Raja Malem Tarigan di Pasar Jaya: Menguji Rekam Jejak Investasi di Panggung Pasar Ibu Kota
- account_circle AYS Prayogie
- calendar_month 5 jam yang lalu
- print Cetak

Raja Malem Tarigan di Pasar Jaya: Menguji Rekam Jejak Investasi di Panggung Pasar Ibu Kota. (dok/foto/ays)
Penunjukan Raja Malem Tarigan sebagai Direktur Properti dan Perpasaran Perumda Pasar Jaya sejak 23 Desember 2025 menandai babak baru dalam upaya transformasi pengelolaan aset pasar di Ibu Kota.
JAKARTA, HITV — Kepercayaan yang diberikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, bukan sekadar rotasi jabatan, melainkan taruhan terhadap kapasitas seorang perencana kota yang ditempa di medan investasi dan pengembangan kawasan strategis.
Di tengah tantangan klasik pengelolaan pasar—mulai dari optimalisasi aset, tata kelola perpasaran, hingga modernisasi fasilitas—posisi ini menuntut kepemimpinan yang tidak hanya administratif, tetapi juga visioner dan eksekutorial.
Mandat Besar di 153 Pasar
Sebagai Direktur Properti dan Perpasaran, Raja Malem memikul tanggung jawab atas ratusan aset pasar yang tersebar di 153 titik di Jakarta, sebagian besar berada di lokasi-lokasi premium. Mandatnya jelas: mengubah aset yang selama ini berfungsi konvensional menjadi sumber nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Tugas tersebut mencakup lima pilar utama. Pertama, optimalisasi aset melalui pengelolaan dan pengembangan properti pasar secara komersial. Kedua, pengelolaan perpasaran, termasuk penataan sewa kios dan los, serta peningkatan kualitas layanan seperti kebersihan dan keamanan. Ketiga, pengembangan dan revitalisasi pasar agar lebih adaptif terhadap kebutuhan zaman.
Keempat, fasilitasi distribusi perdagangan untuk mendukung ketahanan pangan dan kenyamanan transaksi. Dan kelima, manajemen investasi, termasuk membuka peluang bisnis baru seperti pemanfaatan ruang promosi hingga pengembangan properti berbasis campuran.
“Tidak hanya untuk aktivitas pasar, aset-aset ini bisa dikembangkan menjadi ritel, fasilitas olahraga, bahkan hunian,” ujar Raja Malem, memberi sinyal pendekatan multipurpose dalam pengelolaan aset pasar.
Benang Merah dari Danau Toba
Jika menilik rekam jejaknya, penugasan ini bukan tanpa dasar. Lulusan Planologi ITB tahun 2002 itu sebelumnya menjabat Direktur Industri Pariwisata dan Kelembagaan Kepariwisataan di Badan Pengelola Otoritas Danau Toba (BPODT). Di sana, ia memimpin orkestrasi investasi dan pengembangan kawasan Toba Caldera Resort—sebuah proyek strategis nasional.
Selama hampir lima tahun, Raja Malem mengelola dan memasarkan lahan seluas 386 hektar menjadi berbagai fasilitas pariwisata: hotel, glamping, restoran, hingga amphitheater. Ia tidak berhenti pada promosi, tetapi memastikan investasi benar-benar terealisasi di lapangan.
Salah satu capaian pentingnya adalah masuknya investor seperti Nimoland Group melalui proyek Nimo Adventure Kaldera, serta komitmen Bobobox Group untuk pengembangan villa premium.
Bahkan, unit Bobocabin yang telah beroperasi sejak 2021 mencatat tingkat okupansi di atas 80 persen—indikator keberhasilan dalam membangun ekosistem yang hidup.
Pendekatan yang ia bawa konsisten: investasi harus berujung pada eksekusi, bukan sekadar komitmen di atas kertas.
Dari Perencana ke Penggerak Kebijakan
Di luar jabatan struktural, Raja Malem dikenal aktif dalam organisasi profesi. Ia pernah menjabat Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP) DKI Jakarta selama dua periode (2013–2019), serta terlibat di tingkat pusat dan organisasi internasional seperti EAROPH Indonesia. Saat ini, ia juga menjabat Wakil Sekretaris Jenderal DPP Realestat Indonesia (REI).
Jejak ini menunjukkan spektrum perannya yang luas: dari perencana teknokratis hingga penggerak kebijakan dan jejaring investasi.
Ujian di Jakarta
Kini, tantangan yang dihadapi berbeda. Jika di Danau Toba ia membangun dari ruang yang relatif “kosong”, di Jakarta ia harus menata sistem yang sudah berjalan dengan kompleksitas sosial-ekonomi yang tinggi. Pedagang, konsumen, dan dinamika urban menjadi variabel yang tidak bisa disederhanakan.
Namun di situlah letak relevansi pengalamannya. Transformasi Pasar Jaya membutuhkan pendekatan yang tidak hanya fisik, tetapi juga ekosistem—menghubungkan fungsi pasar tradisional dengan kebutuhan gaya hidup urban modern.
Keberhasilan Raja Malem Tarigan di Pasar Jaya pada akhirnya akan diukur dari satu hal sederhana namun krusial: sejauh mana ia mampu mengubah aset menjadi nilai—bagi perusahaan, bagi daerah melalui peningkatan PAD, dan bagi masyarakat sebagai pengguna utama pasar.
Penunjukan ini bukan sekadar penempatan pejabat. Ia adalah ujian atas konsistensi antara gagasan, pengalaman, dan kemampuan mengeksekusi di panggung yang jauh lebih kompleks: Jakarta. (\•/)
Editor: AYS Prayogie
Sumber: HITV DKI Jakarta
- Penulis: AYS Prayogie






Dalam menjalankan tugas jurnalistik di lapangan, wartawan HITV dilengkapi Surat Tugas dan ID Card yang masih berlaku dan namanya tercantum dalam Box Redaksi saat di scanning barcode.