Prof Sutan Nasomal: Negara Tak Boleh Kalah oleh Spekulasi Orang Kaya
- account_circle Ruslan
- calendar_month Rabu, 14 Jan 2026
- visibility 80
- comment 0 komentar
- print Cetak

Prof. Dr. KH Sutan Nasomal, SH, MH | Pakar Hukum Internasional & Ekonom Nasional.
Pakar Hukum Internasional dan Ekonom Nasional, Prof. Dr. KH Sutan Nasomal, SH, MH, menegaskan bahwa Presiden RI Prabowo Subianto dan negara tidak boleh kalah oleh strategi spekulatif para pengusaha kaya yang dinilai tidak berkontribusi optimal terhadap perekonomian nasional.
JAKARTA | HITV – Hal tersebut disampaikan Prof Sutan saat menjawab pertanyaan para pemimpin redaksi media cetak dan daring, termasuk dari luar negeri, di Markas Pusat Partai Oposisi Merdeka, Jakarta, Rabu (14/1/2026).
Menurut Prof Sutan, perputaran ekonomi nasional sangat bergantung pada belanja kelompok berpenghasilan tinggi. Namun, realitas yang terjadi justru sebaliknya. Banyak orang kaya memilih menumpuk dana di rekening, memburu dolar AS, emas, atau saham, serta membelanjakan kekayaannya di luar negeri.
>“Uang para orang kaya seharusnya menghidupkan pasar dan menciptakan lapangan kerja di Indonesia, bukan justru mengalir ke luar negeri tanpa dampak bagi ekonomi nasional,” ujarnya.
Ia menilai, selama ini pemerintah menanggung beban besar pengangguran, sementara para pemilik modal enggan melakukan terobosan penciptaan lapangan kerja di dalam negeri. Karena itu, Prof Sutan mendorong Presiden Prabowo untuk menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) yang mengarahkan kelompok pengusaha kaya agar lebih aktif membantu negara menciptakan lapangan kerja.
Prof Sutan juga menekankan pentingnya strategi pemerintah dalam menjaga agar para pengusaha besar tetap “satu kamar” dengan negara. Artinya, merasa aman dan nyaman berusaha serta membelanjakan kekayaannya di Indonesia.
>“Negara harus menyiapkan ruang dan strategi khusus agar para orang kaya tidak kabur ke luar negeri. Jika mereka tidak merasa aman dan nyaman, maka para menteri harus bertanggung jawab menyiapkan solusinya,” tegasnya.
Di sisi lain, Prof Sutan mengingatkan kondisi ekonomi masyarakat yang kian tertekan. Melemahnya nilai rupiah terhadap dolar AS berdampak langsung pada kenaikan harga barang kebutuhan pokok, sementara pendapatan masyarakat cenderung stagnan atau menurun.
Ia menggambarkan, nilai Rp1 juta pada 2026 setara dengan sekitar Rp300 ribu pada 2005 dari sisi daya beli. Akibatnya, masyarakat kelas menengah kini nyaris tak memiliki tabungan dan banyak yang terjerat pinjaman online (pinjol) hanya untuk bertahan hidup.
>“Kondisi ini sudah mengarah pada super krisis bagi masyarakat kecil dan menengah. Banyak yang hanya mampu makan satu hingga dua kali sehari dengan makanan seadanya,” kata Prof Sutan.
Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa pemerintah harus mengambil alih kendali jalur ekonomi nasional dan memastikan kekuatan modal besar berpihak pada kepentingan rakyat dan negara, bukan justru melemahkan perekonomian Indonesia. (/*/*/)
Editor: AYS Prayogie
Sumber: HITV Kepri
- Penulis: Ruslan
