Minggu, 1 Mar 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Bencana Alam » Dari “Hijau” ke Bencana: Ketika Kegelisahan Iwan Fals 1992 Menjadi Kenyataan di Aceh dan Sumatera

Dari “Hijau” ke Bencana: Ketika Kegelisahan Iwan Fals 1992 Menjadi Kenyataan di Aceh dan Sumatera

  • account_circle Zulfahmi Arsun
  • calendar_month Senin, 12 Jan 2026
  • visibility 487
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Tragedi bencana alam yang terjadi Aceh dan Sumatera tak bisa dilepaskan dari perlakuan manusia terhadap alam—persis seperti yang disyaratkan Iwan Fals dalam kegelisahannya pada 1992. Penebangan liar menggerus tutupan hutan yang semestinya menjadi penyangga air dan tanah. (Dok/Foto/Hitv

“Hutan ku rusak,
Langit ku bocor,
Udara yang aku hisap tercemar,
Makanan yang aku makan racun.”
(Iwan Fals, Hijau, 1992)

RIAU | HITV – Tiga dekade silam, Iwan Fals menyuarakan kegundahan yang kala itu terdengar seperti protes moral. Hari ini, bait-bait lagu Hijau itu menjelma kenyataan yang pahit. Hutan yang rusak, langit yang “bocor”, udara yang kotor, hingga pangan yang tercemar, bukan lagi metafora—melainkan potret konkret dari krisis ekologis yang kini menghantam Pulau Sumatera.

Pada minggu terakhir November 2025, bencana alam bertubi-tubi melanda Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Cuaca ekstrem memicu banjir bandang dan tanah longsor, menelan korban jiwa serta memaksa ratusan ribu warga meninggalkan rumah mereka. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam konferensi pers Jumat (9/1/2026) mencatat, 1.182 orang meninggal dunia, sementara 238.687 warga mengungsi.

Di Aceh, luka itu masih terbuka. Hingga awal Januari 2026, pencarian korban hilang masih terus dilakukan seiring status Tanggap Darurat yang diperpanjang. Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, menetapkan perpanjangan tanggap darurat di empat kabupaten/kota—Aceh Tamiang, Aceh Tengah, Gayo Lues, dan Pidie Jaya—dari 8 hingga 22 Januari 2026. Sedikitnya 145 jiwa masih dinyatakan hilang, tertimbun longsor atau terseret arus banjir.

Kabupaten Gayo Lues dan Aceh Tenggara merupakan wilayah yang paling parah dan sering dilanda bencana alam, terutama banjir dan tanah longsor, di kawasan kaki Gunung Leuser. (Dok/Foto/Mazmin/Andi)

SEMENTARA itu, Sumatera Utara dan Sumatera Barat telah memasuki fase transisi darurat. Operasi pencarian korban hilang dihentikan, namun tim SAR tetap bersiaga, menandai bahwa ancaman bencana belum sepenuhnya berlalu.

Jika ditarik ke akar persoalan, tragedi ini tak bisa dilepaskan dari perlakuan manusia terhadap alam—persis seperti yang disyaratkan Iwan Fals dalam kegelisahannya pada 1992. Penebangan liar menggerus tutupan hutan yang semestinya menjadi penyangga air dan tanah.

Alih fungsi lahan untuk perkebunan dan tambang melemahkan daya serap lingkungan. Permukiman tumbuh tanpa perencanaan mitigasi bencana. Sungai-sungai diperlakukan sebagai tempat pembuangan sampah, hingga kehilangan fungsi alaminya sebagai pengendali banjir.

Akumulasi semua itu membuat alam kehilangan keseimbangan. Ketika hujan turun lebih ekstrem akibat perubahan iklim, hutan yang gundul tak lagi mampu menahan air. Tanah yang rapuh pun longsor, sungai meluap, dan bencana menjadi tak terelakkan.

Bencana di Sumatera hari ini seolah menegaskan pesan lama itu: alam tidak pernah berkhianat, manusialah yang lebih dulu mengkhianatinya.

Kerusakan lingkungan bukan sekadar isu ekologis, melainkan ancaman nyata terhadap keselamatan manusia. (Dok/Foto/Mazmin/Andi)

KARENA itu, tragedi ini patut menjadi peringatan kolektif—bagi pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat luas—bahwa pembangunan tanpa kehati-hatian ekologis hanya menunda bencana berikutnya. Kesiapsiagaan harus diperkuat, mulai dari sistem peringatan dini, perencanaan evakuasi, hingga perlindungan kelompok rentan.

Namun lebih dari itu, pemulihan dan perlindungan lingkungan mesti ditempatkan sebagai prioritas utama: reboisasi hutan, konservasi daerah aliran sungai (DAS), penataan ruang berbasis risiko bencana, serta penegakan hukum terhadap perusakan alam.

Tiga puluh tahun setelah Hijau dinyanyikan, pesan itu kini kembali mengetuk nurani. Pertanyaannya sederhana, namun mendasar: apakah manusia masih mau belajar, atau justru terus memaksa alam membayar harga dari ketamakan yang sama?

Editor: AYS
Sumber: HITV Jakarta

  • Penulis: Zulfahmi Arsun

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tingkatkan Kemampuan Teritorial, Prajurit Lanal Dabo Singkep Antusias Ikuti Tarpuanpormar

    Tingkatkan Kemampuan Teritorial, Prajurit Lanal Dabo Singkep Antusias Ikuti Tarpuanpormar

    • calendar_month Sabtu, 2 Agt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 41
    • 0Komentar

    Penulis Ruslan LGA Guna memperkuat peran teritorial di wilayah pesisir, prajurit Pangkalan TNI AL (Lanal) Dabo Singkep, Kepulauan Riau, mengikuti Penataran Potensi Maritim (Tarpuanpormar) selama dua hari, Jumat (1/8/2025). HITVBERITA.COM | Lingga— Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Dinas Potensi Maritim TNI AL (Dispotmaral) sebagai bagian dari upaya peningkatan kapasitas dan profesionalisme aparatur TNI AL dalam membina […]

  • Rakernas PJMI 2025 Bahas Tantangan Jurnalis Muslim di Era Disrupsi Digital

    Rakernas PJMI 2025 Bahas Tantangan Jurnalis Muslim di Era Disrupsi Digital

    • calendar_month Jumat, 25 Jul 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 19
    • 0Komentar

    Penulis: Bainana Bahthy dan Edo Richardo Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 2025 di Aula Alap-alap, Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (25/7). Mengangkat tema “Tantangan Jurnalis Muslim di Era Disrupsi Digital dan Artificial Intelligence (AI)”, kegiatan ini menjadi wadah konsolidasi dan refleksi atas peran jurnalis Muslim di tengah arus perubahan teknologi […]

  • Kanwil DJKN DKI Jakarta Gelar “Kartini Masa Kini: Cantik Berintegritas dalam Inklusi

    Kanwil DJKN DKI Jakarta Gelar “Kartini Masa Kini: Cantik Berintegritas dalam Inklusi

    • calendar_month Rabu, 23 Apr 2025
    • account_circle
    • visibility 55
    • 0Komentar

    Semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini terus bergema dalam berbagai bentuk hingga hari ini. Semangat perjuangan tersebut tak lagi sebatas simbol emansipasi, peringatan Hari Kartini kini menjadi momentum reflektif untuk mengukur sejauh mana kiprah perempuan Indonesia dalam pembangunan bangsa. HITVBERITA.COM | Jakarta– Hal inilah yang menjadi semangat utama Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (Kanwil DJKN) […]

  • KONFERENSI PERS DIRDIK DAN KAPUSPENKUM TERKAIT KOMODITAS TIMAH BABEL

    KONFERENSI PERS DIRDIK DAN KAPUSPENKUM TERKAIT KOMODITAS TIMAH BABEL

    • calendar_month Jumat, 31 Mei 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 32
    • 0Komentar

    Dibaca: 23

  • Aksi Sosial, Brigpol Yohanes Bedah Rumah Nenek Penjual Daun Pakis

    Aksi Sosial, Brigpol Yohanes Bedah Rumah Nenek Penjual Daun Pakis

    • calendar_month Selasa, 24 Feb 2026
    • account_circle M. Saipul
    • visibility 25
    • 0Komentar

    Perjuangan Maimunah, nenek penjual daun pakis yang tinggal di rumah tak layak huni di Paya Cincin, berbuah perhatian. Brigpol Yohanes Dede tergerak merenovasi tempat tinggalnya hingga lebih layak dihuni. KARIMUN | HITV – Kepedulian terhadap masyarakat kurang mampu kembali ditunjukkan jajaran Polres Karimun. Brigpol Yohanes Dede merenovasi rumah milik Maimunah, seorang nenek penjual daun pakis […]

  • Keterbukaan Prabowo dan Kepalsuan Jokowi

    Keterbukaan Prabowo dan Kepalsuan Jokowi

    • calendar_month Selasa, 8 Apr 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 15
    • 0Komentar

    Oleh: Saiful Huda Ems TANPA sengaja tadi malam saya melihat siaran pertemuan Presiden Prabowo Subianto (PS) dengan 7 jurnalis terkemuka Indonesia, yang disiarkan oleh Tv One. Dalam pertemuan itu terjadi tanya jawab antara Presiden PS dengan 7 jurnalis dengan sangat terbuka, tanpa sensor, tanpa basa-basi. Terus terang kalau saya melihat Pak Prabowo yang sangat terbuka […]

expand_less