Mobil SPPG Tabrak Siswa di Cilincing, Fahira Idris Minta Pemerintah Lakukan Investigasi Menyeluruh dan Perkuat SOP Operasional
- account_circle Redaksi
- calendar_month Kamis, 11 Des 2025
- visibility 129
- print Cetak

Anggota DPD RI asal DKI Jakarta, Fahira Idris, menyatakan duka mendalam atas insiden kecelakaan di SDN Kalibaru I Cilincing. (Dok/Foto/Bai/Musa)
Penulis: Bainana Bahthy
Insiden kecelakaan yang melibatkan mobil Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di SDN Kalibaru I, Cilincing, Jakarta Utara, Kamis pagi, 11 Desember 2025, memunculkan gelombang keprihatinan dari berbagai kalangan. Kendaraan operasional milik program layanan gizi tersebut dilaporkan menabrak sejumlah siswa serta seorang guru saat memasuki area sekolah. Sejumlah siswa mengalami luka-luka dan harus dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat.
JAKARTA | HITV — Anggota DPD RI asal DKI Jakarta, Fahira Idris, menyatakan duka mendalam atas kejadian itu. Ia menyebut insiden tersebut bukan hanya tragedi kemanusiaan, tetapi juga indikasi adanya celah serius dalam mekanisme pengawasan dan operasional layanan publik di lingkungan sekolah.
“Saya sangat prihatin dan berduka atas kejadian tragis ini. Semoga seluruh korban segera pulih dan keluarga mereka diberikan keteguhan menghadapi situasi sulit ini,” ujar Fahira dalam keterangannya di Kompleks Parlemen, Senayan.
Menurut Fahira, penanganan terhadap korban merupakan prioritas mutlak. Ia menekankan bahwa seluruh korban harus mendapatkan perawatan medis terbaik hingga benar-benar pulih. Selain itu, keluarga korban perlu memperoleh pendampingan administrasi, informasi yang jelas mengenai kondisi korban, serta dukungan psikologis.
Desak Investigasi Menyeluruh
Fahira meminta aparat kepolisian melakukan investigasi menyeluruh untuk mengetahui penyebab kecelakaan. Ia menilai penegakan hukum harus memastikan ada transparansi atas seluruh unsur yang berpotensi memicu insiden, mulai dari kelalaian manusia hingga faktor teknis kendaraan.
Dalam laporan awal, pengemudi yang membawa mobil tersebut diketahui merupakan sopir pengganti, bukan sopir tetap. Bagi Fahira, informasi ini penting untuk ditelusuri lebih lanjut, terutama terkait kelayakan pengemudi serta kepatuhan terhadap prosedur operasional yang telah ditetapkan.
Perlu Audit Standar Operasional SPPG
SENATOR yang dikenal aktif menyuarakan isu perlindungan anak ini menilai insiden tersebut menuntut evaluasi fundamental terhadap standar operasional pelayanan gizi di sekolah-sekolah. Audit menyeluruh, menurutnya, harus mencakup:
• mekanisme rekrutmen dan verifikasi kompetensi sopir,
• standar pelatihan dan pemeriksaan kesehatan pengemudi,
• pengecekan rutin kelayakan kendaraan sebelum digunakan,
•serta kepatuhan sopir dan mitra pelaksana terhadap prosedur pengantaran ke sekolah.
Ia menekankan bahwa kendaraan operasional yang memasuki kawasan pendidikan membawa risiko tersendiri sehingga harus dikelola dengan tingkat kehati-hatian tinggi.
Pengawasan terhadap Mitra Pelaksana
KARENA kendaraan dan sopir berada di bawah tanggung jawab mitra penyelenggara SPPG, Fahira meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperketat pengawasan. Menurutnya, tidak boleh ada celah dalam proses rekrutmen sopir maupun perawatan kendaraan.
“Pengawasan terhadap mitra harus diperkuat, termasuk memastikan seluruh aspek operasional benar-benar sesuai standar. Setiap bentuk kelalaian yang melibatkan keselamatan anak tidak boleh ditoleransi,” tegasnya.
Penataan Akses Kendaraan di Sekolah
FAHIRA juga menyoroti perlunya evaluasi tata ruang dan pengaturan lalu lintas internal di lingkungan sekolah. Ia menilai area sekolah harus menjadi zona aman bagi anak, sehingga kendaraan yang tidak memiliki urgensi untuk masuk ke halaman sekolah sebaiknya hanya berhenti di titik tertentu yang telah diatur.
Peninjauan ulang jalur masuk kendaraan operasional, titik bongkar muat barang, serta pengawasan petugas sekolah dinilai mendesak untuk mencegah potensi kecelakaan serupa.
Dampingan Psikologis Sangat Dibutuhkan
SELAIN penanganan fisik, Fahira menekankan pentingnya pendampingan psikologis. Ia menyebut insiden semacam ini dapat meninggalkan trauma pada korban dan pada siswa lain yang menyaksikan kejadian.
“Pemulihan psikologis harus menjadi bagian integral dari penanganan. Anak-anak harus dipastikan merasa aman kembali di lingkungan sekolah,” katanya.
Dorong Perbaikan Sistemik
DI penghujung pernyataannya, Fahira menegaskan bahwa insiden ini harus menjadi momentum pembenahan menyeluruh. Ia berharap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama mitra penyelenggara program SPPG segera mengevaluasi seluruh tahapan operasional guna mencegah kejadian serupa terulang.
“Evaluasi dan perbaikan harus dilakukan secara menyeluruh dan tuntas. Keselamatan anak adalah prioritas utama dan tidak boleh ada kompromi dalam urusan ini,” ujarnya menutup. (/*/*/)
Editor: AYS
Sumber: Musa — Bang Japar
- Penulis: Redaksi
