BKAG Tebing Tinggi Akui Tak Dilibatkan dalam Pembentukan Panitia Natal Oikumene
- account_circle Redaksi
- calendar_month Rabu, 5 Nov 2025
- visibility 31
- print Cetak

Sekretaris BKAG Tebing Tinggi, Pdt. Dr. C. Prihatin Kataren, M.Pd, M.Th, (dok/foto/Jhon/Hitv)
Penulis: Jhon P Tobing
Badan Kerja Sama Antar Gereja (BKAG) Kota Tebing Tinggi mengaku tidak pernah diundang maupun dilibatkan oleh Pemerintah Kota dalam pembentukan panitia perayaan Natal Oikumene 2025 yang rencananya digelar pada Desember mendatang.
HITVBERITA.COM | Tebing Tinggi — Kekecewaan itu disampaikan oleh Sekretaris BKAG Tebing Tinggi, Pdt. Dr. C. Prihatin Kataren, M.Pd, M.Th, di kediamannya di Jalan Baja, Kelurahan Damar Sari, Kecamatan Padang Hilir, Rabu (5/11/2025).
“Organisasi BKAG Tebing Tinggi tidak pernah diundang secara resmi dalam pembentukan Panitia Natal Oikumene tahun 2025. Jadi kalau ada yang mengatakan BKAG sudah dilibatkan, itu tidak benar,” ujar Pdt. Kataren.
Menurutnya, hingga saat ini tidak ada surat resmi dari Pemerintah Kota Tebing Tinggi—baik melalui Sekretariat Daerah maupun atas nama Wali Kota—yang ditujukan kepada BKAG. Ia meminta agar informasi publik mengenai pelibatan BKAG tidak disalahartikan.
“Kalau ada orang yang mengatasnamakan BKAG hadir dalam rapat itu, berarti kehadirannya atas nama pribadi atau gereja masing-masing, bukan mewakili BKAG,” tegasnya.
Meski menyesalkan proses yang tidak melibatkan organisasinya, Pdt. Kataren menegaskan bahwa BKAG tetap mendukung pelaksanaan Natal Oikumene sepanjang tujuannya untuk memuliakan Tuhan. Namun, ia berharap setiap langkah koordinasi keagamaan di daerah dilakukan secara terbuka dan menghormati mekanisme yang selama ini telah berjalan.
Tradisi yang Berubah
Lebih jauh, Pdt. Kataren menjelaskan bahwa di Tebing Tinggi terdapat dua lembaga koordinatif yang biasanya terlibat dalam pelaksanaan perayaan Natal Oikumene, yakni BKAG dan BAMAGNAS.
Pada masa kepemimpinan Wali Kota almarhum Umar Zunaidi Hasibuan, kedua organisasi tersebut selalu diundang duduk bersama untuk merumuskan teknis dan kepanitiaan. Namun, karena kerap muncul perbedaan pandangan, disepakati bahwa pelaksanaan perayaan Natal Oikumene dilakukan secara bergantian setiap tahun antara BKAG dan BAMAGNAS.
Tahun ini, lanjutnya, persoalan bukan pada siapa yang menjadi pelaksana, melainkan pada absennya undangan dan koordinasi dengan BKAG.
“Yang menjadi pertanyaan kami sederhana: mengapa kami tidak diundang untuk duduk bersama? Apakah dianggap BKAG Tebing Tinggi sudah tidak ada?” kata Pdt. Kataren.
Harapan untuk Dialog Terbuka
BKAG berharap ke depan Pemerintah Kota Tebing Tinggi dapat kembali menempuh jalur komunikasi yang terbuka dengan seluruh organisasi keagamaan. Perayaan Natal Oikumene, menurut Kataren, seharusnya menjadi ruang pemersatu antarjemaat dan bukan sebaliknya menimbulkan kesalahpahaman di antara lembaga.
“Kita mendukung panitia yang sudah terbentuk. Namun semangat kebersamaan dan transparansi tetap perlu dijaga agar Natal menjadi perayaan bersama, bukan milik satu pihak,” ujarnya menutup perbincangan. (/*/*/)
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar