Sabtu, 30 Mei 2026
light_mode

Dari “Hijau” ke Bencana: Ketika Kegelisahan Iwan Fals 1992 Menjadi Kenyataan di Aceh dan Sumatera

  • account_circle Zulfahmi Arsun
  • calendar_month Senin, 12 Jan 2026
  • print Cetak

Tragedi bencana alam yang terjadi Aceh dan Sumatera tak bisa dilepaskan dari perlakuan manusia terhadap alam—persis seperti yang disyaratkan Iwan Fals dalam kegelisahannya pada 1992. Penebangan liar menggerus tutupan hutan yang semestinya menjadi penyangga air dan tanah. (Dok/Foto/Hitv

“Hutan ku rusak,
Langit ku bocor,
Udara yang aku hisap tercemar,
Makanan yang aku makan racun.”
(Iwan Fals, Hijau, 1992)

RIAU | HITV – Tiga dekade silam, Iwan Fals menyuarakan kegundahan yang kala itu terdengar seperti protes moral. Hari ini, bait-bait lagu Hijau itu menjelma kenyataan yang pahit. Hutan yang rusak, langit yang “bocor”, udara yang kotor, hingga pangan yang tercemar, bukan lagi metafora—melainkan potret konkret dari krisis ekologis yang kini menghantam Pulau Sumatera.

Pada minggu terakhir November 2025, bencana alam bertubi-tubi melanda Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Cuaca ekstrem memicu banjir bandang dan tanah longsor, menelan korban jiwa serta memaksa ratusan ribu warga meninggalkan rumah mereka. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam konferensi pers Jumat (9/1/2026) mencatat, 1.182 orang meninggal dunia, sementara 238.687 warga mengungsi.

Di Aceh, luka itu masih terbuka. Hingga awal Januari 2026, pencarian korban hilang masih terus dilakukan seiring status Tanggap Darurat yang diperpanjang. Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, menetapkan perpanjangan tanggap darurat di empat kabupaten/kota—Aceh Tamiang, Aceh Tengah, Gayo Lues, dan Pidie Jaya—dari 8 hingga 22 Januari 2026. Sedikitnya 145 jiwa masih dinyatakan hilang, tertimbun longsor atau terseret arus banjir.

Kabupaten Gayo Lues dan Aceh Tenggara merupakan wilayah yang paling parah dan sering dilanda bencana alam, terutama banjir dan tanah longsor, di kawasan kaki Gunung Leuser. (Dok/Foto/Mazmin/Andi)

SEMENTARA itu, Sumatera Utara dan Sumatera Barat telah memasuki fase transisi darurat. Operasi pencarian korban hilang dihentikan, namun tim SAR tetap bersiaga, menandai bahwa ancaman bencana belum sepenuhnya berlalu.

Jika ditarik ke akar persoalan, tragedi ini tak bisa dilepaskan dari perlakuan manusia terhadap alam—persis seperti yang disyaratkan Iwan Fals dalam kegelisahannya pada 1992. Penebangan liar menggerus tutupan hutan yang semestinya menjadi penyangga air dan tanah.

Alih fungsi lahan untuk perkebunan dan tambang melemahkan daya serap lingkungan. Permukiman tumbuh tanpa perencanaan mitigasi bencana. Sungai-sungai diperlakukan sebagai tempat pembuangan sampah, hingga kehilangan fungsi alaminya sebagai pengendali banjir.

Akumulasi semua itu membuat alam kehilangan keseimbangan. Ketika hujan turun lebih ekstrem akibat perubahan iklim, hutan yang gundul tak lagi mampu menahan air. Tanah yang rapuh pun longsor, sungai meluap, dan bencana menjadi tak terelakkan.

Bencana di Sumatera hari ini seolah menegaskan pesan lama itu: alam tidak pernah berkhianat, manusialah yang lebih dulu mengkhianatinya.

Kerusakan lingkungan bukan sekadar isu ekologis, melainkan ancaman nyata terhadap keselamatan manusia. (Dok/Foto/Mazmin/Andi)

KARENA itu, tragedi ini patut menjadi peringatan kolektif—bagi pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat luas—bahwa pembangunan tanpa kehati-hatian ekologis hanya menunda bencana berikutnya. Kesiapsiagaan harus diperkuat, mulai dari sistem peringatan dini, perencanaan evakuasi, hingga perlindungan kelompok rentan.

Namun lebih dari itu, pemulihan dan perlindungan lingkungan mesti ditempatkan sebagai prioritas utama: reboisasi hutan, konservasi daerah aliran sungai (DAS), penataan ruang berbasis risiko bencana, serta penegakan hukum terhadap perusakan alam.

Tiga puluh tahun setelah Hijau dinyanyikan, pesan itu kini kembali mengetuk nurani. Pertanyaannya sederhana, namun mendasar: apakah manusia masih mau belajar, atau justru terus memaksa alam membayar harga dari ketamakan yang sama?

Editor: AYS
Sumber: HITV Jakarta

  • Penulis: Zulfahmi Arsun

Rekomendasi Untuk Anda

  • Polres Bireuen Tangkap 7 Pelaku Penganiayaan Dengan Senjata Api

    Polres Bireuen Tangkap 7 Pelaku Penganiayaan Dengan Senjata Api

    • 0Komentar

    HiTvBerita.com | Bireuen – Polres Bireuen melalui tim gabungan Satreskrim berhasil mengungkap kasus penganiayaan dengan senjata api, yang terjadi di Kecamatan Peudada Bireuen, Aceh, pada 27 Juli 2024 lalu. Kapolres Bireuen AKBP Jatmiko, mengatakan dari pengungkapan kasus itu, tujuh tersangka berhasil ditangkap di lokasi terpisah dan menyita barang bukti berupa satu pucuk senjata api laras […]

  • Bawaslu DKI Gandeng MIO Indonesia dan PJMI Bangun Ekosistem Pengawasan Pemilu Partisipatif

    Bawaslu DKI Gandeng MIO Indonesia dan PJMI Bangun Ekosistem Pengawasan Pemilu Partisipatif

    • 0Komentar

    Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Provinsi DKI Jakarta terus memperkuat fondasi kelembagaan pengawasan pemilu dengan membangun sinergi strategis bersama insan pers dan organisasi media. JAKARTA | HITV — Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Roadshow Pembinaan dan Penguatan Kelembagaan yang digelar di Sekretariat Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI), Cipinang Muara, Jakarta Timur. Kegiatan ini dihadiri jajaran […]

  • Wakil Presiden Gibran Rakaming Raka

    Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Tinjau Pembangunan Bendungan Jragung

    • 0Komentar

          Penulis : Adi Waelah Editor : Hadi Lempe Kabupaten Semarang sambut kehadiran langsung Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka. Kehadiranya Wakil Presiden melakukan peninjauan secara langsung , Proyek Pembangunan Bendungan Jragung yang berafa di Wilayah Kabupaten Semarang. HITVBERITA.COM | KAB.SEMARANG –  Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka turun langsung ke lapangan, meninjau progres […]

  • Polres Belitung Gelar Tabur Bunga di Laut, Wujud Penghormatan Di Hari Bhayangkara ke-79

    Polres Belitung Gelar Tabur Bunga di Laut, Wujud Penghormatan Di Hari Bhayangkara ke-79

    • 0Komentar

    HiTvBerita.com | Belitung – Dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-79 Tahun 2025, Polres Belitung melalui Satuan Polisi Air dan Udara (Sat Polairud) menggelar upacara tabur bunga di perairan Belitung pada Senin pagi, 23 Juni 2025. Kegiatan yang berlangsung di Mako Sat Polairud Polres Belitung ini dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan kepada para pahlawan Polri yang telah […]

  • Bono Diringkus Tim Jatanras Polda Babel Usai Tusuk Temannya, Motif Pelaku Kesal Ditagih Utang

    Bono Diringkus Tim Jatanras Polda Babel Usai Tusuk Temannya, Motif Pelaku Kesal Ditagih Utang

    • 0Komentar

    HiTvberita.com | Babel – Seorang pria berinisial Ro alias Bono (34) warga Kelurahan Kejaksaan Kota Pangkalpinang diringkus Tim Subdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Bangka Belitung, Jumat (3/1/25) lalu. Bono diringkus disebuah kontrakan yang berada di Kelurahan Bukit Sari Kecamatan Gerunggang Kota Pangkalpinang, Kabid Humas Polda Babel Kombes Pol Fauzan Sukmawansyah mengatakan penusukan yang dilakukan pelaku […]

  • Driver Online Protes Larangan Penjemputan di Bandara Hang Nadim Batam

    Driver Online Protes Larangan Penjemputan di Bandara Hang Nadim Batam

    • 0Komentar

    Penulis: Wahyudi Larangan penjemputan penumpang roda dua (R2) di Bandara Hang Nadim, Batam, memicu protes puluhan pengemudi ojek daring yang menilai kebijakan itu merugikan mata pencaharian mereka. HITVBERITA.COM | Batam — Puluhan pengemudi ojek daring yang tergabung dalam Aliansi Driver Online Batam (ADOB) dan Persaudaraan Driver Online Batam (Perdoba) mendatangi counter Grab di Bandara Hang […]

expand_less