Haidar Alwi Ingatkan: Logam Tanah Jarang, “Harta Karun” Strategis yang Harus Dijaga Rakyat
- account_circle Redaksi
- calendar_month Kamis, 4 Sep 2025
- print Cetak

R. Haidar Alwi pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute
Oleh: Paskalis Ricardo Baren
Pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, R. Haidar Alwi, mengingatkan publik tentang besarnya potensi mineral strategis Indonesia yang masih kurang dikenal luas. Salah satu yang paling vital adalah logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth element (REE), mineral langka yang kini menjadi rebutan dunia karena peranannya dalam industri teknologi tinggi dan pertahanan.
“Kalau rakyat tidak tahu, rakyat bisa jadi penonton di tanah sendiri. Padahal, inilah kunci masa depan yang menentukan apakah bangsa kita merdeka secara ekonomi atau hanya mandiri di atas kertas,” ujar Haidar, Kamis, 4 September 2025.
MINERAL VITAL MASA DEPAN
LTJ terdiri dari 17 unsur, meliputi 15 lantanida serta yttrium dan scandium. Hampir semua perangkat modern—dari ponsel pintar, mobil listrik, turbin angin, panel surya, hingga radar militer—bergantung pada mineral ini.

logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth element (REE), mineral yang kini menjadi rebutan dunia karena peranannya dalam industri teknologi tinggi dan pertahanan. (Foto/Istimewa)
Contohnya, Nd:YAG dipakai untuk laser optik militer, paduan Terfenol-D untuk sonar, dan magnet permanen Nd–Pr–Dy yang menjadi jantung motor listrik maupun turbin angin.
“Tanpa LTJ, tidak ada masa depan kendaraan listrik, energi hijau, atau pertahanan modern,” kata Haidar.
POTENSI BESAR, EKSPLORASI MINIM
BERDASARKAN data Kementerian ESDM (2020), terdapat 28 lokasi mineralisasi LTJ di Indonesia. Namun, baru sekitar 30 persen yang dieksplorasi. Potensi besar berada di Bangka Belitung dan Kepulauan Riau (dari tailing timah), Sumatera (19.917 ton endapan pelapukan), Kalimantan Barat (bauksit dan zirkon), serta Sulawesi (laterit nikel dan skandium).
“Mayoritas rakyat tidak tahu bahwa harta karun ini kerap muncul sebagai produk samping tambang timah, bauksit, dan nikel. Padahal, di situlah pintu masuk ke dunia LTJ. Kalau rakyat tahu, mereka bisa ikut mengawal agar tidak sekadar keluar negeri tanpa nilai tambah,” ujar Haidar.
NILAI EKONOMI FANTASTIS
NILAI LTJ di pasar global melambung. Harga neodymium (Nd) menembus 785.000 yuan per ton atau sekitar Rp 1,8 miliar per ton pada akhir Agustus 2025. Angka ini naik lebih dari 50 persen dalam setahun, jauh melampaui reli emas maupun platinum.

Foto ilustrasi
“Kalau dikelola benar, LTJ bisa jadi penyumbang devisa luar biasa. Lebih dari itu, ini bisa menjadi fondasi ekonomi nasional yang membuat rakyat tidak bergantung pada utang dan pajak yang membebani,” kata Haidar.
TANTANGAN dan GEOPOLITIK
DI BALIK peluang besar, terdapat risiko serius. Sejumlah mineral LTJ seperti monasit mengandung thorium dan uranium yang bersifat radioaktif sehingga butuh pengelolaan sesuai izin Bapeten. Selain itu, teknologi pemurnian Indonesia masih terbatas, sementara Tiongkok menguasai lebih dari 90 persen rantai pasok global.
“Kalau kita hanya jadi penjual bahan mentah, yang untung tetap asing. Rakyat kita hanya kebagian sisa. Pola lama ini harus dihentikan,” tegas Haidar.
MOMENTUM BARU
PEMERINTAH melalui Keppres No. 77/P Tahun 2025 membentuk Badan Industri Mineral (BIM) yang dipimpin Brian Yuliarto.
BIM ditugaskan mengelola mineral strategis, termasuk LTJ, untuk kebutuhan ekonomi dan pertahanan nasional.
Menurut Haidar, langkah ini menjadi momentum penting.
“BIM harus memastikan LTJ dikelola sesuai Pasal 33 UUD 1945, untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Jangan sekadar jadi lembaga baru tanpa aksi nyata,” katanya.
HILIRISASI dan KEDAULATAN
HAIDAR menekankan tiga prioritas utama: hilirisasi dalam negeri, pembentukan koperasi tambang rakyat di daerah penghasil, dan penguatan kedaulatan dalam kerja sama internasional.
LTJ bukan sekadar tambang, tapi soal masa depan teknologi, pertahanan, dan martabat bangsa.
“Jika mineral LTJ ini dikuasai asing, sama saja “kita” menyerahkan kunci peradaban masa depan. Akan tetapi jika LTJ dikelola bersama, ini bisa menjadi modal lahirnya kemandirian ekonomi sejati,” pungkasnya. (///)
- Penulis: Redaksi


Dalam menjalankan tugas jurnalistik di lapangan, wartawan HITV dilengkapi Surat Tugas dan ID Card yang masih berlaku dan namanya tercantum dalam Box Redaksi saat di scanning barcode.
Saat ini belum ada komentar