Catatan dari Jakarta Pusat: Silaturahmi, Integritas, dan Makna Kesederhanaan
- account_circle Redaksi
- calendar_month Senin, 26 Jan 2026
- visibility 88
- print Cetak

Penulis dan Ical Syamsudin, Minggu malam, 25 Januari 2026, di Kawasan Jakarta Barat.
Oleh: AYS Prayogie
PERTEMUAN saya dengan Ical Syamsudin di sebuah kantor Lembaga Bantuan Hukum di bilangan Hayam Wuruk Jakarta Pusat, sungguh menjadi pengalaman yang meninggalkan kesan mendalam. Kendati itu adalah pertemuan pertama kami, suasana yang terbangun jauh dari rasa canggung. Percakapan mengalir hangat, penuh keakraban, seolah mempertemukan dua orang lama yang dipertautkan oleh nilai dan kegelisahan yang sama.
Sejak awal perjumpaan, saya menangkap kesan kuat tentang kepribadian Ical yang terbuka dan familiar. Ia bukan tipe sosok yang membangun jarak. Cara bertuturnya lugas, bahasanya membumi, dan sikapnya mencerminkan kerendahan hati yang lahir dari proses panjang, bukan sekadar citra. Dalam pandangan saya, Ical adalah pribadi yang nyaman menjadi dirinya sendiri—apa adanya, tanpa balutan kemewahan atau kesan glamor.
Nama Ical Syamsudin tentu bukan asing bagi mereka yang mengikuti dinamika aktivisme dan pergerakan sosial. Ia pernah menekuni dunia kewartawanan, terbiasa bergelut dengan isu-isu publik, dan turut merasakan denyut perjuangan di jalanan. Keterlibatannya dalam aktivitas politik, termasuk langkahnya mengikuti kontestasi Musda PAN Jakarta Pusat, saya pandang sebagai bagian dari perjalanan masa lalu yang membentuk karakter dan cara pandangnya hari ini.
Namun dalam pertemuan itu, yang paling menonjol bukanlah ambisi politik atau romantisme masa lalu pergerakan. Ical justru banyak bercerita tentang fokus pengabdiannya saat ini di bidang Lembaga Bantuan Hukum—sebuah pilihan jalan yang menunjukkan keberlanjutan komitmennya terhadap keadilan sosial. Dari sana saya melihat konsistensi: garis lurus antara masa lalu, masa kini, dan nilai yang terus ia pegang.
Ical adalah tipe pejuang yang sensitif terhadap ketidakadilan. Ia berbicara tentang rakyat kecil dengan empati, bukan retorika. Tentang hukum dengan kesadaran moral, bukan sekadar teks normatif. Di titik itu, saya menangkap bahwa pengalaman politik, kewartawanan, dan pergerakan yang pernah ia jalani hanyalah “warna berita” dari sebuah perjalanan panjang, bukan tujuan akhir.
MENJELANG pertemuan berakhir, Ical melontarkan sebuah ujaran sederhana yang secara langsung ia tujukan kepada saya sebagai penulis sekaligus Ketua Umum MIO Indonesia.
Ia berkata, “Kunci kesuksesan itu dimulai dengan memperbanyak silaturahmi.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun bagi saya pribadi, ujaran tersebut sarat makna. Di tengah dunia yang kian kompetitif, penuh kepentingan, dan sering kali bising oleh ambisi, Ical mengingatkan pada satu hal yang paling mendasar: hubungan antarmanusia, keikhlasan dalam berjejaring, dan nilai silaturahmi sebagai fondasi kehidupan sosial.
Saya pulang dari pertemuan itu dengan perasaan hangat. Bukan karena diskusi besar atau wacana politis yang megah, melainkan karena perjumpaan dengan seorang pribadi yang tetap membumi, terbuka, dan setia pada nilai. Ical Syamsudin, bagi saya, adalah contoh bahwa perjalanan hidup—seberliku apa pun—akan selalu menemukan maknanya ketika dijalani dengan kejujuran dan keberpihakan pada kemanusiaan.
Dan mungkin, dari Jakarta Pusat sore itu, saya kembali diingatkan: bahwa perubahan besar kerap bermula dari silaturahmi yang tulus, dan dari percakapan sederhana yang menyentuh nurani. (\•/)
Cijantung, Senin 26 Januari 2026
Penulis adalah Ketua Umum MIO Indonesia | Pemimpin Redaksi Portal Berita HITVberita.com
- Penulis: Redaksi

