Sabtu, 29 Agu 2026
light_mode

Reshuffle Kabinet dan Gagasan “Kabinet NKRI”: Saatnya Daerah Tak Sekadar Menjadi Penonton

  • account_circle AYS Prayogie
  • calendar_month 4 jam yang lalu
  • print Cetak

Wacana reshuffle kabinet tidak semestinya berhenti pada soal siapa yang diganti dan siapa yang dipertahankan.

JAKARTA, HITV Momentum perubahan komposisi pemerintahan juga dapat menjadi kesempatan untuk menjawab persoalan yang lebih mendasar: bagaimana memastikan suara dan kebutuhan daerah benar-benar hadir dalam pengambilan kebijakan di tingkat pusat.

Dari pertanyaan itulah muncul gagasan “Kabinet NKRI”, yakni konsep yang mendorong adanya keterwakilan setiap provinsi melalui figur menteri atau wakil menteri.

Gagasan tersebut disampaikan Dr. Drs. Basa Alim Tualeka, M.Si. dalam tulisannya bertajuk Harapan NKRI untuk Presiden Prabowo. Ia menawarkan konsep tersebut sebagai alternatif pemikiran untuk memperkuat jembatan antara pemerintah pusat dan daerah.

Konsep itu tidak dimaksudkan agar setiap provinsi memperoleh satu kementerian. Menteri tetap bekerja untuk kepentingan nasional dan bertanggung jawab kepada Presiden. Namun, latar belakang kewilayahan pejabat dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat pemahaman pemerintah pusat terhadap persoalan daerah.

Ketika Indonesia Terlalu Sering Dilihat dari Pusat

PERSOALAN hubungan pusat dan daerah tidak selalu berkaitan dengan pembagian kewenangan atau anggaran. Ada persoalan lain yang lebih sulit diukur, yakni jarak antara kebijakan yang dirumuskan di pusat dan realitas yang dihadapi masyarakat di daerah.

Indonesia bukan hanya Jakarta.

Karakter pembangunan di Papua tidak sama dengan Jawa. Persoalan kepulauan di Maluku berbeda dengan Kalimantan. Tantangan pembangunan di Nusa Tenggara memiliki karakter tersendiri, demikian pula Sumatra, Sulawesi, Bali dan wilayah lainnya.

Angka statistik dan laporan birokrasi memang penting. Namun, menurut Basa Alim, pembangunan tidak cukup dipahami melalui angka.

Sejarah, budaya, adat, kondisi geografis, struktur ekonomi, karakter masyarakat, hingga persoalan konektivitas merupakan bagian dari realitas daerah yang perlu dipahami ketika pemerintah pusat menyusun kebijakan.

Di sinilah figur yang memiliki pemahaman terhadap daerah dinilai dapat memainkan peran sebagai jembatan.

Menteri untuk Indonesia, Bukan untuk Provinsi

GAGASAN tersebut sekaligus memiliki batas yang tegas.

Menteri yang berasal dari suatu provinsi tidak boleh berubah menjadi “menteri milik provinsi”. Ia tetap harus berpikir Indonesia-sentris.

Jika seorang menteri berasal dari Maluku, misalnya, tugas utamanya tetap mengurus kepentingan nasional. Namun, ia diharapkan memiliki kepekaan lebih terhadap persoalan pembangunan Maluku dan mampu membawa perspektif tersebut ke dalam pembahasan kebijakan pemerintah.

Prinsip yang ditawarkan sederhana: berasal dari daerah, bekerja untuk Indonesia, tetapi tidak melupakan daerah asal.

Dengan pendekatan itu, keterwakilan wilayah tidak ditempatkan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai instrumen untuk memperkuat integrasi nasional.

Bukan “Jatah” Menteri

PERSOALAN paling krusial dari gagasan tersebut adalah bagaimana mencegahnya berubah menjadi politik pembagian jabatan.

Basa Alim secara eksplisit memberikan batas bahwa “Kabinet NKRI” tidak boleh menjadi kabinet bagi-bagi posisi berdasarkan asal daerah.

Kompetensi, integritas, pengalaman, kepemimpinan, rekam jejak, loyalitas terhadap konstitusi, kemampuan mengelola kementerian dan komitmen terhadap NKRI tetap menjadi ukuran utama.

Asal daerah hanya menjadi salah satu pertimbangan dalam membangun representasi nasional.

Sebab, keterwakilan wilayah tanpa kualitas justru berisiko menghasilkan kabinet yang tidak efektif.

Dengan kata lain, gagasan tersebut menempatkan meritokrasi sebagai fondasi dan keterwakilan wilayah sebagai penguat.

Menghidupkan Kembali Perspektif Daerah

DALAM desain tersebut, menteri atau wakil menteri yang memiliki keterikatan kuat dengan daerah dapat menjadi penghubung berbagai kebutuhan pembangunan.

Mulai dari infrastruktur, pendidikan, kesehatan, investasi, UMKM, pertanian, perikanan dan kelautan, pengembangan sumber daya manusia, konektivitas, pembangunan wilayah tertinggal hingga pengelolaan sumber daya alam.

Persoalan daerah diharapkan tidak berhenti sebagai laporan administratif yang bergerak dari pemerintah kabupaten atau kota ke pemerintah provinsi, lalu ke pemerintah pusat.

Ada pejabat di tingkat pusat yang memahami konteks sosial dan kultural daerah sehingga komunikasi pembangunan dapat berlangsung lebih efektif.

Di titik ini, “Kabinet NKRI” hendak mengubah cara pandang: daerah bukan sekadar penerima kebijakan, tetapi bagian penting dari proses perumusan pembangunan nasional.

DPR dan DPD Tidak Boleh Ditinggalkan

NAMUN, penguatan perspektif daerah melalui kabinet tidak berarti mengurangi peran lembaga legislatif.

Sebaliknya, gagasan tersebut harus ditempatkan dalam kerangka checks and balances.

Presiden dan kabinet menjalankan pemerintahan. DPR RI menjalankan fungsi legislasi, anggaran dan pengawasan. Sementara DPD RI membawa perspektif kewilayahan dalam ruang lingkup kewenangan konstitusionalnya.

Dalam konstruksi tersebut, DPD dinilai perlu semakin diperkuat agar tidak hanya dipandang sebagai pelengkap dalam sistem ketatanegaraan.

Aspirasi daerah, dengan demikian, tidak hanya disampaikan melalui jalur birokrasi eksekutif, tetapi juga melalui jalur politik-konstitusional.

Eksekutif bekerja dan menjalankan pembangunan. DPR mengawasi sekaligus menjalankan fungsi politik konstitusionalnya. DPD memperkuat artikulasi kepentingan daerah.

Ketiganya bekerja dalam koridor konstitusi dengan fungsi yang berbeda.

Reshuffle Bukan Sekadar Ganti Orang

GAGASAN “Kabinet NKRI” pada akhirnya membawa persoalan reshuffle ke tingkat yang lebih substantif.

Pergantian menteri seharusnya tidak hanya dilihat dari konfigurasi politik atau pergantian figur. Pertanyaan yang lebih penting ialah apakah perubahan tersebut mampu menghasilkan pemerintahan yang lebih efektif dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Setiap menteri semestinya memiliki target yang jelas. Setiap program harus dapat diukur. Anggaran harus menghasilkan manfaat. Dan keberhasilan pembangunan tidak boleh hanya diukur dari perspektif pusat.

Bagi Basa Alim, reshuffle dapat menjadi momentum untuk menggeser orientasi kabinet dari sekadar konfigurasi politik menuju kabinet kinerja yang memiliki perspektif kebangsaan dan kewilayahan.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa gagasan tersebut tetap harus tunduk pada konstitusi, undang-undang mengenai kementerian negara, prinsip efisiensi organisasi dan sistem merit.

Dari Sabang sampai Merauke

BAYANGAN tentang “Kabinet NKRI” pada dasarnya berangkat dari sebuah kegelisahan: apakah seluruh wilayah Indonesia telah memiliki ruang yang cukup untuk menyampaikan realitasnya di pusat kekuasaan?

Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Bengkulu, Lampung, Kepulauan Bangka Belitung dan Kepulauan Riau memiliki persoalan masing-masing.

Begitu pula Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua.

Keterwakilan tersebut bukan untuk membangun kabinet yang terkotak-kotak berdasarkan provinsi. Sebaliknya, seluruh figur yang masuk kabinet harus melebur dalam satu kepentingan: Indonesia.

Karena itu, gagasan tersebut dirumuskan dalam sebuah slogan:

“Satu Presiden, Satu Kabinet, Satu Indonesia.”

Gagasan yang Masih Membutuhkan Perdebatan

TENTU, gagasan “satu provinsi satu menteri atau wakil menteri” bukan tanpa persoalan.

Jumlah kementerian dan wakil menteri, kebutuhan organisasi, efektivitas birokrasi, batas kewenangan, sistem merit serta potensi munculnya politik representasi wilayah harus dikaji secara serius.

Ada pula pertanyaan mendasar: apakah keterwakilan daerah harus selalu diwujudkan melalui posisi menteri atau wakil menteri, atau justru dapat diperkuat melalui mekanisme lain seperti penguatan DPD, desentralisasi fiskal, koordinasi antar pemerintahan dan mekanisme partisipasi daerah dalam perumusan kebijakan nasional?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut justru menunjukkan bahwa gagasan “Kabinet NKRI” lebih tepat diperlakukan sebagai bahan diskusi nasional, bukan sebagai formula yang sudah final.

Yang terpenting ialah bagaimana memastikan kebijakan nasional tidak kehilangan hubungan dengan realitas masyarakat di daerah.

Bukan Pusat Melawan Daerah

Pada akhirnya, gagasan ini membawa pesan politik yang lebih luas.

“Indonesia tidak membutuhkan pusat yang kuat dengan daerah yang hanya menunggu. Indonesia membutuhkan pusat yang kuat sekaligus mampu hadir dan mendengar daerah.

Daerah juga tidak semestinya ditempatkan hanya sebagai objek pembangunan. Daerah harus menjadi subjek yang ikut menentukan arah pembangunan nasional.

Sebab NKRI bukan sekadar konsep administratif. Ia merupakan kesatuan politik, sosial, ekonomi dan kebangsaan yang dibangun dari keberagaman wilayah.

Karena itu, bila reshuffle kabinet benar-benar menjadi agenda, pertanyaan yang layak diajukan bukan semata-mata siapa yang masuk dan siapa yang keluar.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: kabinet seperti apa yang dibutuhkan Indonesia?

Gagasan “Kabinet NKRI” menawarkan satu jawaban: kabinet yang memiliki kapasitas nasional, tetapi tidak kehilangan akar kewilayahan; kabinet yang berasal dari berbagai daerah, tetapi bekerja untuk seluruh Indonesia; serta kabinet yang menempatkan kompetensi dan integritas di atas kepentingan politik jangka pendek.

Pada akhirnya, bukan Jawa untuk Indonesia, bukan Sumatra untuk Indonesia, bukan Papua untuk Indonesia, dan bukan Maluku untuk Indonesia.

Seluruh daerah adalah Indonesia, dan seluruh Indonesia adalah NKRI.

Itulah gagasan yang ditawarkan Basa Alim: berasal dari daerah, bekerja untuk bangsa, dan mengabdi kepada seluruh rakyat Indonesia. (\•/)

Editor: AYS Prayogie
Sumber: Divisi Humas MIO Indonesia

  • Penulis: AYS Prayogie

Rekomendasi Untuk Anda

  • Posko Angkutan Udara Lebaran 2025 di Bandara Hanandjoeddin Resmi Ditutup

    Posko Angkutan Udara Lebaran 2025 di Bandara Hanandjoeddin Resmi Ditutup

    • 2Komentar

    Posko Angkutan Udara Lebaran 2025/1446 H di Bandara H.AS. Hanandjoeddin, Tanjungpandan, resmi ditutup melalui apel penutupan yang digelar pada Jumat (11/4/2025) pagi. Apel berlangsung di Gedung Kedatangan Internasional dan dipimpin General Manager Bandara H.AS. Hanandjoeddin, Hernindya Arie Setyawan. HITVBERITA.COM | Belitung- Pada kegiatan apel tersebut dihadiri oleh sejumlah instansi terkait, termasuk TNI AU Lanud ASH, […]

  • PSI dan Klinik Abang Ijo Gelar Pemeriksaan Mata Gratis di Purwakarta!

    PSI dan Klinik Abang Ijo Gelar Pemeriksaan Mata Gratis di Purwakarta!

    • 0Komentar

    Ratusan Warga Purwakarta Antusias Mengikuti Kegiatan Pemeriksaan Mata Gratis yang Diselenggarakan Oleh Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Bekerja Sama Dengan Klinik Abang Ijo dalam Program Bertajuk “Mata Sehat Untuk Indonesia” HITVBERITA.COM | Purwakarta– Kegiatan ini berlangsung di Klinik Abang Ijo yang berlokasi di Harper By Aston Hotel, Jalan Raya Bungursari, Purwakarta, Sabtu (12/4/2025). Program ini ditujukan […]

  • Imigrasi Kepri dan ICA Singapura Perkuat Kerja Sama Pengawasan Perbatasan

    Imigrasi Kepri dan ICA Singapura Perkuat Kerja Sama Pengawasan Perbatasan

    • 0Komentar

    Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Kepulauan Riau terus memperkuat sinergi dengan otoritas keimigrasian Singapura di tengah tingginya mobilitas orang dan lalu lintas lintas batas di kawasan perairan yang menghubungkan kedua negara. BATAM, HITV— Upaya tersebut diwujudkan melalui kunjungan kerja jajaran Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Kepulauan Riau ke Immigration & Checkpoints Authority (ICA) Singapura, Jumat […]

  • Aksi Pencurian Terekam CCTV, 3 Kawanan Pencuri Pasir Timah Di KIP PT. Timah Diringkus Dit Polairud Polda Babel

    Aksi Pencurian Terekam CCTV, 3 Kawanan Pencuri Pasir Timah Di KIP PT. Timah Diringkus Dit Polairud Polda Babel

    • 1Komentar

    HiTvBerita.com | Babel – Tim Subdit Gakkum Polairud Polda Bangka Belitung berhasil mengamankan 3 orang kawanan pencuri pasir timah di Kapal Isap Produksi (KIP) milik PT. Timah. Ketiga pelaku yang diamankan yakni Pu (34), Ba (42) dan On (34). Ketiganya merupakan warga Belinyu Kabupaten Bangka. Kabid Humas Polda Bangka Belitung Kombes Pol Fauzan Sukmawansyah mengatakan […]

  • Kun Wardana Terpilih Aklamasi Pimpin IPJI 2025–2030

    Kun Wardana Terpilih Aklamasi Pimpin IPJI 2025–2030

    • 0Komentar

    Reporter: Budiman Sihombing Musyawarah Nasional ke-V Ikatan Penulis dan Jurnalis Indonesia (IPJI) menetapkan Kun Wardana sebagai Ketua Umum periode 2025–2030. Pemilihan yang berlangsung di Jakarta pada Senin (27/10/2025) itu dilakukan secara aklamasi, mencerminkan kepercayaan penuh peserta terhadap kepemimpinan Kun. HITVBERITA.COM |  Jakarta —Mengusung tema “Penulis dan Jurnalis Menuju Indonesia Emas”, Munas IPJI kali ini dihadiri […]

  • Menjelang Kongres Persatuan, PWI Jabar Imbau Waspadai Proposal dari Plt PWI Subang

    Menjelang Kongres Persatuan, PWI Jabar Imbau Waspadai Proposal dari Plt PWI Subang

    • 0Komentar

    Penulis: Mangasih Saor Marulitua Sipahutar Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Jawa Barat mengimbau seluruh pemangku kepentingan, baik dari unsur pemerintah daerah, TNI/Polri, maupun kalangan BUMN, BUMD, dan swasta, agar tidak melayani aktivitas surat-menyurat maupun proposal yang dikeluarkan oleh Pelaksana Tugas (Plt) PWI Kabupaten Subang. HITVBERITA.COM | Subang — Imbauan tersebut disampaikan oleh Kepala Bidang […]

expand_less