11 AC Bantuan CSR Tak Menyala, Dana BOS SMAN 1 Purwakarta Dipertanyakan!
- account_circle Redaksi
- calendar_month Senin, 11 Agt 2025
- visibility 18
- comment 0 komentar
- print Cetak

Gedung SMAN 1 Purwakarta. (Foto/Raffa/HITV)
Penulis: Raffa Christ Manalu
Alokasi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di SMAN 1 Purwakarta menuai sorotan tajam publik. Sejumlah orang tua siswa mempertanyakan transparansi pengelolaan dana miliaran rupiah dalam dua tahun terakhir, terutama terkait tidak berfungsinya 11 unit pendingin ruangan (AC) yang merupakan bantuan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dari Bank Jabar Banten (BJB).
HITVBERITA.COM | Purwakarta — Kegeraman orang tua siswa salah satunya tersulut dari unggahan di media sosial.
“Dana BOS SMAN 1 Purwakarta, ada apa denganmu?” tulis seorang wali murid dalam status WhatsApp, Senin (11/8/2025).
AC yang terpasang di sejumlah ruang kelas, kata wali murid itu, tak pernah menyala akibat pasokan listrik yang dinilai tidak memadai.
“Padahal, dengan dana BOS, pihak sekolah bisa saja menambah daya. Tapi anehnya itu tidak dilakukan. Siswa akhirnya belajar dalam kondisi panas,” ujarnya.
Data yang dihimpun Hitvberita.com menunjukkan, pada 2023 SMAN 1 Purwakarta menerima kucuran dana BOS sebesar Rp 1,8 miliar yang disalurkan dalam dua tahap, masing-masing Rp 913 juta.
Tahap I (21 Maret 2023):
Alokasi terbesar untuk Administrasi Kegiatan Sekolah Rp 328 juta, Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Rp 254 juta, serta Kegiatan Pembelajaran dan Ekstrakurikuler Rp 168 juta.
Tahap II# (25 Juli 2023):
Administrasi Kegiatan Sekolah Rp 137 juta, Pemeliharaan Sarpras Rp 270 juta, serta Pembelajaran dan Ekstrakurikuler Rp 145 juta.
Pada 2024, sekolah kembali menerima total Rp 1,8 miliar, masing-masing tahap Rp 942 juta.
Tahap I (18 Januari 2024):
Administrasi Kegiatan Sekolah Rp 270 juta, Pemeliharaan Sarpras Rp 243 juta, Pembelajaran Rp 203 juta.
Tahap II# (9 Agustus 2024): Pemeliharaan Sarpras Rp 331 juta, Administrasi Rp 167 juta, Pembelajaran Rp 141 juta.
Bagi publik, angka-angka ini menimbulkan pertanyaan. Mengapa dalam dua tahun berturut-turut, pos pemeliharaan sarpras dan administrasi sekolah menyerap ratusan juta rupiah, tetapi persoalan mendasar seperti penambahan daya listrik—yang berdampak langsung pada kenyamanan belajar—tidak terselesaikan.
“Ini sekolah favorit. Harusnya penggunaan dana berpihak pada kebutuhan siswa, bukan sekadar habis di administrasi,” kata salah seorang pemerhati pendidikan di Purwakarta.
Minimnya transparansi pengelolaan dana BOS juga dianggap sebagai masalah sistemik di satuan pendidikan.
Publik mendesak Dinas Pendidikan Jawa Barat dan instansi terkait untuk melakukan audit menyeluruh, termasuk mengevaluasi kinerja kepala sekolah dan tim pengelola dana BOS.
Hingga berita ini diterbitkan, Kepala SMAN 1 Purwakarta, Titin Kuraesin, belum memberikan keterangan resmi. (///)
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar