Warga Desa Bumi Etam Dorong PT Ganda Alam Makmur Prioritaskan Tenaga Kerja Lokal
- account_circle Redaksi
- calendar_month Kamis, 22 Jan 2026
- visibility 90
- comment 0 komentar
- print Cetak

Salah satu tuntutan dalam penyampaian aspirasi tersebut, warga masyarakat lokal dan masyarakat adat diberikan kemudahan akses dalam proses rekrutmen tenaga kerja di PT GAM. (Dok/Foto/Ritonga)
Penulis : M. Zulkifli Ritonga
Puluhan warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Desa Bumi Etam, Kecamatan Kaubun, Kabupaten Kutai Timur, menyampaikan aspirasi kepada manajemen PT Ganda Alam Makmur (GAM), Selasa (21/1/2026). Mereka meminta perusahaan tambang tersebut lebih memprioritaskan perekrutan tenaga kerja lokal dan masyarakat adat di sekitar wilayah operasional.
KUTAI TIMUR | HITV — Aksi yang juga melibatkan kelompok Masyarakat Kukaur Bersatu itu digelar sebagai bentuk keprihatinan atas minimnya keterlibatan warga setempat dalam aktivitas pertambangan yang berlangsung di wilayah mereka.
Koordinator aksi, Erwin Santoso, menilai kehadiran industri pertambangan sejauh ini belum sepenuhnya memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat lokal. Menurut dia, masih terdapat ketimpangan dalam komposisi tenaga kerja, terutama pada posisi yang justru banyak diisi oleh pekerja dari luar daerah, bahkan dari luar Pulau Kalimantan.
“Kami tidak ingin masyarakat pribumi dan putra daerah hanya menjadi penonton di tanah sendiri. Banyak warga lokal yang memiliki kemampuan dan kemauan untuk bekerja, tetapi kesempatan itu belum terbuka secara adil,” ujar Erwin dalam orasinya.
Dalam penyampaian aspirasi tersebut, warga mengajukan sejumlah tuntutan. Pertama, mereka meminta adanya kemudahan dan prioritas akses bagi masyarakat lokal dan masyarakat adat dalam proses rekrutmen tenaga kerja di PT GAM. Kedua, masyarakat mendorong perusahaan untuk lebih transparan dalam menyampaikan proporsi tenaga kerja lokal dan tenaga kerja dari luar daerah. Ketiga, warga menuntut adanya perhatian yang lebih serius terhadap pemberdayaan dan kesejahteraan masyarakat adat di sekitar area tambang.
Erwin menegaskan, aksi ini bukan semata bentuk penolakan terhadap investasi, melainkan upaya memastikan agar kehadiran perusahaan memberikan manfaat nyata bagi penduduk setempat. Ia berharap manajemen PT GAM membuka ruang dialog dan merespons aspirasi masyarakat secara konstruktif.
“Kami ingin berkontribusi dan menjadi bagian dari pembangunan di daerah sendiri. Harapannya, perusahaan dapat membuka diri dan memberikan kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat lokal,” kata Erwin.
Hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen PT Ganda Alam Makmur belum memberikan pernyataan resmi terkait tuntutan tersebut. Perwakilan masyarakat menyatakan masih menunggu tindak lanjut dan langkah konkret dari perusahaan. (\•/)
Editor: AYS
Sumber: HITV Kaltim
- Penulis: Redaksi
