Rabu, 15 Jul 2026
light_mode

Dari “Hijau” ke Bencana: Ketika Kegelisahan Iwan Fals 1992 Menjadi Kenyataan di Aceh dan Sumatera

  • account_circle Zulfahmi Arsun
  • calendar_month Senin, 12 Jan 2026
  • print Cetak

Tragedi bencana alam yang terjadi Aceh dan Sumatera tak bisa dilepaskan dari perlakuan manusia terhadap alam—persis seperti yang disyaratkan Iwan Fals dalam kegelisahannya pada 1992. Penebangan liar menggerus tutupan hutan yang semestinya menjadi penyangga air dan tanah. (Dok/Foto/Hitv

“Hutan ku rusak,
Langit ku bocor,
Udara yang aku hisap tercemar,
Makanan yang aku makan racun.”
(Iwan Fals, Hijau, 1992)

RIAU | HITV – Tiga dekade silam, Iwan Fals menyuarakan kegundahan yang kala itu terdengar seperti protes moral. Hari ini, bait-bait lagu Hijau itu menjelma kenyataan yang pahit. Hutan yang rusak, langit yang “bocor”, udara yang kotor, hingga pangan yang tercemar, bukan lagi metafora—melainkan potret konkret dari krisis ekologis yang kini menghantam Pulau Sumatera.

Pada minggu terakhir November 2025, bencana alam bertubi-tubi melanda Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Cuaca ekstrem memicu banjir bandang dan tanah longsor, menelan korban jiwa serta memaksa ratusan ribu warga meninggalkan rumah mereka. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam konferensi pers Jumat (9/1/2026) mencatat, 1.182 orang meninggal dunia, sementara 238.687 warga mengungsi.

Di Aceh, luka itu masih terbuka. Hingga awal Januari 2026, pencarian korban hilang masih terus dilakukan seiring status Tanggap Darurat yang diperpanjang. Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, menetapkan perpanjangan tanggap darurat di empat kabupaten/kota—Aceh Tamiang, Aceh Tengah, Gayo Lues, dan Pidie Jaya—dari 8 hingga 22 Januari 2026. Sedikitnya 145 jiwa masih dinyatakan hilang, tertimbun longsor atau terseret arus banjir.

Kabupaten Gayo Lues dan Aceh Tenggara merupakan wilayah yang paling parah dan sering dilanda bencana alam, terutama banjir dan tanah longsor, di kawasan kaki Gunung Leuser. (Dok/Foto/Mazmin/Andi)

SEMENTARA itu, Sumatera Utara dan Sumatera Barat telah memasuki fase transisi darurat. Operasi pencarian korban hilang dihentikan, namun tim SAR tetap bersiaga, menandai bahwa ancaman bencana belum sepenuhnya berlalu.

Jika ditarik ke akar persoalan, tragedi ini tak bisa dilepaskan dari perlakuan manusia terhadap alam—persis seperti yang disyaratkan Iwan Fals dalam kegelisahannya pada 1992. Penebangan liar menggerus tutupan hutan yang semestinya menjadi penyangga air dan tanah.

Alih fungsi lahan untuk perkebunan dan tambang melemahkan daya serap lingkungan. Permukiman tumbuh tanpa perencanaan mitigasi bencana. Sungai-sungai diperlakukan sebagai tempat pembuangan sampah, hingga kehilangan fungsi alaminya sebagai pengendali banjir.

Akumulasi semua itu membuat alam kehilangan keseimbangan. Ketika hujan turun lebih ekstrem akibat perubahan iklim, hutan yang gundul tak lagi mampu menahan air. Tanah yang rapuh pun longsor, sungai meluap, dan bencana menjadi tak terelakkan.

Bencana di Sumatera hari ini seolah menegaskan pesan lama itu: alam tidak pernah berkhianat, manusialah yang lebih dulu mengkhianatinya.

Kerusakan lingkungan bukan sekadar isu ekologis, melainkan ancaman nyata terhadap keselamatan manusia. (Dok/Foto/Mazmin/Andi)

KARENA itu, tragedi ini patut menjadi peringatan kolektif—bagi pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat luas—bahwa pembangunan tanpa kehati-hatian ekologis hanya menunda bencana berikutnya. Kesiapsiagaan harus diperkuat, mulai dari sistem peringatan dini, perencanaan evakuasi, hingga perlindungan kelompok rentan.

Namun lebih dari itu, pemulihan dan perlindungan lingkungan mesti ditempatkan sebagai prioritas utama: reboisasi hutan, konservasi daerah aliran sungai (DAS), penataan ruang berbasis risiko bencana, serta penegakan hukum terhadap perusakan alam.

Tiga puluh tahun setelah Hijau dinyanyikan, pesan itu kini kembali mengetuk nurani. Pertanyaannya sederhana, namun mendasar: apakah manusia masih mau belajar, atau justru terus memaksa alam membayar harga dari ketamakan yang sama?

Editor: AYS
Sumber: HITV Jakarta

  • Penulis: Zulfahmi Arsun

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gerbong Mutasi Polri Bergulir, 4 PJU Polda Babel Dan Kapolresta Pangkalpinang Berganti

    Gerbong Mutasi Polri Bergulir, 4 PJU Polda Babel Dan Kapolresta Pangkalpinang Berganti

    • 0Komentar

    HiTvBerita.com | Babel – Kepolisian Republik Indonesia (Polri) kembali merotasi sejumlah Perwira Tinggi (Pati) dan Perwira Menengah (Pamen). Termasuk dilingkungan Polda Bangka Belitung, ada beberapa Pejabat Utama dan Kapolres/ta berganti. Keputusan itu tertuang dalam Surat Telegram (ST) Kapolri terkait mutasi jabatan tertanggal 24 Juni 2025 yang ditandatangani ASSDM Polri Irjen Pol Anwar. “Ya, benar ada […]

  • Simulasi Darurat di PLTU Sebatak Karimun, Polisi Uji Kesiapan Hadapi Kebakaran hingga Huru-Hara

    Simulasi Darurat di PLTU Sebatak Karimun, Polisi Uji Kesiapan Hadapi Kebakaran hingga Huru-Hara

    • 0Komentar

    Suara sirene meraung di kawasan PLTU Sebatak Karimun, Kamis (21/5/2026) pagi. Sejumlah personel berseragam lengkap tampak bergerak cepat menuju titik pengamanan, sementara petugas lain mengevakuasi situasi yang disimulasikan sebagai kondisi darurat. KARIMUN, HITV — Bukan insiden nyata, melainkan rangkaian Simulasi Tanggap Darurat yang digelar di lingkungan PLTU Tanjung Balai Karimun sebagai upaya menguji kesiapan menghadapi […]

  • Dari 18 Pendaftar, Baru Tiga Koperasi Tambang Rakyat di NTB Kantongi Izin Operasi

    Dari 18 Pendaftar, Baru Tiga Koperasi Tambang Rakyat di NTB Kantongi Izin Operasi

    • 0Komentar

    Upaya melegalkan aktivitas pertambangan rakyat di Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai menunjukkan hasil. JAKARTA RAYA, HITV— Dari 18 koperasi yang mengajukan Izin Pertambangan Rakyat (IPR), hingga pertengahan 2026 baru tiga koperasi yang berhasil mengantongi izin dan berhak melakukan kegiatan penambangan secara resmi. Pemerintah sebelumnya telah menetapkan 16 blok Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) yang tersebar di […]

  • Sewa Lapak di Jalan Umum Pasar Samarinda Tos 3000 Disorot, Disperindag dan Satpol PP Belum Beri Penjelasan

    Sewa Lapak di Jalan Umum Pasar Samarinda Tos 3000 Disorot, Disperindag dan Satpol PP Belum Beri Penjelasan

    • 0Komentar

    Dugaan praktik uang pungutan liar terhadap pedagang di kawasan Pasar Samarinda Tos 3000, Nagoya, Kecamatan Lubuk Baja, Kota Batam, memicu sorotan publik. BATAM, HITVBerita – Pungutan yang disebut mencapai Rp35.000 per hari per pedagang itu dipertanyakan legalitas dan pengelolaannya, mengingat lokasi aktivitas berada di fasilitas jalan umum. Informasi yang dihimpun menyebutkan, pungutan tersebut telah berlangsung […]

  • Polda Babel Bakal Gelar OZM 2025 Selama 2 Pekan, Berikut Jadwal Dan Sasaran

    Polda Babel Bakal Gelar OZM 2025 Selama 2 Pekan, Berikut Jadwal Dan Sasaran

    • 0Komentar

    HITVBERITA.COM | BABEL – Kepolisian Daerah (Polda) Bangka Belitung bakal menggelar operasi Zebra Menumbing 2025. Operasi digelar selama dua pekan mulai tanggal 17 hingga 30 November 2025. Kabid Humas Polda Babel Kombes Pol Fauzan Sukmawansyah mengatakan operasi ini akan dimulai dengan apel gelar pasukan Senin besok. “Ya, dimulainya operasi nanti ditandai dengan apel gelar pasukan […]

  • Pemkab Purwakarta Gelar Uji Kompetensi dan Evaluasi Kinerja Pejabat Eselon II

    Pemkab Purwakarta Gelar Uji Kompetensi dan Evaluasi Kinerja Pejabat Eselon II

    • 0Komentar

    HITVBERITA.COM PURWAKARTA | Pemerintah Daerah Kabupaten Purwakarta melalui Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (BKPSDM) akan melaksanakan uji kompetensi dan evaluasi kinerja pejabat eselon II atau Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT). Pelaksanaan uji kompetensi dan evaluasi kinerja pejabat eselon II di lingkup Pemkab Purwakarta tersebut akan dilaksanakan selama 2 hari, yakni Rabu-Kamis, 7-8 Agustus 2024 mendatang. […]

expand_less