Sabtu, 25 Jul 2026
light_mode

Jangan Bangun Kampus Baru, Bangunlah Masa Depan Anak Bangsa

  • account_circle Prof Dr Nandan Limakrisna, ST, MT
  • calendar_month 9 jam yang lalu
  • print Cetak

Oleh: Prof. Dr. Nandan Limakrisna

Pendidikan tinggi selama ini dipandang sebagai jalan utama menuju kehidupan yang lebih baik. Setiap tahun jutaan keluarga Indonesia menginvestasikan harapan, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit demi memastikan anak-anak mereka dapat mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Ada yang menjual aset, menggadaikan harta, hingga meminjam dana agar putra-putrinya memperoleh gelar sarjana. 

Harapan itu sederhana: setelah lulus, mereka dapat bekerja secara layak, mandiri secara ekonomi, dan berkontribusi bagi pembangunan bangsa.

Namun realitas sering kali berkata lain.

Tidak sedikit lulusan perguruan tinggi yang harus menunggu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun untuk memperoleh pekerjaan. Sebagian akhirnya bekerja pada bidang yang sama sekali tidak berkaitan dengan disiplin ilmu yang dipelajarinya selama kuliah.

Ironisnya, pada saat yang sama banyak perusahaan, BUMN, kementerian, lembaga pemerintah, hingga pemerintah daerah justru mengaku kesulitan memperoleh tenaga kerja yang benar-benar siap pakai. Pegawai baru masih harus mengikuti berbagai pelatihan dasar sebelum mampu menjalankan tugas secara optimal.
Di sinilah paradoks pendidikan tinggi Indonesia terlihat begitu nyata.

Perguruan tinggi menghasilkan lulusan yang belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, sementara pengguna lulusan harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membentuk kompetensi yang seharusnya dapat dipersiapkan sejak mahasiswa masih berada di bangku kuliah.

Apresiasi terhadap Gagasan, Bukan Berarti Tanpa Catatan

Ketika pemerintah menggagas pembentukan Universitas Republik Indonesia (URI), semangat yang melatarbelakanginya tentu patut diapresiasi. Upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia merupakan investasi jangka panjang yang sangat penting bagi masa depan bangsa.

Namun demikian, muncul sebuah pertanyaan yang layak dipertimbangkan.

Mengapa harus membangun institusi baru apabila Indonesia sesungguhnya telah memiliki ribuan perguruan tinggi yang siap diberdayakan?

Saat ini Indonesia memiliki ribuan perguruan tinggi negeri maupun swasta, jutaan mahasiswa aktif, ratusan ribu dosen, laboratorium, pusat penelitian, jaringan akademik, hingga infrastruktur pendidikan yang telah tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia.

Seluruh aset tersebut merupakan modal nasional yang nilainya sangat besar.

Daripada membangun ekosistem baru yang membutuhkan biaya, waktu, regulasi, serta sumber daya yang tidak sedikit, bukankah akan jauh lebih efektif apabila seluruh potensi tersebut diperkuat dan diintegrasikan dalam sebuah sistem nasional pengembangan sumber daya manusia?

Saatnya Pendidikan Berbasis Kebutuhan Nyata

Sudah saatnya paradigma pendidikan tinggi bergeser dari sekadar menghasilkan lulusan menjadi menghasilkan talenta yang benar-benar dibutuhkan.

Konsepnya sesungguhnya sederhana.

Setiap kementerian, lembaga negara, pemerintah daerah, BUMN, perusahaan swasta, rumah sakit, industri manufaktur, sektor digital, perbankan, hingga koperasi besar menyampaikan kebutuhan tenaga kerja mereka untuk lima hingga sepuluh tahun ke depan.

Berdasarkan kebutuhan tersebut, perguruan tinggi bersama mitra industri menyusun kurikulum, menentukan standar kompetensi, menghadirkan praktisi sebagai dosen, menyediakan tempat magang, hingga melakukan evaluasi secara bersama-sama.

Dengan demikian, mahasiswa tidak lagi hanya belajar teori di ruang kelas.

Mereka dipersiapkan sejak awal sebagai calon profesional yang memahami kebutuhan nyata dunia kerja.
Pendidikan menjadi lebih relevan karena apa yang dipelajari memiliki keterkaitan langsung dengan kompetensi yang akan digunakan setelah lulus.

Investasi Pendidikan Harus Dilakukan dari Hulu

Selama ini banyak instansi pemerintah maupun perusahaan mengalokasikan anggaran pelatihan yang besar setelah pegawai diterima bekerja.

Padahal sebagian anggaran tersebut sesungguhnya dapat dialihkan menjadi investasi pendidikan sejak calon tenaga kerja masih berada di perguruan tinggi.

Pendekatan ini jauh lebih efisien.

Alih-alih memperbaiki kompetensi setelah seseorang menjadi pegawai, negara dan dunia usaha dapat bersama-sama membangun kompetensi tersebut sejak proses pendidikan berlangsung.
Artinya, investasi dilakukan di hulu, bukan di hilir.

Dampaknya tentu jauh lebih besar.

Mahasiswa memperoleh pengalaman nyata sebelum lulus.

Perguruan tinggi memperoleh kemitraan yang kuat.

Perusahaan mendapatkan tenaga kerja yang siap bekerja.

Sementara pemerintah memperoleh sumber daya manusia yang lebih produktif tanpa harus mengeluarkan biaya pelatihan dasar yang berulang.

Perguruan Tinggi Harus Bersaing dalam Kualitas Lulusan

Kolaborasi nasional seperti ini akan menciptakan ekosistem pendidikan tinggi yang sehat.

Calon mahasiswa tidak lagi hanya mempertimbangkan popularitas sebuah kampus, tetapi juga memperhatikan rekam jejak kampus tersebut dalam membangun kemitraan dengan dunia usaha dan tingkat keberhasilan alumninya memperoleh pekerjaan.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan perguruan tinggi bukan lagi sekadar jumlah mahasiswa baru atau banyaknya wisudawan setiap tahun.

Ukuran yang lebih relevan adalah kualitas lulusan, tingkat penyerapan tenaga kerja, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan industri, serta kontribusinya terhadap pembangunan nasional.

Kompetisi antarkampus pun akan berubah menjadi kompetisi dalam menghasilkan lulusan terbaik.
Inilah kompetisi yang sesungguhnya dibutuhkan Indonesia.

Indonesia Memerlukan Kolaborasi, Bukan Sekadar Institusi Baru

Masa depan pendidikan tinggi Indonesia tidak cukup dibangun dengan menambah jumlah institusi.

Yang lebih penting adalah membangun sistem yang mampu menghubungkan ruang kuliah dengan kebutuhan dunia kerja secara langsung.

Kampus, pemerintah, dunia usaha, dunia industri, serta masyarakat harus berada dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.

Pendidikan tinggi harus menjadi bagian dari strategi pembangunan nasional, bukan sekadar tempat memperoleh ijazah.

Keberhasilan pendidikan tidak lagi cukup diukur dari jumlah lulusan, tetapi dari kemampuan para lulusan tersebut menciptakan nilai tambah, menghadirkan inovasi, membuka lapangan pekerjaan, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Membangun Jembatan Menuju Masa Depan

Indonesia memiliki seluruh modal untuk mewujudkan transformasi tersebut.

Yang diperlukan bukan sekadar membangun kampus baru, melainkan membangun jembatan yang kokoh antara dunia pendidikan dan dunia kerja.

Apabila pemerintah mampu mengorkestrasi kemitraan nasional antara perguruan tinggi, kementerian, lembaga negara, pemerintah daerah, BUMN, dan sektor industri, maka Indonesia akan memiliki sistem pendidikan tinggi yang lebih efisien, lebih adaptif, lebih relevan, dan lebih berdampak.

Karena pada akhirnya, masyarakat tidak hanya mencari selembar ijazah.

Mereka sedang mencari masa depan.

Dan masa depan itu tidak dibangun oleh gedung-gedung baru semata.

Masa depan dibangun melalui kolaborasi, keberanian mengubah paradigma, dan komitmen bersama untuk memastikan bahwa setiap lulusan perguruan tinggi benar-benar siap berkarya bagi Indonesia. (\•/)

________________________________________
*) Nandan Limakrisna adalah Guru Besar Ilmu Manajemen di Universitas Persada Indonesia YAI (UPI YAI) yang menaruh perhatian pada kajian strategi bisnis, pemasaran, serta pengembangan ekonomi berbasis komunitas. Ia aktif menulis dan memberikan pemikiran mengenai pemberdayaan UMKM, model bisnis kolaboratif, dan penguatan ekonomi rakyat. Melalui berbagai tulisan dan forum akademik, ia juga memperkenalkan konsep Snowball Business Model (SBM) sebagai pendekatan pengembangan ekosistem ekonomi komunitas. Pemikirannya banyak menyoroti pentingnya sinergi antara industrialisasi nasional dan ekonomi rakyat dalam pembangunan ekonomi Indonesia.

  • Penulis: Prof Dr Nandan Limakrisna, ST, MT

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gubernur Agustiar Sabran Hadiri Pisah Sambut Kajati Kalteng

    Gubernur Agustiar Sabran Hadiri Pisah Sambut Kajati Kalteng

    • 0Komentar

    Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran menghadiri acara pisah sambut Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Kalimantan Tengah yang berlangsung di Aula Jayang Tingang, Kompleks Kantor Gubernur Kalteng, Jumat (5/12/2025). PALANGKA RAYA | HITV — Acara ini menandai berakhirnya masa tugas Agus Sahat ST Lumban Gaol sebagai Kajati Kalteng dan sekaligus penyambutan pejabat baru, Nurcahyo Jungkung Madyo. Agus […]

  • Kegiatan Safari Ramadhan Pemerintah Kabupaten Belitung Tahun 1446 Hijriah Resmi Ditutup Wabup!

    Kegiatan Safari Ramadhan Pemerintah Kabupaten Belitung Tahun 1446 Hijriah Resmi Ditutup Wabup!

    • 0Komentar

    Pemerintah Kabupaten Belitung resmi menutup rangkaian Safari Ramadhan Tahun 1446 H/2025 M pada hari Jum’at, 21 Maret 2025. Acara penutupan berlangsung di Rumah Dinas Wakil Bupati Belitung, Jalan Seroja, Kelurahan Parit, Kecamatan Tanjungpandan. HITVBERITA.COM | Belitung – Acara penutupan dimulai pada pukul 17.15 WIB, diawali dengan kedatangan rombongan yang terdiri dari Bupati Belitung H. Djoni […]

  • APJII Kepri Rakerwil dan Halalbihalal, Dorong Sinergi Percepat Transformasi Digital

    APJII Kepri Rakerwil dan Halalbihalal, Dorong Sinergi Percepat Transformasi Digital

    • 0Komentar

    Dewan Pimpinan Wilayah Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (DPW APJII) Provinsi Kepulauan Riau menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) yang dirangkaikan dengan kegiatan halalbihalal di Hotel Planet Batam, Kamis (23/4/2026). BATAM, HITV— Agenda ini tak sekadar menjadi forum konsolidasi organisasi, tetapi juga momentum memperkuat kolaborasi antaranggota dalam menghadapi tantangan percepatan transformasi digital di wilayah Kepulauan Riau. […]

  • Pj Walikota Jakarta Timur, Buka Festival Topeng Betawi Jilid 2

    Pj Walikota Jakarta Timur, Buka Festival Topeng Betawi Jilid 2

    • 0Komentar

    Topeng Betawi adalah salah satu tarian adat masyarakat Betawi, yang menggunakan topeng sebagai ciri khasnya. Tari topeng Betawi ini, awalnya dipentaskan secara berkeliling oleh para seniman. Dan, mereka biasanya diundang sebagai pengisi acara hiburan dalam acara tertentu. Topeng Betawi ini merupakan gabungan pertunjukkan, yang melibatkan penari, musik, narasi, lagu, dialog dan juga komedi. (Dok/Foto/Cie Amie/Abdul […]

  • Sekjen LAKRI Soroti Jakarta Fair 2026: HTM Mahal, PRJ Dinilai Tak Lagi Mencerminkan Pesta Rakyat

    Sekjen LAKRI Soroti Jakarta Fair 2026: HTM Mahal, PRJ Dinilai Tak Lagi Mencerminkan Pesta Rakyat

    • 0Komentar

    Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Lembaga Anti Korupsi Republik Indonesia (LAKRI), Ical Syamsudin, S.Sos, SH, menyoroti penyelenggaraan Jakarta Fair Kemayoran atau Pekan Raya Jakarta (PRJ) 2026 yang dinilainya telah bergeser dari semangat awal sebagai pesta rakyat. JAKARTA, HITV – Menurut Ical, tingginya harga tiket masuk (HTM) serta berbagai biaya tambahan yang harus dikeluarkan pengunjung […]

  • Kunker ke Purwakarta, Mendag Temui Puluhan Pelaku Usaha UMKM

    Kunker ke Purwakarta, Mendag Temui Puluhan Pelaku Usaha UMKM

    • 0Komentar

    Purwakarta | Didampingi sejumlah pejabat di lingkungan Pemkab Purwakarta. Menteri Perdagangan (Mendag) RI Zulkifli Hasan melakukan kunjungan kerja dengan menemui pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Pertemuan dengan puluhan pelaku UMKM itu berlangsung di Galeri Menong, Kelurahan Ciseureuh, pada Jumat, 21 Juni 2024. Menteri yang kerap disapa Zulhas itu […]

expand_less