Minggu, 1 Mar 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » BELAJAR MENGELOLA KECEWA DALAM HIDUP BERJAMA’AH

BELAJAR MENGELOLA KECEWA DALAM HIDUP BERJAMA’AH

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Rabu, 26 Jun 2024
  • visibility 36
  • print Cetak

HITVBERITA.COM-Di Ji’ranah hari itu ada kecewa. Ada kebijakan Rasulullah yang tak dipahami.

Ada keputusan yang disalahmengerti. Sangat manusiawi kelihatannya. Orang-orang Anshar merasa disisihkan selepas perang Hunain yang menggemparkan.

Mereka telah berjuang total. Mereka berperang di sisi Rasul dengan penuh kecintaan. Tapi, harta rampasan perang lebih banyak dibagikan pada orang-orang Quraisy dan kabilah-kabilah Arab lainnya. Sementara pada mereka, seakan hanya memperoleh sisa.

Padahal, semua orang tahu, sebagaimana Rasul pun juga mengetahuinya: merekalah yang berjuang dengan sepenuh iman ketika orang-orang Quraisy dan kabilah Arab itu lari tunggang langgang pada serangan pertama pasukan Malik bin Auf An-Nashry.

Maka, hari itu di Ji’ranah, ada yang kasak-kusuk, ada yang memercikan api, “Demi Allah, Rasulullah saw telah bertemu kaumnya sendiri!” Kalimat itu jelas sarat kekecewaan.

Hari itu juga utusan Anshar, Sa’d bin Ubadah menemui Sang Rasul. Hatinya gusar. Ia ingin segera sampaikan apa yang dirasakan sahabat Anshar pada beliau. Ada yang mengganjal di hati, tapi (mungkin) mereka anggap tak layak untuk disampaikan. Sa’d bin Ubadahlah yang memberanikan diri.

“Ya Rasulullah, dalam diri kaum Anshar ada perasaan mengganjal terhadap engkau, perkara pembagian harta rampasan perang. Engkau membagikannya pada kaummu sendiri dan membagikan bagian yang teramat besar pada kabilah Arab, sementara orang-orang Anshar tidak mendapat bagian apapun.”

Kita menangkap protes itu disampaikan dengan lugas tapi tetap santun. Ada kecewa, tapi iman mereka mencegahnya dari sikap yang merendahkan. Ada ganjal di hati, tapi bukan amarah tak terkendali.

“Lalu, kamu sendiri bagaimana Sa’d?” tanya Sang Rasul.

“Wahai Rasulullah, aku tidak punya pilihan lain, selain harus bersama kaumku.” Jawab Sa’d menjelaskan perasaannya. Jujur. Apa adanya. Ia tidak menutup-nutupi bahwa dirinya juga kecewa. Rasulullah lalu meminta mengumpulkan semua orang Anshar. Pada mereka Rasul menenangkan.

“Bukankah dulu aku datang dan kudapati kalian dalam kesesatan, lalu Allah berikan kalian petunjuk? Bukankah dulu saat aku datang kalian saling bertikai, lalu Allah menyatukan hati kalian? Bukankah dulu saat aku datang, kalian dalam keadaan miskin, lalu Allah mengayakan kalian?”

Orang-orang Anshar itu membenarkan. Mereka memang sedang dilanda kecewa, tapi lihatlah betapa mereka memilih diam, dan tidak balik menyerang dengan kata-kata dan argumentasi yang dapat diungkapkan.

Disebabkan iman sematalah mereka bersikap hormat pada Sang Rasul, meski mereka teramat kecewa. Saya bayangkan hari itu di Ji’ranah. Para sahabat yang mengelilingi Rasulullah.

“Demi Allah, jika kalian mau kalian bisa mengatakan, ‘Engkau dulu datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami membenarkan. Engkau dulu datang kepada kami dalam keadaan lemah, lalu kami menolongmu. Engkau dulu datang kepada kami dalam keadaan terusir, lalu kami memberikan tempat. Engkau dulu datang kepada kami dalam keadaan miskin, lalu kami yang menampungmu.”

Saya bayangkan Rasul yang mulia menghela nafas sejenak. Dapat kita rasakan kata-kata itu menggetarkan dada orang-orang yang diliputi iman itu. Saya bayangkan tempat itu mendadak senyap, kecuali suara Rasulullah yang teduh. Beberapa sahabat mulai menitikkan airmata.

“Apakah ada hasrat di hati kalian pada dunia?” tanya Rasulullah tanpa susulan jawab dari para sahabat. Semua terdiam.

Pertanyaan itu mengetuk sisi terdalam dari jiwa para sahabat. Jiwa yang sejak semula disemai iman.

“Padahal, dengan dunia itu aku hendak mengambil hati segolongan orang agar masuk Islam.” Rasul mulai menjelaskan alasan kebijakannya.

Saya bayangkan para sahabat Anshar yang mengangguk paham dalam diam. “Sedangkan terkait keimanan kalian, aku sudah teramat percaya.” Kata-kata itu begitu dalam dan jujur.

Tetes airmata tak kuasa lagi ditahan. Terlebih ketika Rasulullah melanjutkan, “Apakah kalian tidak berkenan di hati jika orang-orang lain pergi membawa onta dan domba, sementara kalian pulang bersama Rasul Allah?”

Sebuah perbandingan yang kontras. Kesadaran itu hadir tidak tiba-tiba. Tangis para sahabat meledak. Jika bukan karena iman, kekuatan apa yang mampu menghadirkan kesadaran setelah kekecewaan? Sungguh, iman merekalah yang menyebabkan semua itu terjadi.

Kisah di atas teramat panjang. Dari dalamnya kita belajar bagaimana dalam komunitas kebaikan sekalipun, kekecewaan itu nyaris tak dapat dielakkan.

Setiap kita mungkin pernah kecewa. Sebabnya bisa bermacam-macam. Tapi sebagiannya karena kita tak persepaham dengan orang lain; apakah kelakuannya, kebijakannya, pernyataannya, perhatiannya, atau apapun. Kita pun bisa kecewa karena merasa tidak mendapat dukungan yang memadai. Kecewa itu bisa muncul dimana-mana, bahkan dalam dakwah sekalipun.

Di dalam bilik-bilik rumah bisa lahir kekecewaan. Suami kecewa pada istri atau sebaliknya, istri kecewa dengan suami. Di ruang-ruang kerja, kekecewaan dapat juga timbul. Di manapun ketika kita berinteraksi dengan orang lain, kekecewaan bisa hadir tiba-tiba.

Dalam dakwah, kecewa bisa juga tumbuh bagai ilalang. Sebabnya bisa bermacam-macam. Gagasan yang ‘dianggap’ tidak diperhatikan, selera-selera yang tak sama, kebijakan qiyadah yang tak memenuhi keinginan kita, perilaku dan tindakan ikhwah, dan yang lain.

Hanya kekuatan imanlah yang mampu menjaga kita dari penyikapan yang salah saat kecewa. Sebagian di antaranya menyikapi dengan marah, kalap, bahkan bisa juga dengan ‘mutung.’ Sebagian yang lain menyikapi dengan cara-cara yang lebih arif dan bijak.

Jika kecewa datang menggerogoti, periksalah kembali orientasi kita. Selialah motif kita. Periksa pula niat-niat kita dalam beramal dan beraktivitas. Inilah saat paling tepat untuk menakar motif dan orientasi kita.

Semoga pengiring atas rasa kecewa adalah sikap lapang dada, semangat beramal yang makin menggelora, keikhlasan yang mempesona, dan penghormatan pada sesama.

Jangan biarkan, kekecewaan ditanggapi dengan aktivitas yang tidak memuliakan kita. Jangan pula sampai kekecewaan menyeret kita pada devisit iman dan juga devisit emosi.

Sedari awal, kita memilih jalan dakwah, bukan karena ingin selalu disenangkan. Bukan pula hasrat untuk terus dimenangkan. Kadang tak semua hasrat hati mesti terturuti. Begitulah tabiat perjalanan ini; kesediaan untuk berjalan bersama, mesti diikuti lapang dada atas segala kecewa yang muncul menggoda.

Kita memilih jalan dakwah semata karena berharap ridha Allah. Seluruh rasa kecewa itu hanyalah liliput atas kerinduan kita yang besar atas keridlaan Allah.

Semoga Allah menjaga keistiqamahan kita dan menguatkan keikhlasan kita dalam beramal.

(Dwi Budiyanto)

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Silaturahmi Sinergitas TNI-Polri-Kejaksaan di Babel Jelang Hari Bhayangkara Ke 79, Bagi-bagi Tanda Mata Ke Masyarakat

    Silaturahmi Sinergitas TNI-Polri-Kejaksaan di Babel Jelang Hari Bhayangkara Ke 79, Bagi-bagi Tanda Mata Ke Masyarakat

    • calendar_month Rabu, 25 Jun 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 42
    • 0Komentar

    Hitvberita.com | Babel – Polda Bangka Belitung menggelar silaturahmi sinergitas bersama Korem 045/Garuda Jaya dan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bangka Belitung. Silaturahmi ini langsung diinisiasi oleh Kapolda Bangka Belitung Irjen Pol Hendro Pandowo yang digelar di Gedung Tribrata pada Rabu (25/6/25). Dari pantauan dilokasi, sejumlah Pejabat utama baik dari Korem dan Kejati hadir berbaur dan berkumpul […]

  • Ratusan Masyarakat Kelurahan Pangkal Lalang Hadiri Kampanye Dialogis H. Djoni Alamsyah Hidayat dan Syamsir

    Ratusan Masyarakat Kelurahan Pangkal Lalang Hadiri Kampanye Dialogis H. Djoni Alamsyah Hidayat dan Syamsir

    • calendar_month Selasa, 19 Nov 2024
    • account_circle
    • visibility 27
    • 0Komentar

    Dibaca: 19

  • Kakanwil Ditjenpas Provinsi Kepulauan Babel Ikuti RDP Dengan Komisi XIII DPR RI

    Kakanwil Ditjenpas Provinsi Kepulauan Babel Ikuti RDP Dengan Komisi XIII DPR RI

    • calendar_month Jumat, 23 Mei 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 47
    • 0Komentar

    HiTvberita.com | Jakarta – Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Kepulauan Bangka Belitung, Herman Sawiran mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XIII DPR RI di Gedung DPR RI Jakarta, Kamis (22/05) Rapat yang dipimpin langsung Ketua Komisi XIII DPR RI, Willy Aditya dihadiri anggota Komisi XIII DPR RI, Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Mashudi, […]

  • Semangat Kebersamaan Warnai Jalan Sehat dan Bakti Sosial di Somagede

    Semangat Kebersamaan Warnai Jalan Sehat dan Bakti Sosial di Somagede

    • calendar_month Senin, 10 Nov 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 26
    • 0Komentar

     Pemuda Pancasila dan Hari Pahlawan, masyarakat Kecamatan Somagede tumpah ruah mengikuti kegiatan jalan sehat dan bakti sosial yang digelar Karang Taruna Bumi Rejo, penuh semangat kebersamaan dan kepedulian sosial. HITVBERITA.COM | Banyumas – Suasana Lapangan Desa Piasa Kulon, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas, tampak semarak pada Minggu (9/11/2025). Ratusan warga dari berbagai desa berbondong-bondong hadir mengikuti […]

  • Jejak Hijau dari Bangku Sekolah: Ketika Anak SMP di Purwakarta Belajar Menyelamatkan Bumi!

    Jejak Hijau dari Bangku Sekolah: Ketika Anak SMP di Purwakarta Belajar Menyelamatkan Bumi!

    • calendar_month Rabu, 4 Jun 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 51
    • 0Komentar

    Oleh: AYS Prayogie   HARI masih pagi ketika puluhan siswa berseragam biru dongker sibuk menyusun balok-balok plastik padat berukuran tangan. Balok itu bukan sembarang benda. Mereka menyebutnya “Ecobrick” —yakni sampah plastik bekas yang dikemas rapat dalam botol, menjadi solusi sederhana atas masalah besar yang tengah dihadapi dunia: krisis sampah! Di tengah deru semangat para siswa […]

  • Kang Rey: Tata Kelola Pemerintahan Kabupaten Subang Harus Lebih Transparan!

    Kang Rey: Tata Kelola Pemerintahan Kabupaten Subang Harus Lebih Transparan!

    • calendar_month Rabu, 12 Mar 2025
    • account_circle
    • visibility 66
    • 0Komentar

    Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Subang menegaskan arah kebijakan pembangunan, mulai dari pengembangan bidang pariwisata, perbaikan infrastruktur, hingga tata kelola pemerintahan yang lebih transparansi. HITVBERITA.COM | SUBANG – Hal itu diungkapkan oleh Bupati Subang, Reynaldi Putra Andita didampingi Wakil Bupati Agus Masykur Rosyadi, saat memimpin briefing staf Pemkab Subang, pada Senin 10 Maret 2025. “Kebijakan arah pembangunan […]

expand_less