Mutasi Empat Siswa Picu Isu Bullying, SMPN 12 Arut Selatan Bantah Lengah
- account_circle Redaksi
- calendar_month Kamis, 11 Sep 2025
- visibility 22
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kepala SMPN 12 Arut Selatan, Eka Rubiyatun, menyatakan sejak awal tahun ajaran baru sekolah yang dipimpinnya telah memperkuat langkah pencegahan kekerasan. (Foto/Kisto/HITV)
Penulis: Kistolani Mangun Jaya
Kepindahan empat siswa dari SMP Negeri 12 Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), memunculkan isu dugaan bullying yang santer diperbincangkan para orang tua murid. Pihak sekolah membantah tudingan tersebut dan menegaskan tidak ada laporan resmi mengenai kasus perundungan.
HITVBERITA.COM | Pangkalan Bun – Kepindahan empat siswa dari SMP Negeri 12 Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), memunculkan isu dugaan bullying yang santer diperbincangkan para orang tua murid. Pihak sekolah membantah tudingan tersebut dan menegaskan tidak ada laporan resmi mengenai kasus perundungan.
Kepala SMPN 12 Arut Selatan, Eka Rubiyatun, menyatakan sejak awal tahun ajaran baru sekolah telah memperkuat langkah pencegahan kekerasan.
“Saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), kami sudah menyampaikan materi pencegahan kekerasan, deklarasi anti-kekerasan, memasang spanduk, hingga membagikan informasi melalui media sosial sekolah. Jadi, siswa sudah dibekali pemahaman sejak awal,” ujarnya, Rabu (10/9/2025).
Menurut Eka, sekolah juga memiliki Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) yang lengkap, dilengkapi ruang khusus, struktur organisasi, dokumentasi kegiatan, hingga kotak pengaduan.
Bahkan SMPN 12 ditunjuk Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Kalimantan Tengah sebagai sekolah percontohan implementasi program pencegahan kekerasan.
“Selama ini tidak ada laporan resmi dari siswa, orang tua, maupun wali kelas terkait bullying. Anak-anak yang bersangkutan juga sempat mengikuti kegiatan sekolah. Karena itu, kami keberatan jika sekolah disebut membiarkan kekerasan,” kata Eka menegaskan.
MESKI pihak sekolah membantah, isu ini terus berkembang di kalangan orang tua murid. Pasalnya, empat siswa yang pindah telah diterima di SMPN 1 Arut Selatan.
Padahal, pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2025, SMPN 1 Arut Selatan tersebut, dinyatakan penuh dan tidak menambah kuota siswa baik jalur zonasi maupun prestasi.
Kondisi itu menimbulkan dugaan adanya kejanggalan dalam proses mutasi. Sejumlah orang tua siswa pun akhirnya meminta Dinas Pendidikan Kobar turun tangan melakukan klarifikasi.
“Kalau memang mutasi sesuai aturan administrasi, tentu tidak masalah. Tapi kalau ada pesanan khusus, harus diluruskan,” ujar seorang wali murid.
Di tengah silang pendapat, ada pula yang berpendapat bahwa seharusnya orang tua mendukung langkah sekolah dalam mencegah bullying, alih-alih memperuncing isu dengan memindahkan siswa ke sekolah lain di wilayah yang berdekatan.
“Yang penting itu keseriusan anak belajar, bukan semata nama sekolahnya,” kata orang tua lainnya.
EKA menekankan, pihaknya selalu terbuka menerima kritik, laporan, maupun masukan dari orang tua. Namun ia berharap agar persepsi publik tidak dibangun dari isu sepihak.
“Kalau ada orang tua yang merasa lebih cocok menitipkan anaknya di sekolah lain, kami menghargai penuh. Namun jangan sampai timbul kesan sekolah ini lalai atau menutup mata, karena kami sudah menjalankan langkah pencegahan sesuai aturan,” ujarnya. (///)
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar