Senin, 26 Okt 2026
dark_mode

Kasat Intelkam Polres Lingga Bekali Mahasiswa STIT Kepemimpinan dan Etika Bermedia Sosial

  • account_circle Ruslan
  • calendar_month 2 jam yang lalu
  • print Cetak

Mahasiswa dituntut tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga mampu berpikir kritis, menjaga integritas, dan menyampaikan aspirasi secara bertanggung jawab.

LINGGA, HITV — Di tengah derasnya arus informasi digital, kecakapan memilah informasi dan kedewasaan dalam berdemokrasi menjadi bagian penting dari karakter kepemimpinan generasi muda.

Pesan tersebut disampaikan Kasat Intelkam Polres Lingga, IPTU Dony Giatman, SH, saat menjadi narasumber dalam kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) bagi mahasiswa baru Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Lingga, Minggu (25/10/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STIT Lingga itu berlangsung mulai pukul 13.00 WIB di Gedung Sanggar Batu Berdaun, Desa Batu Berdaun, Kecamatan Singkep, Kabupaten Lingga. PBAK diikuti mahasiswa baru Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Manajemen Pendidikan Islam (MPI).

Hadir bersama dua personel Polres Lingga, Dony memberikan pembekalan mengenai kepemimpinan mahasiswa, komunikasi, solidaritas, integritas, serta pentingnya membangun hubungan yang konstruktif antara kepolisian dan lingkungan akademis.

Mahasiswa Bukan Sekadar Peserta Didik

Dony menegaskan, mahasiswa memiliki posisi strategis dalam kehidupan sosial dan demokrasi. Selain sebagai agen perubahan (agent of change), mahasiswa juga berperan sebagai kontrol sosial (social control) sekaligus kekuatan intelektual yang dapat mengawal pembangunan dan mengkritisi kebijakan pemerintah.

Menurutnya, penyampaian aspirasi merupakan bagian dari kehidupan demokrasi yang dapat dilakukan melalui diskusi, audiensi, demonstrasi, maupun bentuk partisipasi lainnya sesuai ketentuan hukum.

Karena itu, perbedaan pandangan antara mahasiswa, pemerintah, dan kepolisian semestinya tidak langsung dipandang sebagai persoalan keamanan. Yang terpenting adalah bagaimana aspirasi disampaikan secara tertib, damai, dan bertanggung jawab.

Melalui kegiatan PBAK ini, mahasiswa baru STIT Lingga diharapkan mampu mengembangkan karakter kepemimpinan yang berintegritas, berpikir kritis, menjaga solidaritas, serta menjalankan fungsi sosial secara bijaksana. (Dok/Foto/Ruslan)

KOMUNIKASI terbuka antara Polri dan mahasiswa, lanjutnya, diperlukan untuk membangun kepercayaan sekaligus mencegah kesalahpahaman yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).

Kepemimpinan Harus Ditopang Integritas

Materi kepemimpinan turut disampaikan Aipda Rudy Andika, SH, selaku Ps. Kanit Politik Satintelkam Polres Lingga.

Rudy menjelaskan, seorang pemimpin mahasiswa tidak cukup hanya mampu menggerakkan organisasi. Kepemimpinan harus dibangun di atas integritas, kepedulian sosial, kemampuan berkomunikasi, kerja sama, serta keberanian mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

“Pemimpin mahasiswa harus mampu membangun solidaritas, bekerja sama, dan menyelesaikan perbedaan melalui dialog serta musyawarah. Mahasiswa juga memiliki peran penting sebagai penggerak sosial, mitra pembangunan, dan pengawal demokrasi,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya fungsi kontrol sosial yang dijalankan secara objektif. Kritik terhadap kebijakan pemerintah maupun pelayanan publik, menurutnya, perlu didasarkan pada fakta dan disertai masukan konstruktif.

Rudy mengingatkan bahwa kritik terhadap pemerintah atau kepolisian tidak dengan sendirinya menunjukkan adanya ancaman kamtibmas. Penyampaian pendapat merupakan bagian dari demokrasi yang harus dipahami secara proporsional.

Dalam pembekalan tersebut, mahasiswa juga diperkenalkan dengan konsep Manajemen Taktik Leader (MTL) sebagai pendekatan untuk memahami kepemimpinan dan pengelolaan kelompok.

Sementara itu, filosofi tali yang diikatkan pada lengan kiri mahasiswa dijelaskan sebagai simbol kebersamaan dan solidaritas. Mahasiswa juga diingatkan mengenai pentingnya kesiapan ilmu, kematangan berpikir, dan tanggung jawab dalam menghadapi tahapan kehidupan, termasuk membangun rumah tangga.

Saring Sebelum Sharing

Selain kepemimpinan, etika bermedia sosial menjadi perhatian penting dalam materi yang disampaikan Dony.

Mahasiswa diingatkan agar tidak mudah menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, berita bohong atau hoaks, maupun konten provokatif yang berpotensi memicu keresahan di tengah masyarakat.

Prinsip saring sebelum sharing dinilai penting agar mahasiswa mampu membedakan informasi faktual dari kabar yang menyesatkan. Sebagai kelompok terdidik, mahasiswa diharapkan tidak sekadar menjadi konsumen informasi, tetapi juga berperan dalam membangun ruang digital yang sehat, kritis, dan bertanggung jawab.

Kecakapan bermedia sosial tersebut menjadi semakin relevan karena informasi yang tersebar tanpa verifikasi dapat memengaruhi persepsi publik, memperuncing perbedaan, bahkan memicu konflik sosial.

Perkuat Dialog Kampus dan Kepolisian

Melalui kegiatan PBAK ini, mahasiswa baru STIT Lingga diharapkan mampu mengembangkan karakter kepemimpinan yang berintegritas, berpikir kritis, menjaga solidaritas, serta menjalankan fungsi sosial secara bijaksana.

Kegiatan tersebut juga menjadi ruang edukasi untuk memperkuat komunikasi antara kepolisian dan kalangan akademis. Namun, kemitraan yang sehat tidak hanya bertumpu pada pemahaman mengenai kamtibmas, melainkan juga pada penghormatan terhadap hak mahasiswa untuk berpikir kritis, menyampaikan pendapat, dan menjalankan fungsi kontrol sosial sesuai hukum.

Dengan demikian, mahasiswa diharapkan tumbuh sebagai generasi intelektual yang tidak hanya cakap memimpin organisasi, tetapi juga mampu menjaga nalar kritis, menjunjung etika, dan berkontribusi bagi kehidupan masyarakat yang aman, tertib, serta demokratis.

Kegiatan PBAK mahasiswa baru STIT Lingga berlangsung dalam keadaan aman dan kondusif. (*/)

Penulis: Ruslan
Editor: AYS

  • Penulis: Ruslan

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less