Munajat 1.000 Doa: Ketika Harapan dan Kepedulian Bersatu di Ciracas!
- account_circle Redaksi
- calendar_month Rabu, 9 Jul 2025
- visibility 34
- print Cetak

Oleh: AYS PRAYOGIE
Hari itu, Minggu pagi, aula Masjid Baitus Sidqi di kawasan Islamic School PKP Ciracas tampak berbeda dari biasanya. Lebih dari seribu pasang tangan terangkat ke langit, suara doa mengalun pelan namun penuh keyakinan. Tak hanya lantunan spiritual yang terdengar, yang hadir juga merasakan kehangatan solidaritas dalam bentuk yang paling nyata: santunan, sembako, hingga pengumuman keberangkatan umrah bagi para guru agama.
Acara bertajuk “Munajat 1.000 Doa untuk Pemimpin Negeri” ini digagas oleh R. Haidar Alwi, pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute.
Bagi Haidar, munajat ini bukan sekadar doa bersama, tetapi juga ruang bertemu antara kepedulian sosial dan keyakinan spiritual.
“Doa adalah kekuatan terakhir dan pertama kita. Tapi kita juga harus bertindak nyata,” ujar Haidar dalam sambutannya, disambut anggukan dan isak haru dari hadirin.
DALAM suasana yang khidmat, jamaah memulai doa mereka untuk para pemimpin negeri. Nama-nama penting disebut satu per satu, diiringi harapan akan kepemimpinan yang adil, berani, dan bijaksana.
Presiden Prabowo Subianto menjadi sosok pertama yang didoakan. Haidar menyebutnya sebagai pemimpin yang berani memutus ketergantungan lama dan meniti jalan menuju kemandirian nasional.
Kemudian, doa dipanjatkan bagi Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, yang oleh Haidar dinilai sebagai Kapolri terbaik sepanjang masa versi lembaganya. Harapannya, Polri dapat terus dijaga dalam semangat keadilan dan keberanian.
Salah satu doa yang paling panjang dan penuh penghayatan ditujukan kepada Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad. Dikenal sebagai tokoh tenang dan jauh dari sorotan, Dasco digambarkan sebagai negarawan yang bekerja dalam senyap namun berdampak nyata.
“Beliau tidak gaduh, tidak cari panggung. Tapi kerjanya terasa,” ujar Haidar.
USTADZ Wijayanto, penceramah utama, mengingatkan pentingnya menjaga persatuan di tengah perbedaan. Dengan gaya khasnya yang menyelipkan humor dan kehangatan, beliau menekankan bahwa mendoakan pemimpin adalah bagian dari upaya menjaga negeri ini tetap utuh dan kuat.
Tapi acara ini tidak berhenti di tataran spiritual. Haidar Alwi Care menyertakan aksi sosial yang konkret. Program Rakyat Bantu Rakyat telah menyalurkan lebih dari 1,48 juta bantuan ke seluruh penjuru negeri—dan hari itu, puluhan anak yatim dari Ciracas menerima langsung bantuan biaya pendidikan.

Dan, setiap keluarga yang hadir juga mendapatkan 10 kilogram beras premium dan paket sembako, yang dibagikan dengan tertib di akhir acara.
Yang paling menggugah, pengumuman keberangkatan 20 ustadz dan ustadzah ke Tanah Suci untuk menjalankan ibadah umrah.
Mereka berasal dari berbagai pesantren dan madrasah di Jakarta Timur—para pendidik agama yang selama ini bekerja dalam kesunyian, tanpa pamrih, dan sering tanpa sorotan.
MUNAJAT ini juga dirancang untuk mengangkat kekayaan budaya lokal. Iringan hadroh, atraksi pencak silat, serta tradisi palang pintu Betawi memeriahkan acara tanpa mengurangi kekhusyukan.
Acara ini turut melibatkan berbagai elemen masyarakat— Banser dan FBR, serta warga sekitar—yang menjaga keamanan dan ketertiban sejak pagi hingga malam.
Panitia, yang dipimpin oleh Ustadz Ubaydillah Elburhan dari Majelis Masrom Nusantara, disebut Haidar sebagai “pahlawan di balik layar” yang memastikan setiap detik acara berjalan lancar.
DI AKHIR acara, banyak yang enggan beranjak. Tak sedikit yang memeluk satu sama lain, mengusap air mata, atau sekadar duduk merenung dalam keheningan. Mungkin karena hari itu, mereka menemukan sesuatu yang lebih dari sekadar doa atau bantuan. Mereka menemukan harapan.
“Selama rakyat masih saling mendoakan dan membantu, Indonesia akan tetap memiliki harapan,” kata Haidar lirih.
Di tengah gegap gempita politik dan tantangan bangsa yang tak henti datang silih berganti, mungkin kita semua butuh sesekali berhenti sejenak, berkumpul, dan berdoa bersama. Seperti yang dilakukan pagi itu di Ciracas—di mana seribu doa mengudara, membawa serta harapan untuk pemimpin, dan untuk Indonesia. (**)
Cijantung, 9 Juli 2025
Penulis adalah Wartawan Senior | CEO HI-Network | Pemimpin Redaksi Hitvberita.com
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar