Menjaga Jati Diri Betawi di Tengah Dinamika Zaman
- account_circle Redaksi
- calendar_month Senin, 1 Sep 2025
- visibility 36
- print Cetak

Saat sampaikan pesan di acara penutupan raker, Ketua Umum Bamus Betawi, H. Riano P. Ahmad, menekan bahwa perubahan besar status Jakarta yang tidak lagi sebagai Ibu Kota Negara, menurutnya tidak boleh membuat orang Betawi kehilangan jati dirinya. (Foto/Bai/Hitv)
Penulis: Bainana Bahthy
Hawa sejuk Puncak menyambut ratusan peserta Rapat Kerja (Raker) I Badan Musyawarah (Bamus) Betawi Tahun 2025 di Hotel Grand Ussu, Cisarua, yang digelar selama dua hari, yakni dari tanggal 31 Agustus hingga 1 September 2025.
HITVBERITA.COM | Bogor – Dari balik jendela hotel yang menghadap hamparan pepohonan hijau pegunungan, terselip percakapan hangat tentang masa depan Jakarta, juga tentang bagaimana masyarakat Betawi menempatkan diri setelah status Ibu Kota resmi berpindah ke Nusantara.
Ketua Umum Bamus Betawi, H. Riano P. Ahmad, SH, menutup rangkaian raker dengan penekanan bahwa perubahan besar ini tidak boleh membuat orang Betawi kehilangan jati dirinya.
“Sebagai wadah berhimpun masyarakat Betawi, Bamus Betawi berkewajiban menjaga dan mengembangkan peradaban dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai tuntutan zaman, tanpa meninggalkan warisan leluhur,” ujar Riano, disambut tepuk tangan peserta.
Sejak disahkannya Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Ibu Kota Negara, Jakarta tak lagi berstatus daerah khusus. Bagi masyarakat Betawi, regulasi baru ini bukan sekadar pergeseran administrasi, melainkan perubahan yang berimbas luas: ideologi, politik, ekonomi, hingga sosial budaya.
Riano mengingatkan, dalam perubahan itu masyarakat Betawi harus mampu berperan aktif merumuskan arah strategis Jakarta ke depan.
“Budaya Betawi tetap menjadi pilar penting dalam membangun peradaban nasional,” katanya.
RAKER yang berlangsung selama dua hari, 31 Agustus hingga 1 September 2025, dihadiri Majelis Adat Betawi, pimpinan teras Bamus, serta para peserta dari berbagai wilayah.
Sebelum memasuki sidang pleno, peserta mendapat pembekalan dari sejumlah narasumber yang dikenal sebagai ahli di bidangnya. Suasana diskusi berlangsung serius, tetapi juga diwarnai canda khas Betawi yang membuat forum terasa cair.
Di sela raker, para peserta menyempatkan diri saling bertukar pengalaman, mempererat jejaring, dan merajut kembali semangat kolektif.
“Inilah kesempatan untuk menyamakan langkah, agar masyarakat Betawi tidak berjalan sendiri-sendiri,” ujar salah seorang peserta.

Peserta Raker 1 Bamus Betawi perwakilan dari Ormas Kembang Latar. (Foto/Bai/Hitv)
MENJELANG malam penutupan, seluruh peserta berfoto bersama di halaman hotel. Setelah itu, suasana berubah hangat dalam jamuan makan malam bersama.

Tawa, gurauan, dan alunan musik tradisional menjadi penanda bahwa forum yang berlangsung ketat yang digelar selama sepanjang dua hari penuh tersebut, tetap menyisakan ruang keakraban. (Foto/Bai/Hitv)
RENCANANYA, pada Selasa pagi (2 September), rombongan akan bertolak kembali ke Jakarta. Namun pesan yang dibawa dari lokasi Raker yang telah selesai digelar di Hotel Grand Ussu Cisarua Kabupaten Bogor tersebut jelas: masyarakat Betawi ingin berdiri tegak, menjaga adat, dan sekaligus menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman. (///)
Sumber:
Humas MIO Indonesia
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar