Busway dan Wajah Baru Transportasi Rakyat Jakarta
- account_circle Redaksi
- calendar_month Rabu, 28 Jan 2026
- print Cetak

Suasana dalam kabin Busway Transjakarta
Oleh: Anto Suroto, SH, MSc, MM — Dewan Pembina MIO Indonesia
JAKARTA adalah kota yang bergerak tanpa jeda. Di tengah kepadatan itu, kualitas transportasi publik menjadi cermin penting tentang sejauh mana sebuah kota memperlakukan warganya. Beberapa waktu lalu, saya memilih turun langsung ke denyut keseharian itu—menaiki Busway TransJakarta—untuk merasakan sendiri wajah transportasi publik Ibu Kota hari ini.
PENGALAMAN itu memberi kesan yang jujur dan cukup mendalam. Begitu memasuki armada, suasana yang saya rasakan jauh dari stigma lama angkutan umum. Bus bersih, sejuk, tertata, dan relatif tertib. Pendingin udara bekerja optimal, kursi rapi, dan perjalanan berlangsung nyaman. Transportasi publik, dalam pengalaman ini, tidak lagi sekadar alat angkut, tetapi ruang bersama yang manusiawi.
Perubahan tersebut tentu tidak lahir dalam semalam. Saya melihat adanya kesinambungan kebijakan sejak kepemimpinan gubernur-gubernur terdahulu hingga saat ini, yang secara konsisten membangun infrastruktur dan layanan transportasi umum. Hasilnya nyata: Jakarta kini memiliki sistem transportasi publik yang dapat disejajarkan dengan kota-kota di negara lain seperti Malaysia, China, Korea Selatan, Singapura, bahkan Jepang.
Sebagai warga dan juga pemerhati kebijakan publik, saya menilai Busway TransJakarta sebagai contoh model transportasi rakyat—terjangkau, namun tetap berkualitas. Tarifnya ramah, aksesnya luas, dan manfaatnya dirasakan lintas kelas sosial. Ini bukan proyek elitis, melainkan kebijakan yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat kota.
Keunggulan lain yang patut diapresiasi adalah integrasi layanan. Konektivitas Busway dengan JakLingko telah menembus batas administratif hingga wilayah Bodetabek. Integrasi ini memudahkan mobilitas warga, memperpendek waktu tempuh, dan membangun ekosistem transportasi yang saling menopang—dari koridor utama hingga angkutan pengumpan di permukiman.
Dari sisi pelayanan, petugas halte menunjukkan profesionalisme yang cukup baik. Informasi jurusan disampaikan dengan jelas, sikap ramah, dan membantu. Satu hal penting yang juga perlu disadari pengguna adalah keberanian untuk bertanya—karena sistem yang baik harus diimbangi partisipasi aktif warganya.
Namun, di balik berbagai kemajuan itu, saya mencatat satu pekerjaan rumah yang tidak kalah penting: budaya pengguna transportasi publik, khususnya di kalangan generasi muda. Masih kerap terlihat kurangnya kepekaan untuk memberikan tempat duduk kepada lansia. Ini bukan soal aturan, melainkan nilai. Budaya menghormati orang tua adalah identitas bangsa yang seharusnya hidup di ruang-ruang publik kita.
Dari aspek inklusivitas, TransJakarta patut diapresiasi. Fasilitas bagi penyandang disabilitas dan lansia—seperti lift dan eskalator—telah disediakan dan berfungsi. Ini menandakan bahwa transportasi publik Jakarta mulai dibangun dengan perspektif keadilan sosial, bukan sekadar efisiensi teknis.
Saya meyakini, bila ketersediaan armada di seluruh koridor dapat dipenuhi secara ideal, serta disertai kesadaran kolektif masyarakat—terutama pengguna kendaraan pribadi—maka kemacetan Jakarta bukan hal yang mustahil untuk ditekan. Solusi transportasi tidak hanya berada di tangan pemerintah, tetapi juga pada pilihan sadar setiap warga kota.
Pada akhirnya, Busway dan sistem transportasi publik Jakarta hari ini menunjukkan bahwa kota ini sedang belajar bergerak dengan lebih beradab. Lebih modern, lebih tertib, dan lebih inklusif. Sebuah wajah baru Jakarta yang patut dijaga, dikritisi, dan disempurnakan bersama. (/*/*/)
Penulis adalah Tokoh Nasional, Pelaku Usaha UMKM, Ketua Umum Aliansi Perdagangan Industri Krestif Indonesis (APIKI), Dewan Pembina PP MIO Indonesia
- Penulis: Redaksi






Dalam menjalankan tugas jurnalistik di lapangan, wartawan HITV dilengkapi Surat Tugas dan ID Card yang masih berlaku dan namanya tercantum dalam Box Redaksi saat di scanning barcode.