Kajian Surat Al-Ikhlas dan Perintah Allah untuk Manusia
- account_circle Redaksi
- calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
- visibility 45
- comment 0 komentar
- print Cetak

Oleh: Basa Alim Tualeka (Obasa)
Pendahuluan
Surat Al-Ikhlas adalah salah satu surat paling agung dalam Al-Qur’an. Meskipun hanya terdiri dari empat ayat, kandungannya merangkum inti ajaran tauhid, yaitu pengesaan Allah secara mutlak. Surat ini termasuk golongan Makkiyah dan menjadi fondasi utama dalam membangun akidah seorang muslim.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh surat ini setara dengan sepertiga Al-Qur’an.” (HR. Bukhari)
Keutamaan ini menunjukkan bahwa kandungan tauhid di dalamnya mencakup sepertiga pokok ajaran Al-Qur’an: tauhid, syariat, dan kisah.
Teks Surat Al-Ikhlas
Bismillahirrahmanirrahim
1. Qul huwa Allahu ahad
2. Allahu shamad
3. Lam yalid wa lam yulad
4. Wa lam yakun lahu kufuwan ahad
Artinya:
Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.
Tafsir dan Perintah Allah untuk Manusia
1. Qul huwa Allahu ahad
Perintah “Qul” (katakanlah) menunjukkan bahwa tauhid harus disampaikan secara terbuka. Islam bukan sekadar keyakinan pribadi, tetapi dakwah yang harus ditegaskan kepada manusia.
Kata Ahad berarti Esa secara mutlak, satu dalam zat, sifat, dan perbuatan-Nya. Allah berfirman:
> “Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan selain Dia.” (QS. Al-Baqarah: 163)
Perintah Allah:
Mengimani keesaan Allah tanpa keraguan.
Menolak segala bentuk syirik.
Menjadikan tauhid sebagai dasar hidup.
2. Allahu shamad
Makna Ash-Shamad adalah Dzat yang menjadi tempat bergantung seluruh makhluk. Allah tidak membutuhkan siapa pun, tetapi semua makhluk membutuhkan-Nya.
Allah berfirman:
> “Wahai manusia, kalianlah yang membutuhkan Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15)
Manusia sering bergantung pada harta, jabatan, atau manusia lain. Surat ini mengingatkan bahwa sandaran tertinggi hanyalah Allah.
Perintah Allah:
Memohon hanya kepada Allah.
Bertawakal dalam setiap urusan.
Tidak menggantungkan hati kepada makhluk.
3. Lam yalid wa lam yulad
Ayat ini menolak keyakinan bahwa Allah memiliki anak atau berasal dari sesuatu. Islam menegaskan bahwa Allah berbeda dengan makhluk.
Allah berfirman:
> “Tidak pantas bagi Allah mempunyai anak.” (QS. Maryam: 35)
Ayat ini membantah keyakinan kaum yang menyandarkan anak kepada Allah. Konsep tauhid dalam Islam bersih dari unsur keturunan atau pembagian kekuasaan.
Perintah Allah:
Menjaga kemurnian akidah.
Tidak menyerupakan Allah dengan makhluk.
Menolak pemahaman menyimpang tentang ketuhanan.
4. Wa lam yakun lahu kufuwan ahad
Artinya tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Allah. Tidak ada yang menyamai kekuasaan, ilmu, dan kemuliaan-Nya.
Allah berfirman:
> “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia.” (QS. Asy-Syura: 11)
Ayat ini menutup seluruh pintu kesyirikan. Tidak ada wali, nabi, malaikat, atau makhluk apa pun yang bisa disejajarkan dengan Allah.
Perintah Allah:
Menghindari pengkultusan makhluk.
Memurnikan ibadah hanya kepada Allah.
Tidak menyekutukan-Nya dalam bentuk apa pun.
Implementasi dalam Kehidupan
1. Ikhlas dalam beramal.
Semua ibadah harus murni karena Allah, bukan karena pujian atau kepentingan dunia.
2. Kuat dalam menghadapi ujian.
Orang yang bertauhid yakin bahwa Allah tempat bergantung, sehingga tidak mudah putus asa.
3. Menolak syirik modern.
Syirik tidak hanya menyembah berhala, tetapi juga mempercayai kekuatan selain Allah secara mutlak.
4. Membangun keluarga bertauhid.
Pendidikan tauhid harus ditanamkan sejak dini agar generasi kuat secara akidah.
5. Kepemimpinan yang bertanggung jawab.
Tauhid melahirkan rasa takut kepada Allah sehingga menjauhkan diri dari kezaliman dan korupsi.
Kesimpulan
Surat Al-Ikhlas adalah inti ajaran tauhid. Empat ayatnya mengajarkan bahwa Allah Maha Esa, tempat bergantung, tidak beranak dan tidak diperanakkan, serta tidak ada yang setara dengan-Nya.
Perintah Allah kepada manusia melalui surat ini adalah memurnikan ibadah, menjaga akidah, menjauhi syirik, dan menggantungkan seluruh hidup hanya kepada-Nya.
Tauhid bukan hanya konsep teologis, tetapi harus menjadi landasan dalam ibadah, akhlak, dan kehidupan sosial. Siapa yang memahami dan mengamalkan Surat Al-Ikhlas dengan benar, maka ia telah memegang fondasi utama agama.
Semoga kita termasuk hamba yang ikhlas dalam tauhid dan istiqamah hingga akhir hayat. Aamiin. (/*/*)
Ahad, 22 February 2026
- Penulis: Redaksi
