Minggu, 16 Agu 2026
light_mode

“Ibu di Mana?” — 16 Tahun Menunggu Pelukan yang Tak Pernah Datang

  • account_circle AYS Prayogie
  • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
  • print Cetak

Di sebuah ruang perawatan Rumah Sakit Andi Sultan Daeng Radja, Bulukumba, seorang remaja perempuan terbaring lemah. Tubuhnya kurus. Tatapannya kosong, tetapi sesekali matanya mencari sesuatu yang bahkan ia sendiri belum pernah benar-benar miliki: wajah ibunya. Namanya Syifa.

Ketika seseorang bertanya apa yang paling ia inginkan, jawabannya sederhana, lirih, sekaligus menghantam perasaan siapa pun yang mendengarnya.

“Ibu…”

Hanya itu.
Tidak ada permintaan lain.

Tidak tentang harta, tidak tentang masa depan, bahkan tidak tentang kesembuhan. Gadis 16 tahun itu hanya ingin bertemu perempuan yang melahirkannya—perempuan yang meninggalkannya sesaat setelah ia membuka mata ke dunia.

KISAH Syifa bermula di atas sebuah kapal penumpang pada 2010 silam. Kapal itu berlayar dari Pelabuhan Tunon Taka, Nunukan, Kalimantan Utara, menuju Pelabuhan Parepare, Sulawesi Selatan.

Di tengah perjalanan laut, seorang perempuan yang identitasnya tak pernah diketahui mengalami persalinan. Dalam situasi darurat di atas kapal, seorang bidan bernama Rajakati, warga Herlang, Bulukumba, membantu proses kelahiran bayi perempuan itu.

Tangis bayi pecah di tengah gelombang laut. Bayi itu kemudian diberi nama “Syifa” oleh sang bidan.

Namun perjalanan hidup Syifa rupanya tidak dimulai dengan pelukan hangat seorang ibu. Saat kapal bersandar dan para penumpang turun satu per satu, perempuan yang melahirkannya justru menghilang.

Ia pergi.
Meninggalkan bayi mungil yang bahkan belum genap sehari mengenal dunia.

“Tidak ada yang tahu siapa ibunya, dari mana asalnya, atau ke mana perginya setelah turun dari kapal,” tutur warga yang mengetahui kisah tersebut.

Sejak saat itu, Syifa tumbuh sebagai anak yang memeluk kehilangan bahkan sebelum mengenal arti kehilangan itu sendiri.

BIDAN Rajakati tak tega membiarkan bayi tersebut tanpa perlindungan. Ia membawa Syifa ke Bulukumba, lalu menyerahkannya kepada seorang lelaki tua bernama Sajuang di kawasan Ela-Ela.

Di rumah sederhana itulah Syifa dibesarkan

Hari-hari berlalu. Tahun demi tahun berganti. Syifa tumbuh sebagaimana anak-anak lain: belajar berjalan, belajar berbicara, belajar mengenal dunia. Namun ada satu ruang kosong yang tidak pernah terisi dalam hidupnya.

Tentang ibu.
Tentang mengapa dirinya ditinggalkan.
Tentang apakah perempuan itu pernah memikirkannya.

Atau setidaknya… merindukannya.

“Dia sering bertanya tentang ibunya,” kata seorang kerabat.

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah benar-benar menemukan jawaban.

Tetapi waktu rupanya tidak menghapus kerinduan. Justru menebalkannya.

Kini, ketika kondisi kesehatannya menurun dan tubuhnya terbaring lemah di rumah sakit, kerinduan itu kembali menyeruak.

Syifa tidak menangis histeris. Ia juga tidak menyimpan amarah yang meledak-ledak kepada perempuan yang meninggalkannya.

Yang tersisa hanya harapan kecil yang terus hidup selama 16 tahun.

Bertemu.
Dipeluk.
Meski hanya sekali.

Kisah Syifa cepat menyentuh banyak orang setelah cerita hidupnya tersebar dari mulut ke mulut dan media sosial. Banyak yang tersentuh oleh ketabahan gadis itu. Tidak sedikit pula yang menawarkan bantuan dan dukungan.

Namun di tengah simpati yang mengalir, ada satu hal yang tetap tidak bisa digantikan siapa pun.

Kasih sayang seorang ibu.

Barangkali, bagi sebagian orang, pelukan adalah hal biasa. Tetapi bagi Syifa, itu adalah kemewahan yang belum pernah ia rasakan sejak lahir.

Dan mungkin, di suatu tempat, ada seorang perempuan yang diam-diam menyimpan luka, rasa takut, atau penyesalan selama bertahun-tahun karena keputusan yang pernah ia ambil di atas kapal itu.

Jika perempuan itu masih hidup dan membaca kisah ini, Syifa tidak datang untuk menuntut.

Ia hanya rindu.
Rindu yang dipendam selama 16 tahun.
Rindu yang kini diucapkan pelan dari ranjang rumah sakit:
“Ibu, di mana?” (\•/)

Sumber berita: Muhammad Zulkifli Ritonga | Disunting ulang oleh AYS Prayogie

  • Penulis: AYS Prayogie

Rekomendasi Untuk Anda

  • AKBP Lilik Ardhiansya Pastikan, Polres Purwakarta Siap Amankan Pilkada 2024

    AKBP Lilik Ardhiansya Pastikan, Polres Purwakarta Siap Amankan Pilkada 2024

    • 0Komentar

    HiTvBerita.Com – Purwakarta | Kapolres Purwakarta, AKBP Lilik Ardhiansya memastikan pihak kepolisian siap mengamankan jalannya Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak, pada 27 November 2024 mendatang. Hal tersebut ditegaskan oleh AKBP Lilik Ardhiansya saat menjadi narasumber dalam kegiatan Sosialisasi Tiga Pilar Tahapan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat, serta Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Purwakarta […]

  • Kejari Purwakarta dan Pemkab Bersinergi Cegah Korupsi Lewat Program “Jaksa Menyapa

    Kejari Purwakarta dan Pemkab Bersinergi Cegah Korupsi Lewat Program “Jaksa Menyapa

    • 1Komentar

    Kejaksaan Negeri (Kejari) Purwakarta terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Purwakarta dalam upaya pencegahan tindak pidana korupsi. Salah satu langkah konkret yang ditempuh adalah melalui program edukatif bertajuk Jaksa Menyapa. HITVBERITA.COM | Purwakarta— Kepala Kejaksaan Negeri Purwakarta, Dr. Martha Parulina Berliana, SH., MH., bersama Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, hadir sebagai narasumber utama dalam program […]

  • Kapolres Barru Kawal Aksi Unjuk Rasa Mahasiswa di DPRD Barru.

    Kapolres Barru Kawal Aksi Unjuk Rasa Mahasiswa di DPRD Barru.

    • 0Komentar

    Penulis: Syamsu Marlin Aksi unjuk rasa yang dilakukan mahasiswa dan kelompok organisasi masyarakat di berbagai daerah belum juga berakhir, termasuk di Kabupaten Barru Provinsi Sulawesi Selatan pada Selasa (2/9/2025), yang fokus di tiga titik lokasi, yakni di Tugu Payung, Mapolres Barru, dan Kantor DPRD Barru. HITVBERITA.COM | Barru – Sebagai upaya pengawalan agar unjuk rasa […]

  • Gerak Cepat Kalapas Yohanis Varianto Benahi Lapas Kelas IIA Samarinda Jadi Lebih Humanis

    Gerak Cepat Kalapas Yohanis Varianto Benahi Lapas Kelas IIA Samarinda Jadi Lebih Humanis

    • 0Komentar

    Penulis: Budiman Sihombing ‎Baru tiga minggu memimpin, Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Samarinda, Yohanis Varianto, mulai menorehkan perubahan nyata. Sejak dilantik pada 2 Oktober 2025, ia langsung bergerak cepat melakukan pembenahan di berbagai lini — dari perbaikan fasilitas hingga pembenahan pola kerja dan layanan publik di lingkungan lapas. ‎HITVBERITA.COM | Samarinda— Langkah awal Yohanis tampak […]

  • 200 Bibit Kelapa ditanam di Lahan SAE Lapas Tanjungpandan  “Kolaborasi Lapas & Kanim”

    200 Bibit Kelapa ditanam di Lahan SAE Lapas Tanjungpandan “Kolaborasi Lapas & Kanim”

    • 0Komentar

    HITVBERITA.COM | Belitung Info Pas – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas Kelas IIB Tanjungpandan menggelar kegiatan penanaman pohon kelapa sebagai bagian dari dukungan terhadap program ketahanan pangan nasional, Selasa (9/9/2025). Kegiatan ini merupakan Kolaborasi bersama Kantor Imigrasi Kelas II TPI Tanjungpandan dilaksanakan di area Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Lapas dengan dengan menanam 200 bibit Kelapa […]

  • Film Berjudul Mencari Ridho Ilahi Memasuki Tahap Finishing, Segera Tayang di Bioskop!

    Film Berjudul Mencari Ridho Ilahi Memasuki Tahap Finishing, Segera Tayang di Bioskop!

    • 0Komentar

    Film pendek bertemakan pendidikan Karakter berjudul “Mencari Ridho Ilahi” yang di produksi Pondok Pesantren Muhammadiyah Shidiq Al-Kautsar Desa Simbatan Kecamatan Kanor Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur, telah memasuki tahapan finishing. (Dok/Foto/Bae) HITVBERITA.COM | JAKARTA – Penegasan tersebut disampaikan oleh Dodo Alvin Zakaria selaku Editor dari film “Mencari Ridho Ilahi” kepada hitvberita.com hari Kamis 28 Nopember 2024. […]

expand_less