menunjukkan pukul dua dini hari. Entah kenapa saya tiba-tiba terbangun. Mungkin karena terlalu lelah setelah seharian bergulat dengan pekerjaan dan berbagai urusan yang seolah tak pernah selesai.

SAAT masih mencoba mengumpulkan kesadaran, ponsel saya berdering. Seorang sahabat menelepon. Sosok yang, kalau bicara soal pekerjaan, nyaris tidak pernah gagal. Tapi kalau urusan asmara, hidupnya selalu seperti sinetron dengan episode yang tak kunjung tamat.

Obrolan kami tidak panjang. Namun cukup untuk membuat kantuk saya hilang dan pikiran mulai berkelana ke mana-mana.

Setelah telepon ditutup, saya membuka TikTok. Niat awalnya cuma mencari hiburan sebentar sebelum tidur lagi. Tapi ternyata algoritma membawa saya pada sebuah video diskusi yang sedang ramai diperbincangkan. Di sana, sejumlah mahasiswa berdebat cukup panas dengan beberapa pejabat negara yang dulunya juga aktivis.

Saya menonton sampai selesai

BUKAN karena perdebatannya luar biasa, melainkan karena video itu seperti memicu kembali kegelisahan yang selama beberapa bulan terakhir terus menumpuk di kepala saya. Ditambah berbagai keluhan dari teman-teman, rekan kerja, hingga orang-orang terdekat yang semakin sering terdengar akhir-akhir ini.

Di titik itu saya mulai bertanya pada diri sendiri: sebenarnya kita sedang menuju ke mana?

Sebagai generasi muda, apakah kita sedang berjalan menuju Indonesia Emas, atau justru tenggelam dalam Indonesia Cemas?

Visi Besar yang Tersandung di Lapangan

Kalau kita melihat situasi hari ini secara jujur, ada paradoks yang cukup menarik.

Di satu sisi, pemerintah membawa sejumlah program besar yang secara konsep memang ditujukan untuk masa depan. Program seperti Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Merah Putih bukanlah proyek yang hasilnya bisa dipanen besok pagi. Program-program itu dirancang untuk membentuk dampak jangka panjang.

Masalahnya, konsep yang baik tidak selalu diikuti pelaksanaan yang baik.

Di lapangan, berbagai persoalan justru bermunculan. Mulai dari tata kelola yang dinilai belum rapi, komunikasi publik yang membingungkan, hingga kontroversi yang terus bermunculan dan menggerus kepercayaan masyarakat.

Akibatnya, program yang seharusnya menjadi sumber optimisme malah sering berubah menjadi bahan perdebatan.

Ketika Kritik Kehilangan Substansi

DI SISI lain, mahasiswa yang selama ini dikenal sebagai kelompok kritis juga menghadapi tantangan yang tidak kalah besar.

Kritik tentu penting. Bahkan sangat penting. Demokrasi membutuhkan suara-suara yang berani mengoreksi kekuasaan.

Namun kritik akan kehilangan makna ketika lebih sibuk mengejar viral daripada menawarkan solusi.

Belakangan kita sering melihat bagaimana ruang publik dipenuhi sindiran, olok-olok, dan potongan video yang mudah memancing emosi. Masalahnya, setelah semua teriakan itu selesai, sering kali tidak ada gagasan yang benar-benar membantu menyelesaikan persoalan.

Padahal sejarah menunjukkan bahwa perubahan besar lahir bukan hanya dari keberanian bersuara, tetapi juga dari kemampuan berpikir jernih dan menawarkan jalan keluar.

Jangan Sibuk Menyalahkan Atas, Lalu Lupa Berkaca

Ada satu hal yang sering luput dari perhatian kita.

Kita begitu mudah marah kepada pejabat yang korup, birokrat yang tidak becus, atau elite yang dianggap gagal. Namun pada saat yang sama, kita sering menoleransi berbagai bentuk ketidakjujuran yang terjadi di sekitar kita.

Misalnya, orang yang hidup berkecukupan tetapi tetap mencari cara mendapatkan fasilitas untuk warga miskin. Atau mereka yang memanfaatkan celah sistem demi keuntungan pribadi.

Mungkin skalanya tidak sebesar korupsi miliaran rupiah. Tapi secara moral, akar masalahnya sama: menempatkan kepentingan pribadi di atas keadilan.

Kalau kebiasaan seperti ini terus dianggap biasa, jangan heran jika sistem yang kita kritik setiap hari tidak pernah benar-benar berubah.

Perang Narasi di Era Digital

Tantangan berikutnya datang dari derasnya arus informasi.

Hari ini, perang tidak selalu dilakukan dengan senjata. Kadang cukup dengan narasi, opini, dan potongan informasi yang terus diulang hingga dianggap sebagai kebenaran.

Di media sosial, kita sering terjebak memilih kubu sebelum memahami persoalan secara utuh. Kita lebih cepat membagikan video daripada memeriksa data. Lebih mudah marah daripada mencari fakta pembanding.

Akibatnya, ruang diskusi berubah menjadi arena pertengkaran tanpa ujung.

Padahal bangsa yang kuat bukanlah bangsa yang semua warganya sepakat. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu berbeda pendapat tanpa kehilangan kemampuan berpikir rasional.

Indonesia Tidak Sesuram yang Dibayangkan

Meski demikian, saya tidak melihat masa depan Indonesia sepenuhnya gelap.

Di tengah segala kegaduhan politik dan pertarungan opini yang setiap hari memenuhi layar ponsel kita, kehidupan nyata terus berjalan.

Orang-orang tetap bekerja. Usaha-usaha kecil tetap buka setiap pagi. Investor masih menanam modal. Ekonomi tetap bergerak. Dan jutaan orang masih berjuang memperbaiki hidup mereka sedikit demi sedikit.

Mungkin Indonesia memang belum sempurna.

Mungkin masih banyak masalah yang harus diselesaikan.

Tetapi terlalu larut dalam rasa cemas juga tidak akan membawa kita ke mana-mana.

Yang kita butuhkan hari ini bukan optimisme kosong, melainkan kemampuan untuk terus belajar, memperkuat diri, menjaga akal sehat, dan tetap peduli pada sesama.

Karena pada akhirnya, pilihan antara Indonesia Cemas atau Indonesia Emas bukan ditentukan oleh siapa yang paling keras berteriak di media sosial.

Pilihan itu ditentukan oleh jutaan anak muda yang setiap hari memutuskan untuk tetap berpikir jernih, bekerja keras, dan menjadi bagian dari solusi. (\•/)


Penulis adalah putra kelahiran Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Saat ini ia sedang menempuh studi Ilmu Hukum di salah satu perguruan tinggi di Indonesia, sekaligus menjalani program internship di kantor hukum wilayah Jakarta dan berkiprah sebagai asisten pribadi.

  • Penulis: Amirullah Ramadani Yusuf 

Rekomendasi Untuk Anda

  • ‎Pelindo Siap Perkuat Ekonomi Jawa Tengah lewat Operasi Perdana Terminal Batang

    ‎Pelindo Siap Perkuat Ekonomi Jawa Tengah lewat Operasi Perdana Terminal Batang

    • 0Komentar

    Penulis: Kalaus Naibaho ‎Editor: AYS Prayogie ‎ ‎HITVBERITA.COM | Batang — PT Pelabuhan Indonesia (Persero) melalui subholding PT Pelindo Multi Terminal memulai kegiatan bongkar muat perdana komoditas pasir silika di Pelabuhan Batang, Jawa Tengah, Senin (13/10/2025). Momentum ini menandai beroperasinya salah satu infrastruktur logistik strategis yang dibangun di dalam Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB). ‎ […]

  • Garut Jadi Lokasi Uji Petik Nasional, BGN dan Bappenas Evaluasi Kebijakan Program Makan Bergizi Gratis

    Garut Jadi Lokasi Uji Petik Nasional, BGN dan Bappenas Evaluasi Kebijakan Program Makan Bergizi Gratis

    • 0Komentar

    Penulis: Kang Aden Sebagai upaya memperbaiki penerapan Program MBG, Kabupaten Garut menjadi lokasi uji petik nasional yang dikunjungi langsung oleh tim BGN dan Bappenas. HITVBERITA.COM | Garut – Kabupaten Garut menjadi salah satu lokasi uji petik nasional dalam evaluasi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kunjungan kerja Badan Gizi Nasional (BGN) bersama Badan Perencanaan Pembangunan […]

  • Cekcok di Kedai Tuak Kolang Berujung Maut, Pria 36 Tahun Tewas Dianiaya

    Cekcok di Kedai Tuak Kolang Berujung Maut, Pria 36 Tahun Tewas Dianiaya

    • 0Komentar

    Suasana sebuah kedai tuak di Dusun III, Desa Hudopa Nauli, Kecamatan Kolang, Kabupaten Tapanuli Tengah, mendadak mencekam pada Senin (23/2/2026) malam, setelah terjadi peristiwa  berujung maut menimpa terhadap salah satu pengunjung kedai tuak berinisial EM (36). TAPTENG, HITV—  Kapolsek Kolang AKP I.E. Simatupang membenarkan peristiwa tersebut. Pelaku berinisial DH (40) kini telah diamankan dan menjalani […]

  • Sat Samapta Polres Lingga Gelar Pemeriksaan Kesehatan Personel

    Sat Samapta Polres Lingga Gelar Pemeriksaan Kesehatan Personel

    • 0Komentar

    Penulis: Ruslan LGA Satuan Samapta Polres Lingga menggelar pemeriksaan kesehatan rutin bagi seluruh personel, Kamis (4/9/2025). Langkah ini dilakukan untuk memastikan kesiapan fisik anggota dalam menjalankan tugas pengamanan dan pelayanan kepada masyarakat. HITVBERITA.COM | Lingga— Pemeriksaan kesehatan rutin tersebut berlangsung di lingkungan Polres Lingga bekerja sama dengan Seksi Dokkes (Sidokkes). Tim medis internal Polres Lingga […]

  • Persiapan May Day 2026: Bupati Garut Instruksikan Pengamanan Humanis dan Siapkan Wadah Aspirasi Buruh

    Persiapan May Day 2026: Bupati Garut Instruksikan Pengamanan Humanis dan Siapkan Wadah Aspirasi Buruh

    • 0Komentar

    Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, memimpin Rapat Koordinasi (Rakor) persiapan menghadapi Hari Buruh Internasional atau May Day pada 1 Mei, yang digelar di Ruang Pamengkang, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Selasa (28/4/2026). Garut, HITV – Bupati Garut menegaskan bahwa May Day merupakan momentum mulia bagi para buruh untuk menyampaikan aspirasi terkait hak-hak mereka. Oleh karena […]

  • Sekolah Umum dan Madrasah Dilarang Menjual Pakaian Seragam

    Sekolah Umum dan Madrasah Dilarang Menjual Pakaian Seragam

    • 0Komentar

    HITVBERITA.COM JAKARTA | Banyaknya informasi yang diterima oleh Ombudsman RI tentang adanya Kewajiban membeli seragam kepada Pihak Sekolah, sebagai syarat wajib daftar ulang dan dalam penerimaan siswa baru, maka Ombudsman RI pun mengingatkan pihak sekolah maupun Komite Sekolah/Madrasah, tentang Larangan berjualan bahan dan baju seragam sekolah. Hal ini disampaikan oleh Kepala Ke-Asistenan Pencegahan Mal Administrasi […]

expand_less