Minggu, 1 Mar 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kabar Daerah » Menjaga Jalan, Menjaga Harapan: Suara Driver Ojol dari Pangkalan Bun

Menjaga Jalan, Menjaga Harapan: Suara Driver Ojol dari Pangkalan Bun

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Selasa, 2 Sep 2025
  • visibility 30
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Menjaga Jalan, Menjaga Harapan: Suara Driver Ojol dari Pangkalan Bun

Penulis: Kistolani Mangun Jaya

Pagi baru saja beranjak. Udara di Pangkalan Bun masih bercampur antara embun dan debu jalanan ketika puluhan pengemudi ojek online (ojol) bergegas menuju lapangan praktik uji SIM Satlantas Polres Kotawaringin Barat, Senin (1/9/2025). Jaket hijau dan hitam yang mereka kenakan tampak lusuh, sebagian basah oleh keringat karena menuntaskan beberapa order sebelum mengikuti pelatihan.

HITVBERITA.COM | Pangkalan Bun – Hari itu, Polres Kobar menggelar pelatihan safety riding. Bagi sebagian besar pengemudi, acara ini bukan sekadar belajar teknik pengereman mendadak atau menjaga jarak aman, melainkan kesempatan langka untuk didengar.

“Kalau di jalan, kami lebih sering dianggap mengganggu lalu lintas ketimbang pekerja yang mencari nafkah. Padahal, kami punya keluarga yang harus makan,” ujar Asep, salah seorang pengemudi ojol, sambil merapikan helm yang sudah mulai terkelupas catnya.

SEHARI-hari, para pengemudi ojol di Pangkalan Bun memulai aktivitas sejak fajar. Pesanan pertama biasanya datang dari pelanggan yang membutuhkan tumpangan ke pasar atau kantor. Di siang hari, sebagian besar mereka beralih mengantar makanan atau belanja daring.

“Kadang seharian bisa dapat sepuluh order, kadang hanya tiga. Tidak ada yang pasti. Kalau hujan deras, ya bisa kosong sama sekali,” kata Junaidi, pengemudi lain yang sudah tiga tahun bergabung dengan aplikasi transportasi daring.

Pendapatan yang tak menentu membuat banyak pengemudi bekerja lebih dari 12 jam sehari.

“Kalau tidak kejar target, dapur bisa tidak ngebul. Tapi semakin lama di jalan, risiko juga makin besar. Pernah jatuh, masuk rumah sakit, tapi biaya tanggung sendiri,” ujar Junaidi lirih.

KEKHAWATIRAN terbesar para pengemudi adalah soal keselamatan kerja. Tidak semua terdaftar dalam BPJS Ketenagakerjaan. Ketika kecelakaan terjadi, beban biaya medis menjadi tanggung jawab pribadi.

“Kami ini rentan sekali. Setiap hari di jalan, tapi perlindungan sosial belum jelas. Kami berharap ada regulasi yang bisa melindungi,” kata Asep, yang hari itu dipercaya mewakili suara rekan-rekannya.

Selain perlindungan, ruang komunikasi juga menjadi sorotan. Menurut mereka, pemerintah daerah maupun kepolisian jarang membuka kanal resmi untuk berdialog.

“Kami butuh wadah. Jangan hanya mengundang kalau ada acara formal. Harus ada pertemuan rutin, komunikasi terbuka,” tegas Asep.

MESKI menghadapi berbagai keterbatasan, komunitas driver ojol di Pangkalan Bun tetap memilih jalan damai. Mereka sepakat menolak aksi turun ke jalan yang berpotensi menimbulkan kericuhan.

“Kami sudah sepakat, tidak ada demo, tidak ada aksi provokatif. Kami ingin Pangkalan Bun tetap aman. Tapi jangan hanya minta kami menjaga kondusifitas, kami pun ingin diajak bicara,” ujar ketua komunitas.

Ia menambahkan, format acara seperti safety riding belum cukup untuk menampung semua suara.

“Kalau hanya sebatas latihan berkendara, waktunya terlalu sempit untuk berdiskusi. Padahal, unek-unek kami banyak. Kalau begini terus, mungkin ke depan kami pikir-pikir untuk ikut,” katanya blak-blakan.

KAPOLRES Kobar AKBP Theodorus Priyo Santosa yang hadir dalam kegiatan itu mendengar langsung keluhan para pengemudi. Ia mengaku terbuka untuk menindaklanjuti aspirasi tersebut.

“Masukan ini sangat penting. Bukan hanya soal keselamatan berkendara, tetapi juga komunikasi dua arah. Kami siap memfasilitasi pertemuan yang lebih terbuka dan intensif,” kata Theodorus.

Beberapa pengemudi tampak tersenyum menerima perlengkapan sederhana itu. Namun di balik senyum, tersimpan harapan yang jauh lebih besar. (Foto/Kisto/HITV)

KEGIATAN pagi itu ditutup dengan pembagian helm dan rompi reflektif. Beberapa pengemudi tampak tersenyum menerima perlengkapan sederhana itu.

Namun di balik senyum, tersimpan harapan yang jauh lebih besar: agar suara mereka tak lagi sekadar bisikan di jalanan, melainkan benar-benar terdengar di ruang pengambilan kebijakan. (///)

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less