“Ibu di Mana?” — 16 Tahun Menunggu Pelukan yang Tak Pernah Datang
- account_circle AYS Prayogie
- calendar_month 2 jam yang lalu
- print Cetak

Gadis 16 tahun itu hanya ingin bertemu perempuan yang melahirkannya—perempuan yang meninggalkannya sesaat setelah ia membuka mata ke dunia. (Dok/Foto/Ritonga)
Di sebuah ruang perawatan Rumah Sakit Andi Sultan Daeng Radja, Bulukumba, seorang remaja perempuan terbaring lemah. Tubuhnya kurus. Tatapannya kosong, tetapi sesekali matanya mencari sesuatu yang bahkan ia sendiri belum pernah benar-benar miliki: wajah ibunya. Namanya Syifa.
Ketika seseorang bertanya apa yang paling ia inginkan, jawabannya sederhana, lirih, sekaligus menghantam perasaan siapa pun yang mendengarnya.
“Ibu…”
Hanya itu.
Tidak ada permintaan lain.
Tidak tentang harta, tidak tentang masa depan, bahkan tidak tentang kesembuhan. Gadis 16 tahun itu hanya ingin bertemu perempuan yang melahirkannya—perempuan yang meninggalkannya sesaat setelah ia membuka mata ke dunia.
KISAH Syifa bermula di atas sebuah kapal penumpang pada 2010 silam. Kapal itu berlayar dari Pelabuhan Tunon Taka, Nunukan, Kalimantan Utara, menuju Pelabuhan Parepare, Sulawesi Selatan.
Di tengah perjalanan laut, seorang perempuan yang identitasnya tak pernah diketahui mengalami persalinan. Dalam situasi darurat di atas kapal, seorang bidan bernama Rajakati, warga Herlang, Bulukumba, membantu proses kelahiran bayi perempuan itu.
Tangis bayi pecah di tengah gelombang laut. Bayi itu kemudian diberi nama “Syifa” oleh sang bidan.
Namun perjalanan hidup Syifa rupanya tidak dimulai dengan pelukan hangat seorang ibu. Saat kapal bersandar dan para penumpang turun satu per satu, perempuan yang melahirkannya justru menghilang.
Ia pergi.
Meninggalkan bayi mungil yang bahkan belum genap sehari mengenal dunia.
“Tidak ada yang tahu siapa ibunya, dari mana asalnya, atau ke mana perginya setelah turun dari kapal,” tutur warga yang mengetahui kisah tersebut.
Sejak saat itu, Syifa tumbuh sebagai anak yang memeluk kehilangan bahkan sebelum mengenal arti kehilangan itu sendiri.
BIDAN Rajakati tak tega membiarkan bayi tersebut tanpa perlindungan. Ia membawa Syifa ke Bulukumba, lalu menyerahkannya kepada seorang lelaki tua bernama Sajuang di kawasan Ela-Ela.
Di rumah sederhana itulah Syifa dibesarkan
Hari-hari berlalu. Tahun demi tahun berganti. Syifa tumbuh sebagaimana anak-anak lain: belajar berjalan, belajar berbicara, belajar mengenal dunia. Namun ada satu ruang kosong yang tidak pernah terisi dalam hidupnya.
Tentang ibu.
Tentang mengapa dirinya ditinggalkan.
Tentang apakah perempuan itu pernah memikirkannya.
Atau setidaknya… merindukannya.
“Dia sering bertanya tentang ibunya,” kata seorang kerabat.
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah benar-benar menemukan jawaban.
Tetapi waktu rupanya tidak menghapus kerinduan. Justru menebalkannya.
Kini, ketika kondisi kesehatannya menurun dan tubuhnya terbaring lemah di rumah sakit, kerinduan itu kembali menyeruak.
Syifa tidak menangis histeris. Ia juga tidak menyimpan amarah yang meledak-ledak kepada perempuan yang meninggalkannya.
Yang tersisa hanya harapan kecil yang terus hidup selama 16 tahun.
Bertemu.
Dipeluk.
Meski hanya sekali.
Kisah Syifa cepat menyentuh banyak orang setelah cerita hidupnya tersebar dari mulut ke mulut dan media sosial. Banyak yang tersentuh oleh ketabahan gadis itu. Tidak sedikit pula yang menawarkan bantuan dan dukungan.
Namun di tengah simpati yang mengalir, ada satu hal yang tetap tidak bisa digantikan siapa pun.
Kasih sayang seorang ibu.
Barangkali, bagi sebagian orang, pelukan adalah hal biasa. Tetapi bagi Syifa, itu adalah kemewahan yang belum pernah ia rasakan sejak lahir.
Dan mungkin, di suatu tempat, ada seorang perempuan yang diam-diam menyimpan luka, rasa takut, atau penyesalan selama bertahun-tahun karena keputusan yang pernah ia ambil di atas kapal itu.
Jika perempuan itu masih hidup dan membaca kisah ini, Syifa tidak datang untuk menuntut.
Ia hanya rindu.
Rindu yang dipendam selama 16 tahun.
Rindu yang kini diucapkan pelan dari ranjang rumah sakit:
“Ibu, di mana?” (\•/)
Sumber berita: Muhammad Zulkifli Ritonga | Disunting ulang oleh AYS Prayogie
- Penulis: AYS Prayogie






Dalam menjalankan tugas jurnalistik di lapangan, wartawan HITV dilengkapi Surat Tugas dan ID Card yang masih berlaku dan namanya tercantum dalam Box Redaksi saat di scanning barcode.