Bara di Ambon, Seruan Damai di Tengah Puing
- account_circle Redaksi
- calendar_month Minggu, 24 Agt 2025
- visibility 28
- comment 0 komentar
- print Cetak

Oleh AYS Prayogie
Senja berganti malam di Ambon. Suara azan dari masjid terdengar lirih, berpadu dengan dentang lonceng gereja di kejauhan. Dua suara itu seakan menjadi pengingat: meski sempat dilanda bara, doa dan harapan untuk kedamaian tidak pernah berhenti mengalun dari tanah para basudara.
SIANG itu, Selasa (19/8/2025), asap tipis masih mengepul dari tumpukan kayu yang hangus terbakar di Desa Hunut Durian Patah, Kecamatan Teluk Ambon.
Di sudut jalan, tampak beberapa warga duduk termenung menatap sisa rumah mereka yang kini hanya berupa puing.
Bau kayu terbakar pun masih menyengat, bercampur dengan aroma tanah basah setelah petugas pemadam kebakaran berjam-jam berjibaku melawan api.
“Semua sudah habis. Kami hanya sempat lari menyelamatkan diri,” ujar salah seorang ibu, warga Desa Hunut Durian Patah, sambil menggandeng tangan dua anaknya. Ia pun tak kuasa menahan tangis, mengenang rumah dan barang berharga miliknya, yang musnah seketika.
Bentrok yang dipicu peristiwa penikaman pada siang hari itu menjalar cepat. Warga panik, sebagian berlarian, sebagian lagi berusaha menolong tetangga. Dalam hitungan jam, belasan rumah di Desa Hunut terbakar. Sirene mobil pemadam meraung di antara jerit tangis warga.
WALI Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena, turun langsung meninjau lokasi. Dengan wajah serius, ia pun dengan tegas menyerukan agar masyarakat menahan diri dan tidak terprovokasi.
“Saat ini aparat kepolisian masih mengidentifikasi pelaku. Kita serahkan sepenuhnya kepada pihak keamanan untuk menangkap pelaku,” ujar Wattimena saat itu, di hadapan warga.
Ia memastikan, Dinas Pemadam Kebakaran bergerak cepat sehingga api dapat dikendalikan meski belasan rumah luluh lantak.
PULUHAN personel TNI dan Polri dikerahkan untuk meredam meluasnya konflik. Sejak sore, aparat berjaga di jalan utama desa. Malam harinya, lampu sorot kendaraan taktis menyinari perkampungan yang baru saja dilanda amuk massa.
“Saat ini seluruh personel dari Polri sudah berada di lokasi kejadian agar situasi tetap aman dan terkendali,” tegas Wattimena.
Kehadiran aparat sedikit melegakan warga, meski ketakutan masih terasa. Banyak yang memilih bermalam di rumah keluarga terdekat atau tempat ibadah untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan.
BAGI masyarakat Ambon, peristiwa di Hunut-Durian Patah ini seakan membuka kembali luka lama. Dua dekade lalu, Ambon pernah menjadi episentrum konflik komunal yang mengguncang Indonesia.
Konflik Ambon pecah pada Januari 1999, berawal dari bentrokan kecil di Terminal Batu Merah, yang kemudian meluas menjadi kerusuhan bernuansa agama. Gelombang kekerasan melanda hingga 2002, menelan lebih dari 5.000 korban jiwa dan memaksa ratusan ribu warga mengungsi. Rumah ibadah, sekolah, dan permukiman banyak yang rata dengan tanah.
Perdamaian baru mulai terbangun setelah ditandatanganinya Perjanjian Malino II pada Februari 2002. Sejak itu, Ambon perlahan bangkit, membangun kembali rasa persaudaraan yang sempat terkoyak. Meski demikian, bara kecil kerap muncul, mengingatkan bahwa kerukunan di Maluku adalah proses panjang yang harus dijaga bersama.
SERUAN DAMAI
WALI Kota Ambon Bodewin M. Wattimena kembali mengingatkan pentingnya menjaga persatuan.
“Kami berharap situasi semakin kondusif. Masyarakat tetap tenang, tidak terprovokasi. Mari kita jaga keamanan dan ketertiban di Kota Ambon bersama basudara semua,” ujarnya.
Seruan itu bergema di tengah trauma warga yang masih teringat kerusuhan lama. Ambon yang kini dikenal sebagai city of music dan simbol keragaman, kembali diuji untuk meneguhkan perdamaian yang telah dirintis dengan susah payah.
HARAPAN WARGA
Meski kehilangan harta benda, sebagian warga tetap menyimpan asa.
“Jangan ada lagi darah, jangan ada lagi api. Kita semua orang Ambon, semua basudara,” kata seorang tokoh masyarakat Negeri Hitu dengan suara bergetar.
Senja berganti malam di Ambon. Suara azan dari masjid terdengar lirih, berpadu dengan dentang lonceng gereja di kejauhan. Dua suara itu seakan menjadi pengingat: meski sempat dilanda bara, doa dan harapan untuk kedamaian tidak pernah berhenti mengalun dari tanah para basudara. (///)
Cijantung, 24 Agustus 2025
Penulis adalah wartawan aktif media syber | Pemimpin Redaksi portal berita Hitvberita.com | Ketua Umum Organisasi Media Independen Online (MIO) Indonesia | Tinggal dan menetap di Wilayah Cijantung
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar