Warung di Jalur Subang–Lembang Rata Tanah, Pedagang Terperanjat Tanpa Peringatan!
- account_circle Redaksi
- calendar_month Sabtu, 9 Agt 2025
- visibility 35
- print Cetak

Para pemilik warung di sepanjang Jalan Perbatasan Tangkuban Perahu-Lembang mengangkut barang dagangan dan barang lainnya menggunakan mobil sewaan. (Foto/Sipahutar/HITV)
Penulis:
Mangasih Saor Marulitua Sipahutar
Matahari belum tinggi ketika deru mesin memecah kesunyian pagi di Wates I, Desa Cister, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Jumat (8/8/2025) itu, 14 bangunan warung yang berdiri di tepi Jalan Raya Tangkuban Parahu roboh di hadapan pemiliknya. Alat berat bergerak cepat, seolah waktu tak memberi jeda bagi siapa pun untuk sekadar bernapas.
HITVBERITA.COM | Subang — Pembongkaran berlangsung tanpa pemberitahuan. Aparat Satpol PP bersama Polres Subang datang, lalu menurunkan perintah yang tak lagi memberi ruang tawar. Pedagang terperanjat. Ada yang buru-buru mengemasi dagangan, ada pula yang mencoba menghadang sambil berteriak mempertanyakan alasan tindakan sepihak itu.
“Sejak pukul 10 pagi alat berat sudah di depan warung. Saya langsung cari mobil sewaan untuk angkut barang, takutnya semua hancur,” kata Rani, pedagang, dengan suara bergetar.
Pemerintah daerah menjanjikan uang kerohiman Rp 10 juta bagi yang bersedia angkat kaki, namun rencana relokasi belum jelas. Dan, bagi warga, warung-warung itu bukan sekadar bangunan, melainkan sumber penghidupan yang dibangun dari nol.
Terpantau dilokasi pembongkaran, kepanikan memuncak ketika seorang pedagang, Dian, pingsan setelah mendengar kabar pembongkaran.
Perempuan yang memiliki riwayat asma itu segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat, disertai tangis rekan-rekannya.
Sebagian pedagang menyinggung nama Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi, mantan bupati Purwakarta yang dikenal sering membantu warga dalam situasi serupa.
“Kalau Kang Dedi yang datang, mungkin nasib kami bisa lebih jelas,” ujar Eli, pedagang lain.
Pembongkaran ini diduga bagian dari penertiban bangunan liar di jalur strategis penghubung Subang–Lembang.
Namun, ketiadaan sosialisasi memunculkan pertanyaan: mengapa warga seperti diperlakukan penyusup di tanah yang telah mereka jaga bertahun-tahun?
Menjelang malam, pedagang masih memindahkan barang dagangan dan membongkar bangunan sendiri untuk menyelamatkan material yang masih layak.
“Warung ini dibangun dengan pinjaman bank yang baru lunas setahun lalu. Ada yang cicilannya masih jalan, tapi sudah harus dibongkar,” kata Eman.
Hingga berita ini diturunkan, Pemerintah Kabupaten Subang belum memberikan keterangan resmi.
Warga berharap ada jalan keluar yang manusiawi, sebelum tempat yang menjadi nadi kehidupan mereka benar-benar tinggal cerita. (///)
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar