Surplus 68 Bulan Beruntun, Neraca Perdagangan Indonesia Catat Kinerja Solid Sepanjang Tahun 2025
- account_circle Tata Rusmanto
- calendar_month Senin, 2 Feb 2026
- visibility 93
- print Cetak

Badan Pusat Statistik mengumumkan neraca perdagangan Indonesia sepanjang 2025. (dok/foto/bps)
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja neraca perdagangan Indonesia sepanjang 2025 tetap solid dengan membukukan surplus sebesar USD 41,05 miliar. Capaian ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sekaligus memperpanjang tren surplus neraca perdagangan Indonesia yang telah berlangsung selama 68 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
JAKARTA | HITV – Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan Indonesia sepanjang 2025 mencatatkan kinerja solid. Sepanjang Januari hingga Desember 2025 Indonesia membukukan surplus neraca perdagangan sebesar USD 41,05 miliar.
Capaian ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya dan menegaskan keberlanjutan surplus yang telah berlangsung sejak 2020.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan surplus tersebut menandai 68 bulan berturut-turut neraca perdagangan Indonesia berada di zona positif sejak Mei 2020.
“Surplus sepanjang periode Januari-Desember 2025 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas sebesar USD 60,75 miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit USD 19,70 miliar,” ungkap Ateng di Jakarta, Senin (2/2).
Dari sisi ekspor, nilai ekspor Indonesia secara kumulatif sepanjang 2025 mencapai USD 282,91 miliar dan tumbuh 6,15 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Peningkatan ekspor terutama berasal dari sektor industri pengolahan, yang mencatat nilai ekspor sebesar USD 227,10 miliar atau meningkat 14,47 persen.
Komoditas berbasis industri menjadi penopang utama kinerja ekspor nasional, terutama industri minyak kelapa sawit atau CPO, barang perhiasan dan barang berharga, logam dasar bukan besi, dan kimia dasar organik yang berasal dari hasil pertanian.
Adapun negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia sepanjang 2025 adalah Tiongkok, Amerika Serikat, dan India. Ketiga negara tersebut menyumbang sekitar 42,28 persen dari total ekspor nonmigas.
Tiongkok menjadi tujuan utama dengan nilai ekspor mencapai USD 64,82 miliar, disusul Amerika Serikat sebesar USD 30,96 miliar dan India sebesar USD 18,32 miliar.
“Ekspor ke Amerika Serikat yang meningkat tinggi adalah mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, berbagai produk kimia, mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya, alas kaki, serta lemak dan minyak hewan/nabati. Secara total, pertumbuhan ekspor nonmigas ke Amerika Serikat adalah 16,66 persen,” tambah Ateng.
Di sisi impor, nilai impor Indonesia sepanjang 2025 tercatat sebesar USD 241,86 miliar atau meningkat 2,83 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan impor terutama berasal dari sektor nonmigas, dengan nilai impor mencapai USD 209,09 miliar.
Dari sisi penggunaan, impor barang modal menjadi pendorong utama, dengan nilai impor mencapai USD 50,13 miliar atau tumbuh 20,06 persen.
Dengan kinerja tersebut, neraca perdagangan Indonesia sepanjang 2025 tetap memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian, sekaligus menunjukkan kinerja yang solid di tengah ketidakpastian global. (tr)
- Penulis: Tata Rusmanto

Saat ini belum ada komentar