Tekan Impor BBM, Pertamina Groundbreaking Dua Proyek Energi Hijau
- account_circle Tata Rusmanto
- calendar_month Sabtu, 7 Feb 2026
- visibility 97
- comment 0 komentar
- print Cetak

Informasi pembangunan pabrik bioethanol di Banyuwangi, Jawa Timur. dok/foto/pertamina
Pertamina menancapkan tonggak baru dalam energi bersih Indonesia. Peerusahaan pelat merah ini memulai pembangunan pabrik bioethanol di Banyuwangi dan memperluas kilang hijau di Cilacap.
JAKARTA | HITV – PT Pertamina (Persero) melakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) dua proyek energi alternatif yang diharapkan dapat membantu Indonesia menekan impor bahan bakar minyak (BBM).
Kedua proyek tersebut meliputi pembangunan pabrik bioethanol di Banyuwangi, Jawa Timur, serta perluasan fasilitas kilang hijau (bio-refinery) di Cilacap, Jawa Tengah. Keduanya merupakan bagian dari groundbreaking proyek hilirisasi Danantara Indonesia fase 1 yang berlangsung pada Jumat (6/2/2026).
Untuk proyek bioethanol di Banyuwangi, Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksono mengatakan, inisiatif ini diharapkan dapat mengurangi impor BBM senilai USD 13,9 juta.
“Upaya Ini akan menekan impor BBM dan menekan emisi karbon. Melalui substitusi impor BBM senilai USD 13,9 juta USD akan dicapai ketahanan energi, Dan melalui pengurangan emisi karbon senilai 66 juta ton CO2,” ujar Agung.
Ia menjelaskan, Pertamina akan mengolah tetes tebu (molase), yang selama ini merupakan residu produksi gula, menjadi bioethanol dengan kapasitas mencapai 30 ribu kiloliter (kl). Bahan baku tersebut akan dipasok dari pabrik gula milik PTPN III di Glenmore, Banyuwangi.
Bioethanol yang dihasilkan nantinya akan dicampur di terminal BBM sebelum didistribusikan ke sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
“Saat ini sudah terdapat 177 SPBU di Pulau Jawa yang menyalurkan Pertamax Green 95, produk Pertamina dengan kandungan ethanol 5 persen, yang merupakan bentuk energi bersih,” tuturnya.
Selain fasilitas bioethanol, Pertamina juga melakukan groundbreaking perluasan proyek kilang hijau di Cilacap. Melalui proyek ini, kapasitas produksi akan ditingkatkan dari 3.000 barel per hari menjadi 6.000 barel per hari.
Direktur Strategi Portofolio dan Pengembangan Usaha Pertamina Emma Sri Martini mengatakan, kilang hijau tersebut akan mengolah minyak jelantah menjadi bahan bakar ramah lingkungan, termasuk bioavtur.
Menurutnya, proyek ini sejalan dengan program hilirisasi pemerintah dan mendukung Asta Cita Presiden RI Prabowo Subianto, khususnya dalam upaya mencapai swasembada energi.
“Ini bisa mengurangi impor dan mengurangi defisit neraca transaksi berjalan. Dan ini juga bisa menghasilkan multiplier effect yang bisa menurunkan karbon emisi,” ujarnya. (tr)
- Penulis: Tata Rusmanto

Saat ini belum ada komentar