Sore Basah, Tawa Hangat: Cerita Langkah Kaiya
- account_circle Redaksi
- calendar_month Minggu, 30 Nov 2025
- visibility 71
- print Cetak

SORE itu, ruang keluarga rumah keluarga Kaiya Asha Faranisha berubah menjadi tempat paling meriah di rumah. Hujan baru saja reda, menyisakan aroma tanah basah yang menyelinap masuk melalui pintu yang sedikit terbuka. Tetesan air masih menurun perlahan dari genteng rumah, sementara cahaya keemasan matahari senja muncul kembali dari balik awan, memantul lembut ke dalam ruangan. Udara sore yang sejuk setelah hujan membuat suasana terasa segar dan hangat sekaligus.
Di tengah ruang keluarga itulah Kaiya, yang akan berusia satu tahun pada tanggal 4 Desember 2025, menunjukkan kembali kemampuan berjalannya, kemampuan yang mulai ia kuasai dua pekan terakhir.
Dengan kaki mungil yang masih sedikit gemetar, Kaiya melangkah dari ibunya menuju anggota keluarga lainnya. Setiap kali ia berhasil menapak, keluarga yang memenuhi ruang keluarga langsung bertepuk tangan. Ada paman, bibi, dan sepupu-sepupu yang heboh bersorak, semuanya seolah tak mau melewatkan momen ini.
Tak lama kemudian, suasana meningkat semakin meriah. Ibunya lalu memulai tradisi nyawer, tradisi sederhana keluarga dan mungkin sebagian orang melakukannya sebagai ungkapan syukur. Ia menggenggam campuran uang koin, uang lembaran kecil, dan permen warna-warni, kemudian menaburkannya tinggi-tinggi ke udara.
Sekejap saja, ruang keluarga pecah oleh sorakan. Keluarga yang berkumpul langsung berebut dengan riang, ada yang tertawa keras saat permen meluncur ke arah mereka, ada yang cepat-cepat menangkap lembaran uang yang mengebar. Sepupu-sepupu kecil berlari ke sana kemari, tangan mereka saling bersilang mencoba meraup koin yang menggelinding di lantai. Suasananya riuh, hangat, dan penuh kegembiraan.
Kaiya sendiri tidak ikut berebut, ia hanya berdiri terpaku, matanya berbinar melihat benda-benda kecil berwarna-warni jatuh di sekitarnya. Kadang ia meraih salah satu permen yang dekat, lalu menepuk-nepuknya sambil tertawa, membuat keluarga semakin gemas melihatnya.
Ibunya, sambil tersenyum haru, memperhatikan bagaimana tradisi kecil itu membuat ruangan yang sederhana berubah menjadi tempat penuh tawa dan kebersamaan. Tradisi ini bukan soal uang atau permen melainkan kegembiraan yang dibagikan bersama saat seorang anak mengambil langkah barunya.
Saat matahari semakin tenggelam, warna oranye senja berpadu dengan sisa awan hujan, memancarkan cahaya lembut ke dalam ruang keluarga. Aroma hujan perlahan memudar, digantikan hangatnya tawa dan obrolan keluarga. Kaiya yang mulai lelah merentangkan tangan kepada ibunya, dan satu per satu anggota keluarga mendekat, mencium pipinya, dan memberi doa kecil bagi langkah-langkah barunya.
Ketika acara selesai, ruang keluarga kembali seperti biasa, namun kehangatan momen itu tetap tertinggal. Dalam kesejukan setelah hujan dan keriuhan tradisi yang penuh cinta, keluarga telah merayakan tahap penting dalam hidup Kaiya dengan cara mereka sendiri: sederhana, meriah, dan penuh kebersamaan.
Sore itu, Kaiya Asha Faranisha tidak hanya melangkah, ia menyatukan seluruh keluarga dalam kebahagiaan yang akan mereka kenang selamanya.
Jakarta, 29 November 2025
Oleh: Syifa Nurmaida (Bibi dari Kaiya Asha Faranisha)
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar