Menag Minta Pengawasan Ketat Program Cek Kesehatan Gratis di Lembaga Pendidikan Keagamaan
- account_circle Redaksi
- calendar_month Senin, 4 Agt 2025
- visibility 31
- print Cetak

Menteri Agama Nasaruddin Umar saat memantau program cek kesehatan gratis di Pondok Pesantren Assidiqiyah Jakarta Barat. (Foto/Raffa/HITV)
Penulis Raffa Christ Manalu
Menteri Agama Nasaruddin Umar meminta seluruh Kantor Wilayah dan Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota mengawal pelaksanaan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di satuan pendidikan berbasis keagamaan.
HITVBERITA.COM | Jakarta — Program ini resmi dimulai pada Senin (4/8/2025) dan menjadi bagian dari agenda nasional yang digagas Presiden Prabowo Subianto melalui Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC).
Menurut Nasaruddin, tidak boleh ada satu pun madrasah, pesantren, maupun lembaga pendidikan agama lainnya yang terlewat dari program ini.
Ia juga menegaskan, pengawasan melekat dari para pemangku kepentingan di daerah menjadi kunci sukses implementasi program.
“Kalau nanti saya tahu ada sekolah yang tidak mendapatkan pemeriksaan, saya akan panggil para Kepala Kanwil dan Kakankemenagnya,” ujar Nasaruddin saat meninjau pelaksanaan program di Pondok Pesantren Asshidiqiyah, Jakarta Barat.
Program CKG menyasar seluruh lembaga pendidikan keagamaan di bawah binaan Kementerian Agama. Total peserta didik yang menjadi target layanan mencapai 12.548.995 orang, mencakup siswa madrasah, santri pesantren, hingga peserta didik pendidikan keagamaan Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha.
Rinciannya, sebanyak 9.179.847 siswa tercatat di madrasah; 3.339.536 santri di pondok pesantren; 18.090 siswa pendidikan Kristen; 7.032 siswa pendidikan Katolik; 3.421 siswa pendidikan Hindu (Widyalaya); serta 1.069 siswa pendidikan Buddha (Dhammasekha Formal).
Nasaruddin menyebut, pendekatan inklusif dalam program ini mencerminkan semangat universal ajaran agama.
“Kesehatan adalah bagian dari ibadah. Tidak mungkin kita menjadi hamba yang taat kalau sakit-sakitan, dan tidak mungkin menjadi khalifah yang sukses jika penyakitan,” katanya.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, Murti Utami. (Foto/Raffa/HITV)
Sementara itu, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, Murti Utami, menjelaskan bahwa Program CKG menargetkan 53 juta peserta didik di seluruh Indonesia. Dari jumlah itu, sekitar 12,5 juta peserta berada di bawah binaan Kementerian Agama.
Jenis pemeriksaan disesuaikan dengan jenjang pendidikan. Di tingkat SD atau Madrasah Ibtidaiyah (MI), siswa diperiksa status gizinya, kondisi mata, telinga, gigi, tekanan darah, serta indikasi penyakit seperti tuberkulosis dan diabetes melitus.
Pemeriksaan pada siswa kelas tinggi (kelas 4–6) juga meliputi kebiasaan merokok, aktivitas fisik, hingga edukasi kesehatan reproduksi dan pencatatan riwayat imunisasi.
“Untuk siswa kelas 7 di jenjang SMP atau MTs, kami lakukan skrining gula darah, talasemia, dan anemia, terutama karena anemia berdampak besar di masa depan, termasuk saat anak-anak ini menjadi calon ibu,” kata Murti.
Siswi kelas 9 akan mendapatkan imunisasi HPV sebagai bagian dari pencegahan kanker serviks. Pemeriksaan kesehatan jiwa, penglihatan, pendengaran, dan kesehatan reproduksi tetap dilakukan.
Di tingkat SMA atau Madrasah Aliyah (MA), pendekatan program lebih bersifat preventif. Pemeriksaan mencakup anemia pada remaja putri, hepatitis B dan C, serta kebiasaan merokok.
“Program ini dirancang tak hanya untuk deteksi dini, tetapi juga membentuk kebiasaan hidup sehat sejak dini,” ujar Murti. (///)
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar