Rabu, 15 Apr 2026
light_mode

Prof Ali Zum Mashar, Ilmuwan Bersahaja di Balik Terobosan Pangan Nasional

  • account_circle AYS Prayogie
  • calendar_month Selasa, 10 Feb 2026
  • print Cetak

Penulis: AYS Prayogie

Prof. Dr. Ir. Ali Zum Mashar bukan tipe ilmuwan yang gemar menonjolkan diri. Selama lebih dari dua dekade, ia memilih bekerja sunyi di laboratorium dan lahan-lahan marginal, meneliti tanah, mikroba, serta daya hidup tanaman.

JAKARTA | HITV — Namun, dari kerja senyap itulah lahir temuan yang kini mengantarkannya duduk dalam rapat terbatas bersama Presiden RI Prabowo Subianto dan para menteri terkait, membahas masa depan swasembada pangan Indonesia.

Ali Zum Mashar adalah salah satu ilmuwan bioteknologi pertanian yang konsisten menjembatani sains dengan kebutuhan nyata petani.

Salah satu temuan pentingnya adalah mikroba yang kemudian dikenal sebagai Mikroba Google (MIGO)—sebuah inovasi yang telah ia kembangkan sejak sekitar 25 tahun lalu.

Melalui mikroba ini, tanah-tanah yang selama ini dianggap bermasalah, seperti gambut, tanah asam, dan Tanah beracun Pirit dapat diregenerasi menjadi lahan subur dan produktif.

“Tanah itu rumah makhluk hidup. Jika dipulihkan ekosistemnya, ia akan memberi hasil,” begitu prinsip yang kerap ia sampaikan dalam berbagai forum.

Mikroba yang Menghidupkan Tanah

Dari pengembangan MIGO, Prof. Ali melahirkan sejumlah produk pupuk organik berbasis mikroba, antara lain PHOSMIT BioP2000Z dan Ferris Soil. Produk-produk ini bekerja bukan sekadar memberi unsur hara, melainkan membangun kembali sistem biologis tanah.

Berbeda dari pupuk kimia konvensional, pupuk berbasis Mikroba Google bersifat regenerative fertilizer—mikroba berfungsi sebagai “pabrik pupuk alami” dan penangkap emisi karbon langsung ke dalam tanah yang terus memproduksi nutrisi tanpa katalis kimia maupun bahan bakar fosil. Selain sepenuhnya organik, pupuk ini juga mengandung komposisi biologis lengkap, mulai dari asam humat, protein, enzim, hingga hormon alami yang mudah diserap tanaman.

Hasilnya terlihat nyata di lapangan. Pada tanaman alpukat, misalnya, ukuran buah menjadi lebih bernas, seragam dan sesuai kebutuhan pasar. Pada tanaman pangan, produktivitas bahkan dilaporkan meningkat dua hingga tiga kali lipat. Tanah berbatu, berpasir, berpirit, hingga bekas tambang pun dapat diolah tanpa masa tunggu panjang.

Keunggulan lain yang kerap disorot adalah efisiensi biaya. Dengan harga jauh lebih murah dibanding pupuk kimia, teknologi ini membuka peluang besar bagi petani kecil untuk meningkatkan hasil tanpa menambah beban produksi.

Dari Laboratorium ke Istana Negara

Kontribusi Prof. Ali tidak berhenti pada perbaikan tanah. Dalam konteks ketahanan pangan nasional, perannya kian strategis ketika ia diundang Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas membahas percepatan swasembada kedelai dan pangan strategis lainnya.

Dalam forum tersebut, Prof. Ali memaparkan hasil riset varietas padi TRISAKTI dan kedelai MIGO Garuda Merah Putih yang dikembangkan bersama teknologi mikroba.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah peluncuran enam varietas baru bertajuk “Kedelai Garuda Merah Putih”, yang dirancang adaptif terhadap berbagai kondisi iklim dan tanah di Indonesia.

Produktivitas kedelai dari varietas ini mencapai lebih dari 4 ton per hektare, bahkan dalam Uji coba hamparan luas 30 ha hasilnya 5,3 ton/ha dan telah dicatat resmi oleh BPS (Badan Pusat Statistik) jauh di atas rata-rata nasional yang selama ini berada di bawah 1,6 ton per hektare. Seluruh varietas tersebut merupakan non-GMO, sehingga aman untuk konsumsi manusia dan sesuai dengan kebutuhan industri pangan seperti tahu, tempe, dan susu kedelai.

Pemerintah menargetkan swasembada kedelai dapat dicapai dalam waktu relatif singkat, dari ketergantungan impor menuju dominasi produksi dalam negeri. Bagi Prof. Ali, target itu realistis jika riset, kebijakan, dan pendampingan petani berjalan seiring.

Ilmu untuk Kehidupan

Selain kedelai, teknologi Mikroba Google juga telah diaplikasikan pada sawit, buah-buahan, dan tanaman pangan lain dengan hasil menjanjikan. Bahkan di tengah musim kemarau, metode penyemprotan berbasis drone memungkinkan efisiensi air tanpa mengorbankan produktivitas.

Bagi Prof. Ali Zum Mashar, capaian ilmiah bukanlah tujuan akhir. “Ilmu harus menyejahterakan,” ujarnya suatu kali. Kesahajaan sikapnya sejalan dengan besarnya dampak temuannya—dari lahan marginal hingga meja perencanaan nasional.

Di tengah upaya Indonesia meneguhkan diri sebagai lumbung pangan dunia, sosok seperti Prof. Ali menjadi pengingat bahwa ketahanan pangan bukan semata soal anggaran dan kebijakan, melainkan juga tentang ketekunan ilmuwan yang bekerja untuk masa depan bangsa. (\•/)

Sumber: Humas MIO Indonesia

  • Penulis: AYS Prayogie

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemerintah Dekatkan Layanan, Warga Purwakarta Antusias Sambut Pelayanan Publik Terpadu

    Pemerintah Dekatkan Layanan, Warga Purwakarta Antusias Sambut Pelayanan Publik Terpadu

    • 0Komentar

    Penulis: Yosefa Putri Agustina Manalu Upaya Pemerintah Kabupaten Purwakarta dalam memperluas akses pelayanan publik mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Hal ini terlihat dalam gelaran *Pelayanan Publik Terpadu* yang digelar di Desa Dangdeur, Kecamatan Bungursari, Selasa (5/8/2025). HITVBERITA.COM | Purwakarta — Kegiatan yang langsung dipantau Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein—akrab disapa Om Zein—merupakan bagian dari komitmen […]

  • Putra Kalteng Mukhtarudin Masuk Kabinet, Dilantik Jadi Menteri Perlindungan Pekerja Migran

    Putra Kalteng Mukhtarudin Masuk Kabinet, Dilantik Jadi Menteri Perlindungan Pekerja Migran

    • 0Komentar

    Penulis: Ismail R  Presiden Prabowo Subianto melantik Mukhtarudin sebagai Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia dalam upacara resmi di Istana Negara, Jakarta, Senin (8/9/2025). HITVBERITA.COM | Pangkalan Bun—Mukhtarudin telah dipercaya masuk Kabinet Merah Putih menggantikan Abdul Kadir Karding. Politisi asal Kalimantan Tengah itu sebelumnya merupakan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI dari daerah pemilihan Kalimantan Tengah. “Pak Mukhtarudin […]

  • Hilirisasi Komoditas Perkebunan Mampu Meningkatkan Penerimaan Devisa Negara

    Hilirisasi Komoditas Perkebunan Mampu Meningkatkan Penerimaan Devisa Negara

    • 0Komentar

    Penulis: Syamsu Marlin  Penguatan Hilirisasi komoditas perkebunan nilai jualnya tinggi yang mampu meningkatkan penerimaan devisa negara. Sejumlah komoditas unggulan seperti kopi, cengkeh, kelapa, mete, kakao, pala, sawit, lada, dan komoditas ekspor lainnya menjadi fokus hilirisasi. HITVBERITA.COM | Jakarta – Hal ini terungkap dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Percepatan Pelaksanaan Program Hilirisasi Komoditas Prioritas Perkebunan yang […]

  • Gubernur Kalteng Ajak Insan Pers Perkuat Silaturahmi dan Komunikasi Publik

    Gubernur Kalteng Ajak Insan Pers Perkuat Silaturahmi dan Komunikasi Publik

    • 0Komentar

      Pertemuan rutin antara Gubernur Kalimantan Tengah, Agustiar Sabran, dan insan pers kembali digelar pada Kamis (21/11/2025). Forum silaturahmi yang dihadiri organisasi wartawan dan jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemerintah Provinsi Kalteng itu menjadi ruang dialog terbuka untuk memperkuat komunikasi strategis dalam pembangunan daerah.   HITVBERITA.COM | Palangka Raya — Dalam pertemuan tersebut, pemerintah menegaskan […]

  • Wayang Banyumasan Hadirkan Pesona Budaya di Bukit Pangonan Indah

    Wayang Banyumasan Hadirkan Pesona Budaya di Bukit Pangonan Indah

    • 0Komentar

    Penulis : R. Ahdiyat Menjelang senja, masyarakat tumpah ruah di Area Wisata Alam Bukit Pangonan Indah, Desa Karanggintung, Kecamatan Kemranjen, Banyumas. Mereka antusias menyaksikan Gelar Seni Budaya Wayang Banyumasan bersama Dalang Ki Ulum Karto Diwiryo dan Sanggar Seni Karawitan Karya Sasmita, sebuah pertunjukan unik yang menghadirkan keindahan budaya di tengah panorama alam terbuka. HITVBERITA.COM | […]

expand_less